Flu Burung (Kembali) Meneror Warga Dunia

Peternak memeriksa ayam yang mati di peternakan ayam Pandak, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (7/11). Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta menghimbau kepada peternak unggas selama anomali cuaca untuk mewaspadai penyebaran penyakit flu burung (H5N1) karena masuknya laporan kasus kematian unggas dari puluhan kandang yang positif terjangkit flu burung. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc/16.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 6 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Flu burung mulai menjangkiti beberapa negara sejak akhir tahun lalu. Indonesia yang mulai berhati-hati melarang impor unggas dari tujuh negara yang telah dilaporkan terjangkit, yakni Swedia, Rumania, Finlandia, Perancis, India, Jepang, dan Belanda.
Perayaan malam tahun baru semestinya menjadi momen yang menggembirakan. Sayangnya ekspektasi tersebut tak berlaku bagi seorang pria berusia 53 tahun asal Provinsi Jiangxi, Cina Selatan. Ia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat setelah merasakan gejala demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan mengalami gangguan pernapasan. Setelah dilakukan pemeriksaan secara ketat, pria itu dinyatakan terjangkit virus flu burung H7N9.

Sementara otoritas membagi keterangan resminya kepada awak media setempat pada Sabtu (31/12/2016) dan rakyat seluruh dunia sedang pesta tahun baru, A masih terbaring lemah dan dalam kondisi kritis. Ia kini masih dirawat di rumah sakit di ibu kota Provinsi Nanchang.

Musim dingin di Cina sepanjang akhir tahun 2016 menjadi masa-masa paling rawan. Setidaknya ada 17 warga yang terjangkit virus flu burung dan dua di antaranya telah meregang nyawa. Cina mesti kembali bersiap menghadapi gelombang penyebaran virus influenza Avian yang pernah terjadi di akhir tahun 2003 hingga awal tahun 2014. Kala itu, virus yang ditularkan melalui unggas itu menewaskan 36 orang dan menelan kerugian hingga $6 miliar pada sektor pertanian.

Sejak Oktober, pemerintah Cina telah membakar lebih dari 170 ribu unggas di empat provinsi. Sejumlah pasar unggas hidup juga telah ditutup, khususnya yang terindikasi virus flu burung. Awal bulan ini di Shanghai, kota terbesar di Cina dengan kepadatan lebih dari 24 juta penduduk, juga dilaporkan ada satu orang terjangkit virus H7N9.

Teror penyebaran virus flu burung tak hanya melanda daratan Negeri Tirai Bambu. Sejak akhir tahun lalu, berbagai otoritas negara telah melaporkan bahwa unggas maupun penduduknya di sejumlah wilayah telah terjangkiti virus mematikan tersebut. Beberapa kasus melibatkan unggas liar yang rajin bermigrasi dari satu negara ke negara lain. Pada kasus lainnya, virus flu burung menghinggapi unggas di peternakan warga sehingga terpaksa dimusnahkan.

Di Tunisia, misalnya, pada Jumat (2/12/2016) Kementerian Pertanian Tunisia melaporkan wabah virus flu burung menulari burung-burung liar di wilayah utara. Sebagaimana dilaporkan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), wabah flu burung dikonfirmasi setelah otoritas terkait menguji 30 ekor burung liar yang mati bulan November 2016 di Taman Nasional Ichkeul.

"Tunisia adalah jalur migrasi utama burung liar dari Eropa ke Afrika selama musim dingin. Migrasi ini masih berlangsung dan virus itu terbawa oleh burung yang melintas," kata OIE, seperti dilaporkan Reuters.

Unggas liar yang terjangkit virus flu burung juga dilaporkan otoritas Iran pada Senin (26/12/2016) saat lebih dari 1.000 unggas liar, sebagian besar angsa, ditemukan mati di daerah rawa Mighan, Iran tengah.

Sementara flu burung menyebar di tujuh provinsi negara itu, 63.000 ayam bersama 800.000 butir telur yang sudah dibuahi dan anak ayam umur sehari dimusnahkan di sebuah perternakan di Provinsi Qazvin beberapa hari lalu. Sebanyak 725.000 unggas sudah dimusnahkan sejak pertengahan November di Iran menyusul sembilan wabah flu menurut laporan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia.

Unggas peliharaan warga yang dilaporkan terjangkit virus flu burung terjadi juga di dataran Eropa. Kroasia yang pada Jumat (30/12/2016) mengumumkan penyebaran kasus flu burung pada unggas di sebuah peternakan dekat perbatasan dengan Hongaria telah menewaskan 15 ayam dan bebek. Sementara itu, Kamis (22/12/2016) Inggris mengumumkan penemuan strain virus flu burung yang sangat menular pada seekor bebek liar yang ditemukan mati di Wales.

Selasa (20/12/2016) Montenegro melaporkan kasus pertama flu burung setelah ditemukannya itik mati yang terinfeksi H5N8 di Danau Skadar yang terletak di timur negara itu. Jauh sebelumnya, wabah influenza serupa di Lincolnshire, Inggris dan membuat pemerintah Irlandia pada Sabtu (17/12/2016) mendesak pemilik peternakan agar meningkatkan kewaspadaan.

Sementara itu, pada Selasa (3/1/2017) Reuters melaporkan temuan otoritas Prancis bahwa serangan virus flu burung telah menjangkiti wilayah Deux-Sevres. Tes laboratorium terhadap unggas dan burung peliharaan di dekat Kota Niort diketahui dihinggapi flu burung jenis H5N8. Penemuan tersebut hanya berselang satu pekan usai dilaporkan virus flu burung pada angsa liar di Yunani.

Kembali ke Asia, jumlah unggas peternak yang dimusnahkan jauh lebih besar lagi. Minggu (18/12/2016) Jepang mulai memusnahkan sekitar 210 ribu ternak unggas di Hokkaido utara untuk menghindari penyebaran virus ke unggas di peternakan lain. Sedangkan pada Selasa (20/12/2016) 19,11 juta bebek dan ayam telah dimusnahkan di Korea Selatan (Korsel) akibat terjangkit strain virus Avian influenza yang rupanya menyebar dengan sangat cepat.

Saking cepatnya virus menyebar, sebanyak 204 peternakan di seluruh Korsel dikonfirmasi sebagai daerah terdampak infeksi per Desember 2016. Itu menandai penularan paling buruk dan paling cepat sejak 19,37 juta unggas dimusnahkan dalam 669 hari antara 2014 dan 2015 akibat wabah virus H5N8. Kementerian Pertanian tersebut telah menaikkan tingkat krisis Avian influenza ke posisi tertinggi dalam sistem empat tingkat di negeri tersebut.

Di Korsel, wabah flu burung tak hanya mengganggu sektor kesehatan, namun juga sektor perekonomian. Korea Selatan mengalami krisis pasokan telur dari peternak karena banyak unggas dimusnahkan. Sejak wabah flu burung menyerang bulan November tahun lalu, otoritas Korea Selatan sudah memusnahkan lebih dari 20 juta unggas, atau 12,2 persen dari populasi unggas ternak.


Indonesia Patut Waspada

Dalam catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), virus avian influenza A (H5N1) muncul kembali di tahun 2003-2004 setelah laporan pertama muncul di tahun 1997 selama wabah unggas SAR di Hong Kong, Cina, menyebar dari Asia ke Eropa dan Afrika. Virus tersebut telah berkembang menjadi beragam jenis, namun secara global, kurang lebih ada lebih dari 15 negara yang melaporkan penularan virus H5N1 ke manusia. Empat negara di antaranya berada di Asia Tenggara, yakni Bangladesh, Myanmar, Thailand, dan Indonesia.

WHO mencatat jumlah kasus manusia yang terinfeksi virus H5N1 sejak awal tahun 2004 hingga 31 Desember 2013 adalah 228 orang dimana 181 diantaranya berakhir dengan kematian. Di tahun 2013 saja ada empat kasus dan empat kematian yang dicatat WHO dari Bangladesh ke Indonesia. Jumlah korban penularan virus H5N1 (tipe A) di Indonesia sejak awal tahun 2005 hingga Desember 2013 adalah 195 orang dimana 163 diantaranya meninggal dunia.

Dampak flu burung yang mematikan membuat otoritas Indonesia makin waspada di awal tahun 2017 ini. Menurut keterangan resminya, Badan Karantina Pertanian RI melakukan pengetatan pengawasan di pintu-pintu pemasukan dan pengeluaran di seluruh wilayah di Indonesia. Tindakan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 44 Tahun 2013 tentang Penghentian Pemasukan Unggas dan atau produk segar unggas dari Negara Republik Rakyat Cina ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelarangan berlaku terhadap anak ayam (DOC, Day Old Chick) dan produk unggas lain dan berlaku sejak 28 Desember 2016. Kebijakan itu berlaku pada pelarangan unggas dan produknya dari tujuh negara yang telah dilaporkan terjangkit, yakni Swedia, Rumania, Finlandia, Perancis, India, Jepang, dan Belanda. Kebijakan tambahan yakni pengawasan antar pulau di Indonesia dengan tujuan agar sentra unggas di provinsi bebas flu burung menjadi sumber produk unggas yang dapat diekspor.

Baca juga artikel terkait FLU BURUNG atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight