Gelap-Terang Tren Harajuku

Ilustrasi Harajuku. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 24 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Pada tahun 2004, Gwen Stefani mengekspresikan kekagumannya terhadap gaya Harajuku melalui lagu Harajuku Girls.
Ada satu istilah di ranah fesyen yang biasa digunakan untuk menyebut gaya penampilan yang eksentrik: Harajuku. Dalam konteks ini, eksentrik dapat dideskripsikan sebagai perpaduan warna dan motif busana serta aksesori yang tammpak tidak selaras.

Sebagai contoh: rok tutu berwarna pink muda berbentuk megar, dipadu atasan bralet hitam bermanik-manik, serta luaran coat panjang berbahan bulu bermotif kulit macan tutul. Sementara kaki ditutupi stoking motif polkadot dan dilengkapi sepatu bot hak tinggi berwarna kuning.

Di Indonesia, istilah gaya Harajuku mulai sering terdengar pada pertengahan dekade 2000an. Para pelakunya adalah anak-anak muda yang berani bereksperimen dalam berbusana. Selain itu, biasanya mereka juga para pecinta anime Jepang.

Di kalangan selebritas dunia, gaya Harajuku sempat pula jadi andalan. Mereka yang tampak getol tampil dengan dandanan Harajuku antara lain adalah Gwen Stefani, Nicki Minaj, hingga Katy Perry.

Pada tahun 2004, misalnya, Stefani mengekspresikan kekagumannya terhadap gaya Harajuku melalui lagu Harajuku Girls yang terdapat di album Love. Angel. Music. Baby (L.A.M.B). Simak bagaimana cara Stefani mengungkapkan kekaguman tersebut melalui potongan lirik di bawah ini:

You bring style and color all around the world (you Harajuku girls)

Your lookin' so distinctive, like DNA

Like nothing I've ever seen in the USA

Your underground culture, visual grammar

(A that's what you drop, a that's what you drop) boo!

Lewat Harajuku Girls, Stefani coba mengungkap bahwa perempuan dengan style demikian sungguh mempesona karena mereka berani mendobrak pakem fashion yang ajeg, terutama di dunia Barat. Tampil dengan busana dan warna rambut yang begitu berwarna serta menggunakan aksesori yang terkesan eksperimental.

Harajuku, pada hakikatnya, adalah sebuah subkultur dan gaya fesyen. Hal itu pula yang dipahami oleh Stefani. Sebab itu, ia pun turut kagum dengan sejumlah desainer Jepang yang turut membangun karakter fesyen Harajuku seperti Yohji Yamamoto, Rei Kawakubo, serta Nigo--pemilik lini streetwear A Bathing Ape.



Mengapa Harajuku?

Pada periode 1920an, Harajuku adalah kawasan yang memperlihatkan adanya percampuran dua kebudayaan, yaitu Jepang dan barat (khususnya AS). Kala itu, para perantau yang berasal dari kelas menengah ke atas di AS datang ke Jepang, tinggal di kawasan Harajuku, lalu membuka berbagai toko, termasuk gerai busana, di daerah tersebut.

Menurut laporan Japan Times, percampuran dua kebudayaan ini terus eksis sampai pada periode 1960an, Pada periode tersebut pula Harajuku jadi destinasi hiburan anak-anak muda AS. Memasuki periode 1960-1970an, distrik Harajuku jadi tempat tinggal seniman, desainer, dan insan kreatif Jepang. Alasannya: kawasan tersebut strategis untuk memamerkan karya-karya mereka.

Harajuku pun semakin lama semakin ramai. Sampai-sampai pada periode 1980an, pemerintah Jepang menetapkan kebijakan hari bebas kendaraan bermotor pada akhir pekan agar distrik tersebut tidak terasa terlalu berisik.

Setiap akhir pekan para anak muda berkumpul di Harajuku dan mengisi waktu dengan melakukan kegiatan seperti bermain musik, berdansa, membuat pertunjukan tari, atau sekadar pelesiran sambil mengenakan pakaian yang aneh.

Pada masa itu, pakaian model nyeleneh biasanya didapat dari toko Takenoko yang memang menjual kostum dengan berbagai tema. Selain Takenoko, terdapat pula toko Laforet Harajuku. Sekarang toko itu sudah tidak ada.

Kemunculan gaya Ura Harajuku pada era 1990an menandai kian mewabahnya gaya harajuku. Istilah tersebut muncul saat seorang desainer fesyen bernama Nigo mendirikan label busana streetwear A Bathing Ape (BAPE). Label tersebut kemudian jadi pelopor tren streetwear di Jepang dan menambah variasi baru dalam gaya Harajuku.

Namun demikian, Harajuku tak hanya digeluti para perempuan yang tampil dengan gaya busana ‘heboh’, banyak juga pria yang berdandan memadupadankan busana streetwear--identik dengan kaos, jaket, celana longgar, serta sneakers.


Subkultur Harajuku


Yuniya Kawamura, penulis Fashionising Japanese Subcultures, berkata kepada jurnalis Quartz, orang-orang yang tampil di Harajuku bukan hanya orang-orang yang ingin dandan saja, tetapi mereka yang juga berupaya mengekspresikan nilai-nilai dan keyakinan diri mereka.

“Subkultur lahir karena ada pesan yang ingin disampaikan oleh sebuah komunitas kepada masyarakat umum. Kadang, hal ini tidak disadari oleh orang yang menganut subkultur tersebut,” ujarnya.

Kawamura mencontohkan Gyaru, salah satu sub-gaya busana dalam gaya Harajuku. Gyaru adalah istilah bagi orang-orang yang memadupadankan busana-busana barat seperti rok tartan, jaket dan rok bulu, rok mini, dan sepatu bot tinggi. Mereka juga biasanya mengenakan rias wajah tebal, cat kuku, serta rambut berwarna cerah.

“Fenomena Gyaru muncul pada pertengahan 1990an saat Jepang dilanda resesi ekonomi berkepanjangan. Perempuan-perempuan itu kemudian mulai menggunakan busana berwarna terang dan terbuka. Prinsipnya: hidup sebebasnya dan semaunya saat muda, seperti berpesta dan minum-minum, kelak ketika lebih dewasa bisa jadi orang yang baik karena telah puas menikmati waktu bersenang-senang,” lanjut Kawamura.

Di mata Kawamura, hal yang penting dan dicari dari subkultur adalah unsur kekeluargaan. Sejumlah anak muda Harajuku yang diwawancarai Kawamura mengatakan, salah satu hal yang mereka syukuri ketika memutuskan bergabung dalam subkultur tertentu ialah perkenalan dan kedekatan dengan kawan baru.


Dalam makalah "An Investigation of the Significance of Current Japanese Youth Subculture Styles " (2010), Judy Park mengungkap setidaknya ada empat subkultur di Harajuku yang memiliki ciri khas fesyen.

Cosupure: Orang memutuskan untuk membangun alter ego yang berpenampilan seperti tokoh kartun yang terkesan imut dan lucu. Hal ini muncul karena individu penganut subkultur tersebut senantiasa punya kerinduan untuk kembali menjadi anak-anak.

Bikies: Orang yang gemar memodifikasi motor dan berdandan layaknya biker. Hal ini menunjukkan jati diri mereka yang aktif dalam melakukan olahraga modern (balap motor).

Gyarus: Biasanya penganut subkultur ini adalah anak-anak muda yang tidak bekerja dan mereka cukup bangga dengan kebebasan hidup tanpa beban pekerjaan. Mereka masih mendapat uang dari orangtua dan membelanjakannya untuk membeli benda fesyen.

Gosuroris: Anak muda yang memodifikasi gaya busana era lampau seperti Rococo dan Edwardian.

Analisis Park turut menjabarkan, anak-anak muda Jepang yang menganut subkultur ini merasa bahwa dengan bergaya, mereka terbebas dari tekanan orangtua dan generasi di atas mereka. Mereka bahkan bangga menjadi pengangguran dan bekerja di tempat-tempat yang dipandang sebelah mata. Sebab yang penting adalah tidak tunduk terhadap doktrin orangtua--di mana biasanya ditekankan agar bekerja di perusahaan besar sehingga memiliki jenjang karier yang baik.

Pada 2018 lalu, Refinery 29 menayangkan video soal Yami Kawai, salah satu bagian dari gaya Harajuku di Jepang, di mana orang-orang berpenampilan dengan warna-warna pastel seperti pink dan bergaya feminim, tetapi mereka menyelipkan aksesori yang bernuasa gothic.

Salah satu ikon subkultur tersebut mengatakan, selama masa kanak-kanak ia kerap mengalami kekerasan dari keluarganya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membuat tokoh manga dengan memadukan unsur feminin dan gothic.



Sisi manis adalah lambang bahwa dirinya suka dengan hal-hal bernuansa kawaii-- sebutan untuk figur di Jepang yang dianggap imut dan inosen seperti Hello Kitty, Pokemon, Doraemon, Sailormoon. Sedangkan sisi gothic menunjukkan sisi gelap betapa kondisi mentalnya masih terluka akibat penyiksaan yang pernah dirasakan.

Harajuku, pada akhirnya, tak hanya jadi melting pot tempat anak muda Jepang berekspresi: ia juga penanda tren fesyen yang melintasi zaman.

Mulai Pudar (?)


Beberapa tahun terakhir, tren Harajuku yang “berwarna” mulai memudar. Pendapat ini datang dari Shoichi Aoki, fotografer yang rutin memotret gaya fesyen orang-orang yang berlalu lalang di jalan Harajuku sejak awal 1990an. Foto-toto itu ia pubikasikan ke majalah Fruits--majalah bikinan Aoki yang khusus menampilkan foto dari orang-orang dengan gaya unik.

Pada 2017, Aoki berkata kepada BBC bahwa jumlah orang yang tampil gaya di jalan Harajuku berkurang drastis, sehingga ia tidak bisa banyak memotret dan akhirnya memutuskan menutup publikasi Fruits di tahun tersebut.

Menurut Aoki, dihapuskannya kebijakan hari tanpa kendaraan bermotor di Harajuku saat akhir pekan adalah salah satu penyebabnya. Ketika kebijakan tersebut masih berlaku, akhir pekan adalah momen bagi anak-anak muda untuk pamer gaya busana ekstrem mereka.

“Anak-anak muda zaman sekarang nampaknya diyakinkan oleh orangtua mereka bahwa mereka tidak perlu menjadi bagian dari kelompok tertentu atau tidak perlu mengekspresikan diri lewat fesyen,” jelas Aoki seperti dikutip dari BBC.

Desainer fesyen yang sempat bekerja sebagai fotografer Fruits, Daphne Mohajer, juga mengatakan bahwa anak-anak muda Jepang zaman sekarang lebih suka meniru gaya selebritas yang tampil di media sosial dengan penampilan yang lebih sederhana--menggunakan busana dengan warna muda atau natural dan model yang tidak aneh-aneh.

Di samping itu, menurut Mohajer, merebaknya toko-toko seperti Uniqlo dan berbagai toko lain yang menawarkan barang produksi massal dengan harga yang sangat terjangkau, turut mempengaruhi keputusan anak-anak muda Jepang dalam bergaya.

Perubahan kondisi finansial kaum muda Jepang juga menjadi salah satu faktor. Mohajer bercerita, 20 tahun lalu sampai satu dekade lalu, konsumen muda Jepang sanggup mengeluarkan dana yang cukup besar untuk belanja fesyen.

Namun, kondisi finansial anak muda Jepang saat ini tidak seperti dulu. Membeli baju pun bukan jadi prioritas mereka. Alhasil, keberadaan toko retail seperti H&M dan Forever 21 yang terus berekspansi di Jepang jadi pilihan kaum muda untuk berbelanja.

Baca juga artikel terkait JEPANG atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight