tirto.id - Analis Kebijakan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Wahyu Septia W, mengatakan peningkatan eskalasi antara Iran dan Israel berpotensi menimbulkan disrupsi rantai pasok global. Ketika rantai pasok global terdisrupsi ada dua hal yang akan terjadi, di antaranya adalah berkurangnya pasokan atau dalam hal ini bahan baku.
“Kaitannya dengan Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak global, di mana 20 persen dari perdagangan minyak global itu lewat situ, jalurnya kalau misalnya ada konflik di situ, otomatis ada disrupsi rantai pasok di situ,” ujarnya dalam acara Ngonten Fiskal, yang disaksikan secara daring melalui YouTube DJSEF, Kamis (26/5/2025).
Kemudian, dampak lain dari disrupsi rantai pasok adalah potensi kenaikan biaya asuransi atas barang-barang angkutan, yang pada akhirnya akan menambah beban industri logistik dan manufaktur dunia.
Tia, sapaan Septia, menjelaskan, kenaikan biaya asuransi atas biaya barang-barang angkutan ini sebelumnya pernah terjadi, yakni saat Houthi yang didukung Yaman dan Amerika Serikat (AS) berkonflik, hingga membuat jalur perdagangan yang melewati Laut Merah harus ditutup. Dia pun khawatir, jika Selat Hormuz harus ditutup karena peningkatan eskalasi antara Iran dan Israel, biaya asuransi atas barang-barang angkutan dapat kembali meningkat.
“Misalnya, di tahun lalu kita ada red sea attack, di mana waktu itu Houthi ada serangan dan langsung meningkatkan global insurance rate, ya lewat situ. jadi, efeknya langsung ke situ,” tambahnya.
Setelah disrupsi rantai pasok, dampak perang Iran dan Israel akan merambat pada harga komoditas. Dalam hal ini, harga komoditas yang paling terpengaruh adalah minyak mentah.
“Kemarin kita lihat sendiri, kan perang masuk minggu ke dua ya minggu ini, baru sehari konflik saja, udah naik 8 persen kenaikan harga minyak, meskipun itu memang short leave. Tapi, memang itu ada dampaknya ke harga,” jelas Tia.
Terkereknya harga komoditas lantas akan berpengaruh pada kenaikan tingkat inflasi dunia, tak terkecuali Indonesia. Padahal, ketika tingkat inflasi tak terkenadali seperti yang tengah terjadi belakangan, praktis membuat bank-bank sentral di berbagai belahan dunia akan mempertahankan tingkat suku bunga tingginya.
“Padahal, kalau suku bunga enggak akan turun, ekonomi enggak akan jalan secepat biasanya di saat di mana prospek ekonomi global ini sudah diramalkan turun oleh berbagai lembaga internasional gara-gara ada ketidakpastian tarif. Jadi, sebetulnya yang dikhawatirkan banyak pihak terkait dampak ekonomi dari konflik Israel-iran ini lebih lewat price channel dari segi harga, inflasi, kemudian bisa ke growth juga,” tambahnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































