Gerobak dan Upaya Perindo Menjadi Partai Merakyat

Oleh: Mawa Kresna - 6 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
Hary Tanoesoedibjo mencoba jadi sosok merakyat, salah satunya membuat program Perindo bagi-bagi gerobak kepada pedagang kaki lima.
tirto.id - Tanpa pikir panjang, Tugimin langsung menerima tawaran gerobak baru dari Syarif Hidayatulloh, ketua DPD Perindo Jakarta Selatan. Kebetulan gerobak mi ayam yang sudah ia pakai sejak 1980 sudah rusak sana-sini. Kaki dan ban gerobaknya sudah ia ganti berkali-kali.

Seminggu setelah bertemu Syarif, gerobak putih dengan stiker logo Partai Perindo diantar ke tempatnya jualan di jalan Bangka Raya. Tugimin menyambut dengan gembira. Selang sehari ia langsung memberikan gerobak lama kepada saudara di Pasar Minggu. Sejak itu ia resmi berjualan dengan gerobak Perindo.

“Dari tahun 2014 ini gerobak, sebenarnya mau minta ganti lagi, karena kakinya udah rusak,” kata Tugimin.

Tugiman hanya satu dari seribuan penerima gerobak Perindo di Jakarta. Gerobak macam itu mudah dijumpai hampir di pusat pedagang kaki lima di Jakarta. Di sepanjang jalan Bangka Raya, misalnya, ada sekitar lima gerobak Perindo. Di sepanjang jalan Pasar Minggu adalah lebih dari sepuluh. Belum lagi di Jakarta pusat, sekitar Menteng, dekat kantor DPP Perindo.

Syarif mengatakan lebih dari 250 gerobak sudah ia bagikan di Jakarta Selatan. Syarat utamanya mudah: benar-benar berniat usaha. Sisanya persyaratan administrasi, seperti kartu keluarga, kartu penduduk, dan perjanjian dengan cap materai.

“Gerobak tidak boleh dijualbelikan, tidak boleh ditempeli stiker partai lain," ujar Syarif, "kami ada tim pembinaan yang akan cek gerobak itu."


Kerja Nyata Partai

Gerobak itu adalah salah satu program kerja partai milik pengusaha media Hary Tanoesoedibjo. Tujuannya, mengenalkan partai baru itu sekaligus wujud perhatian sang ketua partai pada kesejahteraan rakyat.

Maruli Silaban, ketua kader DPW Perindo DKI Jakarta, mengatakan sejak awal Hary Tanoe sudah memimpikan rakyat Indonesia bisa hidup sejahtera. Ia melihat bahwa lapangan pekerjaan industri besar tidak bisa menampung semua orang. Karena itu menciptakan lapangan pekerjaan dengan berwirausaha adalah solusi terbaik.

Concern Pak Hary Tanoe ini tidak pernah dilakukan oleh partai lain. Partai mana yang membuktikan diri membantu rakyat secara langsung seperti itu? Ini kerja paling nyata. Tidak banyak janji, tapi langsung kerja dan berwujud,” kata Maruli.

Hal sama ditegaskan oleh Arya Mahendra Sinulingga, ketua bidang media dan komunikasi partai. Sebagai partai baru, katanya, Perindo punya beban untuk membuktikan diri pada masyarakat. Karena itu Perindo harus punya kerja nyata yang dirasakan langsung rakyat.

“Tidak hanya membagikan gerobak untuk usaha, Perindo juga melakukan pembinaan usaha kecil dan menengah,” ujar Arya.

Kerja partai ini dirasakan oleh para pelaku usaha UMKM. Bagi Tugimin, misalnya, gerobak baru itu membuatnya lebih nyaman bekerja. Ia lebih mudah memindahkan gerobak ketika malam hari.

“Ya ada manfaatnya, banyaklah. Kalau beli lagi, kan, mahal,” katanya.

Siti, penjual ayam geprek di Mampang, yang menerima bantuan gerobak juga merasakan yang sama. Bantuan gerobak itu membuatnya lebih bersemangat kerja.

“Ya ada nambahlah," ujarnya. "Tapi biaya hidup juga makin mahal."

Niatan Hary Tanoe menyejahterakan rakyat dengan program ini cukup kontras jika dibandingkan korporasi raksasa yang dipegangnya, yang menggaji karyawannya pas-pasan. Contohnya soal upah karyawan di MNC TV.

Berdasarkan survei Aliansi Jurnalis Independen Jakarta soal upah jurnalis 2018, jurnalis MNC TV untuk masa satu tahun kerja dan sudah menjadi pegawai tetap hanya diberi upah Rp3,4 juta per bulan. Upah ini hanya sedikit lebih tinggi dari Upah Minimum Regional DKI Jakarta, yakni Rp3,3 juta. AJI Jakarta menetapkan upah layak jurnalis di Jakarta tahun 2018 mencapai Rp7,9 juta per bulan.


Infografik HL Perindo MNC

Investasi Politik

Jika mengikuti klaim Syarif, yakni sudah ada minimal 250 gerobak di Jakarta Selatan, minimal Perindo sudah mengeluarkan duit sekitar Rp500 juta. Pengeluaran ini dihitung berdasarkan harga gerobak termurah di Jakarta sebesar Rp2 juta, dari melihat situs jual beli online seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Seandainya klaim sudah ada seribu gerobak di Jakarta, paling minim Perindo sudah mengeluarkan Rp2 miliar. Angka ini tentu belum seberapa jika dibandingkan kekayaan Hary Tanoe yang mencapai 1,1 miliar dolar AS pada 2017, menurut Forbes. Kekayaan Hary Tanoe itu membuatnya nangkring pada peringat 31 orang terkaya di Indonesia.


Apakah uang pembuatan gerobak itu adalah uang Hary Tanoe?

Syarif Hidayatulloh, ketua DPP Jakarta Selatan, mengatakan "tidak tahu." Yang ia tahu, setiap kali ada permintaan gerobak baru, ia menulis rincian data lalu menyerahkan kepada DPW dan diteruskan ke DPP.

Kata Maruli, biaya program itu semuanya ditanggung oleh DPP Perindo. Meski demikian, sumber uang tidak hanya berasal dari kantong pribadi ketua partai. Sebagian diperoleh dari sumbangan dan iuran anggota. Di DPW, misalnya, untuk operasional partai diusahakan sendiri oleh pengurus.

“Paling hanya dapat dana stimulan. Setelah itu kami cari sendiri. Pak HT ingin DPW mandiri. Kecuali untuk program nasional seperti gerobak, itu memang dana dari pusat,” katanya.

Dana yang dikucurkan partai dengan gerobak itu apakah akan berkontribusi terhadap perolehan suara pada Pemilu 2019? Apakah para penerima gerobak akan memilih Perindo pada 2019?

Tugimin, yang berjualan mi ayam dan menerima bantuan gerobak Perindo, hanya menjawab dengan senyum.

Baca juga artikel terkait PARTAI PERINDO atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight