Menuju konten utama

Fransiska Mainake: Dari Perawat, Layani Tamu Allah di Baitullah

Fransiska Mainake adalah perawat di RS Gatot Soebroto, Jakarta, yang berkesempatan jadi tim PKP2JH. Simak pengalamannya membantu jemaah haji.

Fransiska Mainake: Dari Perawat, Layani Tamu Allah di Baitullah
Petugas dari layanan PKP2JH PPIH Arab Saudi, Fransiska Mainake, sedang melayani jemaah lansia di Terminal Jabal Ka'bah. FOTO/Tim MCH 2026.

tirto.id - Terik matahari di Terminal Jabal Ka'bah, Makkah, tak menyurutkan semangat Fransiska Mainake. Perempuan berusia 38 tahun itu tetap berdiri tegak menjalankan tugasnya melayani dhuyufurrahman.

Ia bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang tergabung dalam tim Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH). Fransiska bertugas di Sektor Khusus (Seksus) Masjidil Haram.

Perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, keturunan Ambon itu, merupakan salah satu garda terdepan yang memastikan kesehatan dan keselamatan para tamu Allah di Tanah Suci.

Sehari-harinya, Fransiska bekerja sebagai seorang perawat. Ia menjadi bagian dari tenaga keperawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

"Kebetulan saya bertugas di ruang perawatan bedah lantai 6, Paviliun Darmawan," kata dia kepada Tim Media Center Haji (MCH).

Namun, selama musim haji 2026, ia mendedikasikan keahliannya sebagai petugas layanan PKP2JH.

"Motivasi saya yang pertama adalah ingin melayani jemaah haji Indonesia dari segi medis. Dan yang kedua, niatnya tentu untuk beribadah," ujar Fransiska.

Dalam menjalankan tugasnya, Fransiska tidak hanya bersiaga untuk kondisi darurat. Ia proaktif memberikan edukasi kesehatan kepada jamaah haji, dengan fokus utama pada mereka yang memiliki risiko tinggi (risti) sebelum melaksanakan ibadah umrah wajib maupun puncak haji.

Tim PKP2JH dituntut untuk bergerak cepat ketika ada jemaah haji yang mengalami masalah kesehatan secara mendadak. Contohnya seperti kelelahan, pingsan hingga kondisi kritis lainnya di tengah lautan manusia.

Bekerja mengatur pergerakan jutaan orang di terminal yang sibuk bukanlah hal yang mudah bagi Fransiska, terlebih dengan kondisi cuaca yang sangat panas. Menurut Fransiska, tugas ini sangat menguras tenaga secara fisik.

Untuk menjaga keamanan dan efektivitas kerja, Fransiska menjelaskan, para petugas di lapangan menerapkan sistem pendampingan (buddy system). Petugas tidak diperkenankan berpatroli atau menangani situasi sendirian. Mereka selalu didampingi oleh rekan sesama petugas, baik laki-laki maupun perempuan.

Meski harus menghadapi kelelahan, lelah itu kerap terbayar lunas oleh momen-momen spiritual yang menyentuh hati.

Kisah Fransiska Menolong Jemaah Haji

Fransiska menceritakan salah satu pengalaman paling berkesan saat ia menemukan seorang jemaah haji yang kebingungan di kawasan Dar Al Tawhid. Jemaah tersebut sangat ingin melaksanakan salat di depan Ka'bah.

"Saya antar beliau ke sana. Beliau menangis terharu sambil memegang tangan saya erat sekali karena takut hilang, mengingat jemaah haji sangat padat. Beliau bersyukur dan terharu bisa sampai ke depan Ka'bah," kata dia mengenang.

Berinteraksi langsung dengan jemaah haji yang mayoritas berusia lanjut memberikan makna dan hikmah mendalam bagi Fransiska pribadi.

Pengalaman tersebut melatihnya untuk memiliki kesabaran ekstra dalam memberikan pelayanan. Lebih dari itu, ia mengaku sangat terinspirasi oleh daya juang para lansia.

Masa tunggu antrean haji yang bertahun-tahun serta perjalanan fisik yang berat seolah tidak menyurutkan langkah mereka.

"Saya terharu, mereka menunggu lama sekali dan perjuangan untuk ke sini itu tidak mudah. Sangat menakjubkan melihat betapa kuatnya tekad mereka untuk beribadah ke Tanah Suci dengan berbagai cara," ujar Fransiska.

Melalui dedikasi petugas seperti Fransiska, para jemaah haji Indonesia tidak hanya mendapatkan perlindungan medis yang siaga, tetapi juga pendampingan yang penuh empati dan ketulusan di Tanah Suci.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Ilham Choirul Anwar