Menuju konten utama

Polemik Trah Pendiri NU Dukung Rizieq: Terbelah Sejak Diusulkan

Salah satu trah pendiri NU berupaya membawa organisasi kultural nahdliyin mendukung Rizieq Shihab.

Polemik Trah Pendiri NU Dukung Rizieq: Terbelah Sejak Diusulkan
Habib Rizieq Shihab (HRS) menyapa massa yang menjemputnya di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (10/11/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.

tirto.id - Agus Solachul Aam Wahib Wahab, cucu pendiri Nahdlatul Ulama, salah satu pimpinan Komite Kittah Nahdlatul Ulama 1926 (KKNU26), membuat manuver baru.

KKNU26 merupakan organisasi kelompok kultural Nahdliyin, dibentuk pada 2018 oleh mendiang Salahuddin Wahid (Gus Sholah), trah pendiri NU lain yang juga adik kandung Presiden RI ke-3, Abdurrahman Wahid. Salah satu tujuannya ingin mengembalikan PBNU, organisasi induk nahdliyin menjauh dari politik praktis.

Aam Wahib, cucu KH Wahab Hasbullah, datang ke markas Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, bertujuan menggalang dukungan agar komite NU berkembang.

KKNU26, kata dia, akan mengawal Rizieq Shihab untuk tablig akbar keliling Indonesia dengan jargon “Revolusi Akhlak”. Mulai dari ke makam-makam pendiri NU, ke makam Walisongo, hingga ke pondok pesantren.

“Mudah-mudahan keinginan bisa disampaikan ke beliau [Rizieq] dan kemudian merespons, dengan jawaban yang positif untuk kita semua. Ini salah satu cara KKNU26 mendampingi menyatukan dengan seluruh kiai-kiai NU kultural, sama-sama berjuang, demi, negara, dan agama kita cintai,” begitu katanya dikutip dari Youtube Front TV, 15 November 2020, sehari usai Rizieq Shihab bikin perayaan Maulid Nabi dan pernikahan.

Kesediaan mendukung Rizieq dibarengi dengan permintaan bantuan agar KKNU26 berperan membawa NU kembali berkiprah sesuai tujuan berdiri.

“Supaya NU kembali ke kittah-nya. Kembali ke jati diri, kembali ke rel, kembali ke marwahnya. Kita enggak mau NU dijadikan alat politik, politik praktis oleh orang-orang tertentu. NU sudah jadi pelat merah. Artinya sudah dikendalikan pemerintah, dikendalikan oleh sebagian partai. Harus dikembalikan ke jati dirinya,” kata Sekretaris Jenderal KKNU26.

Aam Wahab mengklaim KKNU26 sudah menjadi lembaga formal berbadan hukum dan setara dengan wadah organisasi tertinggi kaum nahdliyin, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Kita sudah membentuk pengurus wilayah di Jawa Timur, di Jawa Barat, di Jakarta, Banten, dan dalam waktu dekat seluruh Pulau Jawa sudah selesai. Jadi kita mohon bantuannya di daerah-daerah, Jakarta dan luar Jakarta bisa sama-sama bisa berjuang,” ujarnya.

Keinginan Aam Wahab terbentur dengan pimpinan lain. Rochmat Wahab, ketua umum KKNU26, mengaku heran dengan klaim Aam soal dukungan ke Rizieq. Pasalnya, tak pernah ada pembicaraan sebelumnya dengan komite.

“Ikut keliling? Saya enggak tahu. Enggak mau tahu. Saya bukan tipe orang ikutan orang rame-rame. Enggak pernah jadi program KKNU26,” kata Rochmat, saat dihubungi wartawan Tirto, 18 November lalu.

“Itu tidak menjadi tujuan orang-orang yang berjuang di KKNU. Pesan terakhir yang disampai Gus Sholah itu tidak seperti yang disampaikan Gus Aam di Petamburan. Itu klaim personal atau klaim kelompoknya aja. Tidak mewakili keseluruhan,” lanjutnya.

Rochmat juga membantah KKNU26 sudah berbadan hukum dan komite punya misi menyaingi PBNU, kelompok nahdliyin struktural, melainkan ingin memperbaiki dari dalam. Rochmat pernah memimpin NU di Yogyakarta.

“Itu hoaks [KKNU berbadan hukum]. Saya enggak tahu dari mana klaim itu. Saya ini kan diamanahkan untuk melanjutkan Gus Sholah. Gus Sholah membangun KKNU26 setelah ada friksi di tubuh NU [saat muktamar ke-33], yang sifatnya hanya komite,” ujarnya.

Lantang Kritik NU Struktural

Di NU sudah lazim terbagi kelompok kultural dan struktural. Ketika nahdliyin di struktur bertindak di luar tujuan awal organisasi, kelompok kultural seperti KKNU26 melontarkan kritik. Antara lain saat Maruf Amin maju sebagai calon wakil presiden saat masih menjabat Rais Aam, jabatan tertinggi di PBNU.

KKNU26 sempat mendesak agar PBNU segera menggelar Muktamar Luar Biasa untuk mengganti kepengurusan. Berdasarkan AD/ART, kata komite, Maruf Amin melanggar aturan karena menerima tawaran untuk menjadi pasangan calon Presiden Jokowi di Pilpres. Pasalnya, AD/ART NU melarang Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terlibat langsung maupun tak langsung dalam politik praktis. Maruf Amin saat itu menganggap angin lalu kritikan dari KKNU. Belakangan, Maruf Amin mundur dari posisi Rais Aam.

Meski tak ikut mendukung koleganya merapat ke Rizieq, Rochmat sepakat dengan konsistensi kritik ke NU.

“Ada rambu-rambu di dalam AD/ART, Rais Am, Khatib Am, Ketua Umum, Sekjen dilarang merangkap jabatan di jabatan publik. Kalau mau, harus mundur dulu. MA [Maruf Amin] tidak mundur. Tidak melewati proses itu,” ujar dia.

Kritik Rochmat teranyar adalah saat pengurus dan ketua NU Surabaya ikut menyaksikan siaran daring pemberian rekomendasi Pemilihan Wali Kota Surabaya 2020 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang menunjuk Eri Cahyadi.

Kendati Rochmat dan pengurus komite NU lantang bersuara kritis kepada struktural, tapi sikap politik, termasuk mendukung Rizieq disebut cerminan pribadi. Organisasi yang lahir sebagai penyeimbang NU struktural ini masih setia berjalan seperti pesan Gus Sholah, begitu klaim Rochmat.

Baca juga artikel terkait TOKOH NU atau tulisan lainnya dari Haris Prabowo

tirto.id - Politik
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Zakki Amali