'Gue Anak Radio' dan Industri Radio yang Masih Tinggi Peminat

Inaugurasi Mahaka Group Gue Anak Radio S2 Part 3. tirto.id/Dea Chadiza
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 14 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
57 persen dari total penggemar radio berasal dari Generasi Z dan milenial. Artinya, industri radio masih punya masa depan.
tirto.id - “Radio itu buat saya teman hidup sehari-hari. Selalu ada, selalu menemani, enggak pernah berpaling,” jawab Akbar sumringah saat ditanya apa arti radio bagi dirinya.

Romantisme terpancar dari pria berusia 27 tahun itu saat menceritakan dirinya yang merupakan pendengar setia siaran radio. Pekerjaan Akbar sebagai pekerja event organizer dan pengemudi taksi online di jalanan padat Jakarta membuatnya akrab dengan siaran dan lagu-lagu yang diputar di radio kesayangan.

Pemilik kumis dan janggut tipis ini tidak ragu mengklaim dirinya sebagai ‘Gue Anak Radio’. Karena itu, dengan antusiasme dan optimisme yang tinggi, Akbar mendaftar sebagai peserta ‘Gue Anak Radio’ season 2 yang diselenggarakan Mahaka Radio Integra mulai Sabtu (5/10/2019).

Akbar hanya satu dari sekitar 6.000 peserta inaugurasi ‘Gue Anak Radio’ season 2 yang pada hari itu memenuhi stadion indoor Mahaka Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ribuan pesaing tak menyiutkan nyali Akbar untuk menunjukkan potensi diri yang terbaik dalam memperebutkan posisi sebagai announcer atau penyiar radio yang dibutuhkan oleh jaringan radio grup Mahaka.

“PD (percaya diri) aja ikut acara ini. Karena gue biasa ketemu banyak orang jadi enggak gugup juga. Yang penting tunjukin yang terbaik dari yang kita punya dan nikmatin aja prosesnya,” celoteh Akbar antusias.

Ya, nikmati prosesnya juga menjadi salah satu pesan yang disampaikan CEO Mahaka Radio Integra Adrian Syarkawie kepada para peserta. Hari itu mereka bersaing dengan sehat dalam memperebutkan tiga posisi pekerjaan di grup Mahaka.

“Pesan buat peserta yang paling utama adalah harus bisa menikmati prosesnya. Dengan bergabung di acara ini sebenarnya bagi kami berarti menjadi bagian dari ‘Gue Anak Radio’, bukan hanya sebagai pelaku industri tapi juga penikmat radio,” jelas Adrian kepada awak media.


Ajang Pencarian Karyawan dengan Pendekatan Berbeda

Penyelenggaraan inaugurasi ‘Gue Anak Radio’ season 2 merupakan kali kedua gelaran ini dilakukan dalam kurun dua tahun berturut-turut. Tujuan agenda ini adalah mencari talenta muda yang memiliki passion besar dan kreativitas tinggi untuk industri penyiaran radio.

Inaugurasi ‘Gue Anak Radio’ season 2 memiliki beberapa perbedaan dengan yang gelaran perdana. Dari segi peserta, misalnya, terdapat penambahan peminat sampai dengan 2.000 orang. Dengan begitu, jumlah peserta kali ini menembus angka 6.000 orang.

Ribuan peserta tersebut berkompetisi untuk bisa mendapat kesempatan kontrak kerja di jaringan radio Mahaka Radio Integra setidaknya selama satu tahun. Posisi yang dibuka adalah penyiar radio (announcer), pembaca berita (news presenter), dan podcaster.

Dalam seleksi terbuka ini, salah satu syarat yang harus dipenuhi peserta adalah membuat video siaran atau video podcast dan mengunggahnya ke akun Instagram masing-masing. Golden Ticket alias tiket emas diberikan Mahaka kepada 10 peserta yang membuat konten video dengan kreativitas lebih.

Peserta terpilih pun secara otomatis masuk sebagai 100 peserta penyaringan lanjutan yang akan mendapatkan workshop mengenai industri penyiaran radio. Sisa 90 orang peserta yang berhak lolos tahap dua dan mengikuti workshop diketahui nasibnya pada Selasa, 8 Oktober 2019.

Perbedaan lain dalam gelaran ‘Gue Anak Radio’ season 2 juga terkait hadiah bagi pemenang. Gelaran ‘Gue Anak Radio’ sebelumnya berhadiah perjalanan ke Jepang, pada gelaran kali ini pemenang berhak berlibur ke Australia. Hadiah lainnya berupa kontrak kerja selama satu tahun di jaringan radio grup Mahaka dan mendapat uang sebesar Rp15 juta masih berlaku.

Sebelum bisa mendapatkan berbagai hadiah tersebut, peserta harus menjalankan berbagai proses penyaringan dengan durasi sampai dengan tiga bulan. Lamanya workshop yang diberikan Mahaka tentang industri penyiaran radio berlangsung sampai dengan satu bulan.

Adrian mengklaim, proses panjang yang dijalani memungkinkan peserta memiliki bekal yang mumpuni untuk terjun di industri penyiaran radio, meski pada akhirnya tidak berkarya bersama grup Mahaka. Selain itu, proses yang cukup panjang membuat perusahaan dapat melihat dengan jeli bakat dan kreativitas para peserta.

“Karena open recruitment ini dibuat seperti kompetisi, para peserta memberikan yang terbaik dari yang mereka punya, sehingga passion dan skill-nya lebih terlihat. Kami mendapat sumber daya manusia yang lebih qualified (berkualitas),” jelas Adrian.

Karenanya, menurut Adrian, rekrutmen karyawan secara terbuka sangat efektif bagi perusahaan yang tercatat di papan bursa dengan kode emiten MARI ini. Adrian menambahkan, rekrutmen dengan pendekatan berbeda ini tidak hanya baik bagi perusahaan, tapi juga industri penyiaran radio karena dapat mengetahui individu-individu yang memiliki passion dan kreativitas tinggi di bidang penyiaran radio.

Karena itu, meski proses rekrutmen berlangsung lama dan perseroan merogoh kocek untuk memberikan pelbagai hadiah kepada pemenang, ‘ongkos’ tersebut menurut Adrian tidak terlalu mahal. “Karena yang kami butuhkan adalah talent-talent yang punya passion dan skill khusus. Ini tidak mudah mencarinya,” imbuh Adrian.


Penetrasi Radio Masih Tinggi

Hasil temuan Nielsen Radio Audience Measurement pada kuartal tiga tahun 2016 menunjukkan 57 persen dari total penggemar radio berasal dari Generasi Z dan milenial. Ini artinya, lebih dari 50 persen pendengar radio merupakan konsumen masa depan.

Laporan Nielsen berjudul "Radio Masih Memiliki Tempat di Hati Pendengarnya" ini juga menyebut setidaknya empat dari 10 orang pendengar mendengarkan radio melalui perangkat yang lebih personal yaitu mobile phone. Penetrasi jangkauan pendengar radio menurut laporan ini mencapai angka 38 persen.

Angka penetrasi mingguan ini menunjukkan bahwa media radio masih didengarkan oleh sekitar 20 juta konsumen di Indonesia. Para pendengar radio di 11 kota di Indonesia yang disurvei Nielsen setidaknya menghabiskan rata-rata waktu 139 menit per hari untuk mendengarkan radio.

Masih melansir data Nielsen Radio Audience Measurement, waktu mendengarkan radio mengalami peningkatan. Jika pada 2014 waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan radio adalah 16 jam per minggu, maka pada 2015 angkanya naik menjadi 16 jam 14 menit per minggu, dan mencapai 16 jam 18 menit per minggu untuk tahun 2016.

Radio juga tidak akan mati karena kemunculan podcast. Melansir pemberitaan Tirto sebelumnya, profesor bidang Broadcasting dari Birmingham City University, Diane Kemp, mengungkapkan baik radio maupun podcast akan tumbuh bersama sebab karakteristiknya berbeda.

“Podcast sudah ada beberapa tahun belakangan dan sangat populer di Generasi Z. Radio menawarkan momen bersama dan interaktivitas, hal yang tidak bisa didapat dari podcast. Podcast bisa berfungsi seabgai nilai tambah bagi radio, alih-alih sebagai pengganti,” kata Diane melansir pemberitaan sebelumnya.

Untuk bisa bertahan, imbuh Diane, radio harus bisa terus memastikan bahwa media berbasis suara ini masih relevan bagi penggemarnya.

“Radio memiliki efek kedekatan personal dengan pendengarnya. Kedekatan itulah yang menjadi kekuatan besar radio dibanding media digital itu sendiri. Radio adalah media yang powerful dan paling memiliki engagement (keterikatan) terhadap pendengar dibanding media manapun,” pungkas Adrian.

Baca juga artikel terkait RADIO atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Marketing)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight