tirto.id - Di tengah lonjakan ancaman siber yang semakin masif, PT FPT Metrodata Indonesia (FMI) bersama HP Indonesia resmi memperkenalkan SecBox. Solusi ini hadir sebagai jawaban atas kompleksitas pengelolaan keamanan digital bagi organisasi di Indonesia, mulai dari skala UMKM hingga perusahaan besar.
Peluncuran ini dilakukan di tengah meningkatnya ancaman siber di Indonesia. Presiden Direktur HP Indonesia, Juliana Cen, menyebut Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat terdapat 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025. Namun, baru sekitar 11 persen organisasi di Indonesia yang memiliki tingkat keamanan siber memadai.
“Melalui kolaborasi dengan FMI dan MII ini, HP menghadirkan solusi perlindungan endpoint yang lebih kuat, mudah diakses, dan lebih sederhana untuk dikelola oleh pemilik usaha di Indonesia. Dengan begitu, perusahaan bisa lebih resilien menghadapi ancaman siber, menjaga produktivitas, dan melanjutkan transformasi digital dengan lebih percaya diri,” ujar Juliana dalam Media Gathering SecBox Launch di Jakarta pada Kamis (21/05/2026).
Presiden Direktur PT FPT Metrodata Indonesia, Edwin P. Octosa, menekankan adanya perubahan kebutuhan di sisi konsumen. "Dulu di area security, customer fokusnya di proteksi. Tapi dengan ancaman yang semakin canggih, dibutuhkan elemen baru yaitu detector response," ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Menurut Edwin, banyak perusahaan menghadapi tantangan ketika harus membangun sistem keamanan siber secara mandiri karena membutuhkan infrastruktur, perangkat lunak, dan sumber daya manusia yang besar.
“Nah elemen ini yang kami sajikan di dalam bentuk kolaborasi FMI SecBox powered by HP. Jadi solusi ini lebih mudah jadi satu. Pengawasannya ada, perangkapnya ada, sampai ke tim pengawasannya juga ada,” imbuhnya.
SecBox dikembangkan sebagai platform keamanan siber terintegrasi yang menggabungkan monitoring keamanan, threat intelligence, incident response, hingga otomatisasi workflow keamanan dalam satu sistem.
Salah satu fitur unggulan SecBox adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk proses analisis data secara real-time. Namun, Edwin menekankan bahwa kendali tetap berada di tangan manusia. AI digunakan untuk mempercepat proses analisa, sementara tim ahli tetap melakukan verifikasi manual sebelum tindakan diambil.
Keamanan sistem pelanggan menjadi prioritas utama, sehingga AI tidak diberikan otoritas untuk langsung memblokir sistem secara mandiri.
" AI yang digunakan untu proses analisa, people-nya tetap melakukan proses verifikasi, Responsnya tetap tidak bisa langsung blok. AI perlu waktu untuk dia mature," ungkap Edwin.
Otomasi bisa diterapkan, tapi SecBox hanya melakukan tindakan yang tidak intrusif. Hal ini guna meminimalisir Risiko dan memastikan kelancaran operasional bisnis pelanggan.
Penting untuk dicatat bahwa untuk saat ini layanan SecBox belum tersedia untuk perangkat telepon genggam (mobile). Sebagai langkah preventif, pengguna sangat disarankan untuk tidak membuka dokumen atau tautan mencurigakan dari WhatsApp atau email melalui ponsel.
Manfaat Ekonomi dan Efisiensi Secara teknis, penggunaan SecBox diklaim dapat memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan, termasuk penghematan biaya operasional hingga 64% bagi organisasi yang sebelumnya tidak memiliki solusi SIEM/SOAR, serta potensi Return on Investment (ROI) mencapai 267%. Dengan kemampuan instalasi yang cepat (kurang dari satu hari), SecBox menjadi solusi praktis bagi transformasi digital yang aman di Indonesia.
Editor: Tim Media Service
Masuk tirto.id





























