tirto.id - Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (EBTKE ESDM), Hendra Iswahyudi, mendorong masyarakat kembali menggalakkan penggunaan kompor induksi untuk memasak.
Karena menurutnya dengan memasifkan lagi penggunaan kompor berbasis listrik ini dapat mengurangi subsidi LPG 3 kilogram (kg) yang harus ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Nah, ini kita juga buka potensi untuk menghemat dari sisi subsidi, jadi juga menghemat devisa karena LPG juga masih banyak impor. Nah, ini perlu didorong juga(penggunaan kompor induksi),” katanya, dalam acara Diseminasi Hasil Studi: Data Analytics for A Just Transition yang diselenggarakan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (23/7/2025).
Kata Hendra, mengutip hasil beberapa kajian, biaya listrik untuk memasak menggunakan kompor induksi hampir sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk memasak menggunakan kompor LPG 3 kg.
Belum lagi, keterbatasan ketersediaan pasokan LPG karena hanya dapat digunakan oleh masyarakat miskin, semakin memperkuat alasan untuk dapat digalakkannya kembali penggunaan kompor induksi.
“Kemudian juga aman, karena kita tidak perlu khawatir gas bocor. Kemudian juga praktis, kita tidak perlu mengganti tabung, tinggal nyalakan saja,” lanjutnya.
Sementara itu, jika bicara soal subsidi energi, pemerintah tidak cukup hanya melihat berapa besar harga energi yang ditanggung oleh rumah tangga. Namun, fokus seharusnya dialihkan kepada pengeluaran rumah tangga untuk biaya energi bulanan yang harus dikeluarkan.
Sebab, dengan melihat total biaya energi bulanan yang dikeluarkan, dapat digunakan untuk mengukur berapa besar efisiensi yang dapat dilakukan.
“Karena kalau kita biaya energinya yang murah, dan rumah tangga terpacu, mengonsumsi energi berlebihan, secara tidak bijak, selain merusak lingkungan karena emisi yang dihasilkan pembangkit, kita juga tidak mengajari masyarakat untuk memakai energi secara bijak,” tutur Hendra.
Sebaliknya, dengan program efisiensi energi di rumah tangga, Indonesia juga dapat mengurangi beba subsidi energi sekaligus juga mengajarkan kepada masyarakat untuk berbuat baik bagi lingkungan.
“Nah itu mungkin faktor-faktor itu perlu masuk dalam pertimbangan kajian juga,” tukasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































