Menuju konten utama

Erupsi Lewotobi, BNPB Larang Warga Flores Timur Balik Kampung

Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan Pemda serta tidak mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya.

Erupsi Lewotobi, BNPB Larang Warga Flores Timur Balik Kampung
Kolom abu keluar dari kawah saat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki terlihat dari Desa Boru di Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT, Selasa (8/7/2025). ANTARA FOTO/Gregorio J Gilbert/app/tom.

tirto.id - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur untuk memastikan tidak ada lagi warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) usai ditetapkan BNPB. Hal ini merespons erupsi dahsyat Gunung Lewotobi Laki-laki, Jumat (1/8/2025) malam.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menekankan aktivitas gunung yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, masih terpantau tinggi pada Sabtu (2/8). Status AWAS juga sudah diberlakukan sejak 17 Juni 2025.

“Tolong Bupati Flores Timur ingatkan lagi kepada warga bahwa gunung ini sudah meletus terus, sudah tidak aman sehingga semua warga harus keluar dari wilayah KRB, jangan lagi ada masyarakat yang kembali ke kampung asalnya,” kata Suharyanto dalam keterangan pers tertulis, dikutip Minggu (3/8/2025).

Erupsi kali ini tidak memakan korban jiwa, namun BNPB mendapati masih ada warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, yang belum meninggalkan kawasan rawan bencana. Karena itu, Suharyanto mendorong pembangunan huntara tahap III. Saat ini, pembangunan huntara tahap III untuk warga terdampak masih berlangsung.

Terdapat 68 kopel dari 100 kopel yang direncanakan akan terbangun. Targetnya, kata dia, seluruh warga terdampak erupsi yang saat ini masih menempati tenda pengungsian bisa menghuni huntara III pada pertengahan bulan Agustus 2025.

Sebagai informasi, sejak awal 2024 hingga bulan Agustus 2025, PVMBG mencatat telah enam kali menetapkan status AWAS atau Level IV untuk Gunung Lewotobi Laki-laki.

Gunung berketinggian 1.584 Mdpl ini punya karakteristik erupsi eksplosif yang menghasilkan lontaran material pijar dan endapan abu. Selain itu, gunung ini berpotensi erupsi magmatis yang menghasilkan kubah lava, aliran lava, dan awan panas guguran.

Erupsi pada Jumat (1/8/2025) malam lalu menjadi salah satu fase erupsi terbesar dari Gunung Lewotobi Laki-laki dengan tinggi kolom abu mencapai 18.000 meter di atas puncak.

Kejadian ini hampir sama dengan fase erupsi pada tanggal 7 Juli 2025, namun durasinya jauh lebih panjang, yakni mencapai 14 menit 5 detik.

Kepala PVMBG, Hadi Wijaya, dalam keterangan yang sama menyatakan, Gunung Lewotobi Laki-laki masih berpotensi erupsi kembali. Pasalnya, tampak terjadi peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik dalam menuju permukaan.

Hadi meminta pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan karena berdasarkan hasil pengamatan pada erupsi terakhir, kejadian erupsi terjadi lebih cepat dari tanda-tanda kegempaan.

Kejadian erupsi biasanya diperkirakan terjadi selang 4 jam pasca tanda-tanda kegempaan, namun pada erupsi Jumat malam, erupsi terjadi dua jam pasca pemberitahuan tanda-tanda kegempaan.

“Adapun risiko bahaya yang ditimbulkan dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki meliputi sebaran abu vulkanik, lontaran material letusan hingga jarak 3-4 kilometer dari kawah, dan banjir lahar dingin seperti yang terjadi pada 29 Juli 2025 lalu,” ujar Hadi.

Berdasarkan data Citra Himawari pada Sabtu 2 Agustus 2025 kemarin, pukul 09.00 WIB pagi, terdapat sebaran debu vulkanik dengan ketinggian 45.000 kaki mengarah ke Barat Daya hingga Tenggara.

Wilayah sebaran meliputi Kabupaten Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Pulau Lembata, Kupang, Sumba, Perairan Selatan Flores, Laut Flores, Perairan Selatan Alor, Selat Ombai, dan laut Sawu.

BNPB mengimbau warga yang tinggal di sekitar wilayah terdampak erupsi menggunakan masker jika hendak bepergian ke luar rumah untuk menghindari bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

BNPB mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 6 kilometer dan Sektoral Barat Daya-Timur laut 7 kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan Pemda serta tidak mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Kondisi tektonik di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki per Sabtu kemarin terpantau stabil.

“Masyarakat tidak perlu khawatir akan ancaman tsunami karena tidak ada reruntuhan material gunung api yang jatuh ke laut dan tidak ada aktivitas vulkanik di dasar laut,” ungkap Kepala BNPB, Suharyanto.

Baca juga artikel terkait ERUPSI GUNUNG atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Anggun P Situmorang