Menuju konten utama

Fakta-Fakta Anak SD di NTT Bunuh Diri, Diduga karena Ekonomi

Berikut ini fakta-fakta kasus anak SD di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pensil. Ini merupakan tamparan keras bagi negara.

Fakta-Fakta Anak SD di NTT Bunuh Diri, Diduga karena Ekonomi
Ilustrasi PPDB. foto/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Peristiwa bunuh diri seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) yang baru berusia sekitar 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian serius banyak pihak. Apa saja fakta-fakta yang sudah terungkap hingga saat ini?

Trigger Warning:

Artikel ini menyinggung tentang bunuh diri. Informasi dalam artikel ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa.

Jika Anda, teman, kerabat, atau keluarga memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi bantuan profesional melalui psikolog, psikiater, atau dokter kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat. Layanan dari Kementerian Kesehatan dapat dihubungi di nomor 119 ext 8 atau healing119.id.

===============

Pada Kamis, 29 Januari 2026, anak berinisial Y tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa karena diduga telah mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara menggantungkan diri di pohon cengkeh.

Motif YBS mengakhiri hidupnya diduga karena kecewa dan tertekan akibat tidak mampu membeli buku dan pensil dengan harga kurang dari Rp10.000.

⁠Fakta-Fakta Kasus Anak SD di NTT Bunuh Diri

Berikut beberapa fakta penting yang terungkap pada kasus anak SD bunuh diri di NTT:

1. Korban adalah siswa SD kelas IV berusia sekitar 10 tahun

Korban masih anak-anak dan berada pada usia yang sangat rentan secara emosional dan psikologis. Ia tercatat sebagai siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT.

2. Diduga bunuh diri karena masalah ekonomi

Dari penyelidikan awal diduga pemicu tindakan tersebut karena tidak mampu membeli buku dan pensil seharga kurang dari Rp10.000. Hal ini yang menunjukkan adanya motif tekanan ekonomi keluarga.

"Motif utama karena hal itu namun masih didalami. Untuk sementara, sesuai dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP karena kekecewaan tapi masih didalami lagi," ujar Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko dikutip Antara (4/2).

3. Polda NTT mengirim tim konselor psikologi ke lokasi

Tim khusus diterjunkan untuk memberikan pendampingan mental dan psikologis kepada keluarga korban agar mampu menghadapi trauma.

"Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban," jelas Irjen Pol Rudi.

4. Kasus ini menjadi perhatian DPR dan pemerintah pusat

Menko PM menilai peristiwa ini sebagai alarm dan cambuk bagi negara dalam menjamin perlindungan anak dan hak pendidikan.

“Ya, ini harus menjadi cambuk ya. Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” harap Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar.

DPR juga meminta jajaran terkait untuk dapat hadir memberikan perlindungan terhadap anak-anak sehingga hal ini tidak terulang kembali.

“Di sinilah peran Kementerian PPPA dituntut, bagaimana melakukan perlindungan anak sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat,” kata Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania.

5. Korban meninggalkan surat perpisahan untuk ibunya

Surat tersebut diduga ditulis sendiri oleh YBS yang meminta ibunya untuk merelakan kepergiannya. Berikut isi surat YBS yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

“Surat buat Mama ****

Mama saya pergi dulu

Mama relakan saya pergi

Jangan menangis ya Mama

Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya

Selamat tinggal Mama”.

6. Korban tinggal bersama nenek

Ibu korban yang berinisial MGT adalah seorang single parent yang harus berjuang menghidupi kelima anaknya. Y selama ini tidak tinggal dengan ibunya melainkan dengan neneknya.

=====

Judul mengalami perubahan setelah ada update dari pihak kepolisian.

Baca juga artikel terkait KASUS BUNUH DIRI atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra