Menuju konten utama

Harga Emas Mahal, Calon Pengantin Cari Alternatif Mahar

Lonjakan harga emas memaksa calon pengantin menambah dana mas kawin atau memilih mahar alternatif seperti perhiasan dengan kadar emas lebih rendah.

Harga Emas Mahal, Calon Pengantin Cari Alternatif Mahar
Petugas mengecek harga emas batangan pada Bazar Emas Pegadaian di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (30/1/2026). Bazar Emas bertajuk Festival Tring yang digelar Perum Pegadaian itu diselenggarakan sebagai sarana promosi produk pegadaian dan upaya membantu masyarakat mendapatkan emas baik batangan maupun perhiasan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/rwa.

tirto.id - Harga emas yang terus merangkak naik belakangan ini memaksa banyak calon pasangan suami istri memutar otak. Kenaikan harga logam mulia tersebut membuat sejumlah rencana pernikahan harus disesuaikan, bahkan sebagian aspek terpaksa dikorbankan.

Perempuan asal Tangerang, Lydia Francisca (25), mengaku mulai serius memikirkan dampak kenaikan harga emas sejak pertengahan 2025. Maklum, harga emas memang menunjukkan tren kenaikan stabil sejak tahun sebelumnya.

Padahal, Lydia dan calon suaminya telah merencanakan pernikahan sejak 2024. Namun, lonjakan harga emas membuat mereka mengubah prioritas. Alih-alih memikirkan lokasi pernikahan, Lydia justru lebih fokus mencari cincin yang sesuai dengan selera dan anggaran.

"Sayangnya, kami punya taste yang agak beda, tapi gampang sebetulnya. Me as a bride enggak suka cincin ada matanya. Jadi, enggak butuh diamond ring kayak yang trend sekarang. Kami suka bentuk cincinnya unik atau polos punya motif arsir unik," ucapnya kepada Tirto.id, Jumat (30/1/2026).

"Sayangnya, cari cincin yang enggak ada matanya untuk cewe susah banget. Berkali-kali kita dateng ke wedding exhibition, [penjual] tetap enggak mau provide cincin tanpa mata," sambung dia.

Harga emas perhiasan meningkat di Aceh

Pedagang memperlihatkan emas perhiasan di salah satu tempat penjualan emas murni, Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (26/1/2026). Pedagang emas mengaku, sejak sepekan terakhir harga emas perhiasan 22 karat (emas london) melonjak naik dari Rp8 juta per mayam atau 3,3 gram menjadi Rp9 juta per mayam disebabkan kondisi ekonomi global yang tidak stabil serta penguatan harga emas dunia. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz.

Kesulitan menemukan cincin yang sesuai membuat Lydia harus mencari lebih lama. Hingga akhirnya, pada Desember 2025, ia menemukan sebuah toko emas di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat.

Di toko tersebut, Lydia sebenarnya berniat membeli cincin berwarna emas untuk dirinya dan calon suami. Namun, cincin dengan warna tersebut tidak tersedia. Ia pun akhirnya memilih cincin berwarna kuning.

Kekhawatiran sempat muncul ketika hendak membayar. Lydia sempat menduga harga dua cincin tersebut akan sangat mahal. Namun, ia justru terkejut karena harga yang ditawarkan jauh di bawah perkiraannya.

"Kami kaget harganya cuman sekian juta. Ternyata itu emas muda alias 10 karat. Selama ini kan kami beli emas itu selalu emas tua di 17 karat," ucapnya.

"Kami diskusi di situ, gimana nih, kami udah susah payah cari cincin, ada yang cocok, tapi emas muda dan [berwarna] kuning," sambung dia.

Setelah berdiskusi, Lydia akhirnya memutuskan membeli cincin emas 10 karat tersebut. Alasannya sederhana: harga emas muda jauh lebih terjangkau dibandingkan emas 17 karat atau 24 karat. Sisa anggaran yang semula dialokasikan untuk cincin pun bisa dialihkan ke kebutuhan lain.

Seiring keputusan itu, Lydia mengaku tak lagi terlalu mempersoalkan kadar karat cincin pernikahannya. "Kami berdua deal, beli emas muda. Jauh lebih murah dan seenggaknya dua-duanya emas. Sisa uang yang udah di-budget-in buat cincin, bisa kami alihin ke yang lain," sebutnya.

"Ini bener-bener bisa neken budget. Ibu-ibu banyak banget juga yang bilang, ya udah enggak masalah emas muda, enggak sejomplang itu sama emas tua kok," lanjut Lydia.

Kekhawatiran Lydia soal harga emas sejalan dengan data indeks harga konsumen (IHK) nasional yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS). Hingga akhir Januari lalu, harga perhiasan di dalam negeri masih jadi faktor pengerek inflasi seiring dengan terus merangkaknya harga emas di pasar internasional.

Meski secara bulanan Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen, emas perhiasan justru tercatat menyumbang andil inflasi sebesar 0,16 persen dan menjadi salah satu pendorong inflasi pada komponen inti.

Artinya, di tengah turunnya harga sejumlah kebutuhan pangan akibat panen raya serta penyesuaian harga BBM non-subsidi dan tarif listrik yang relatif stabil, harga emas bergerak berlawanan arah. Tekanan harga ini membuat emas kian mahal bagi konsumen, termasuk pasangan muda yang tengah mempersiapkan pernikahan.

Tak hanya Lydia, kekhawatiran serupa juga dirasakan Yusuf Ramdhani (27). Pria asal Bekasi itu mengaku kesulitan menemukan cincin nikah yang sesuai dengan kondisi keuangannya dan calon istri. Yusuf berencana menikah pada awal 2027.

Meski waktu pernikahan masih cukup lama, kenaikan harga emas membuat Yusuf mulai mencari cincin sejak akhir 2025. Hingga kini, ia mengaku belum menemukan cincin dengan harga yang benar-benar terjangkau.

"Kalau plan nikah sebenarnya masih awal tahun depan, tapi kan harga emas emang naik terus dari tahun lalu, jadi dari tahun lalu juga udah mulai cari-cari cincin," ucapnya kepada Tirto.

Yusuf mengaku sempat mendapat saran dari keluarga untuk membeli cincin perak untuk dirinya dan cincin emas 17 karat untuk calon istrinya. Namun, menurutnya, harga cincin emas 17 karat masih tergolong mahal.

Sebagai alternatif, Yusuf mempertimbangkan untuk membeli cincin emas 10 karat bagi calon istrinya, dengan gramasi yang disesuaikan dengan kemampuan finansial mereka.

Menurut Yusuf, calon istrinya sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kadar karat maupun berat cincin. Meski begitu, ia tetap ingin memberikan yang terbaik.

"Kan ini pasti cuma satu kali [pernikahan], jadi maunya pasti yang terbaik [untuk calon istrinya]. Emas 10 karat emang kepikiran buat dibeli, yang emang jauh lebih murah daripada [emas] 24 karat," tuturnya.

Pilihan pasangan muda untuk menurunkan kadar karat atau bahkan mempertimbangkan alternatif lain sejatinya tidak bertentangan dengan prinsip pernikahan dalam Islam. Sebab, menurut Direktur Pusat Studi Agama dan Perdamaian (ICRP), Ahmad Nurcholis, mahar tidak pernah disyaratkan harus berupa emas.

Mahar untuk mempelai wanita dapat diberikan dalam bentuk lain seperti uang, barang berharga lain seperti buku atau peralatan rumah tangga, bahkan sesuatu yang bersifat nonmateri selama memiliki manfaat bagi pihak perempuan.

“Prinsip mahar itu sesuatu yang bisa dimanfaatkan oleh istri kelak. Karena itu, mahar tidak harus selalu berupa barang atau materi. Mengajarkan membaca Al-Qur’an atau ilmu lain yang bisa digunakan juga sah dijadikan mahar,” ujar Nurcholis, yang telah banyak mendampingi proses akad nikah sekaligus pencatatan pernikahan, khususnya untuk pasangan beda agama.

Penggunaan emas sebagai mas kawin sendiri merupakan tradisi yang berakar pada sejarah yang panjangsejak awal masuknya Islam ke Indonesia, sekitar abad ke-7 Masehi atau awal abad pertama Hijriah. Praktik ini mula-mula berkembang di wilayah Aceh dan Minangkabau, sebelum kemudian menyebar ke Jawa dan daerah lain, dan bertahan hingga hari ini.

Kebertahanan tradisi tersebut, kata Nurcholis, bukan semata karena faktor harga emas yang pada masa lalu relatif lebih murah. “Bukan soal harga sebenarnya, tapi lebih pada kegemaran masyarakat terhadap emas,” ujarnya.

Sementara itu, penjaga salah satu toko di Cikini Gold Center, Nadia (nama disamarkan), mengatakan emas muda atau emas 10 karat memang menjadi salah satu opsi yang banyak dipilih calon pengantin.

Menurut dia, emas muda justru memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi pembeli perempuan. Selain lebih terjangkau, emas 10 karat juga lebih mudah dibentuk.

"Emas 10 karat ini kan lebih murah, sekarang emas lagi mahal, emang lebih banyak yang cari [emas 10 karat]. Dia buat nahan permata juga lebih mudah, lebih gampang dibentuk [untuk meletakkan permata]," tuturnya.

Baca juga artikel terkait MAHAR atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana