Emak-Emak 212 dan Jaringan Orde Baru di Belakang Prabowo-Sandiaga

Oleh: Arbi Sumandoyo - 1 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Selain Pepes, emak-emak pendukung Prabowo-Sandi tergabung dalam Gempar dan PMMI.
tirto.id - Seketika saat seorang ibu meneriakkan 2019, sekumpulan emak-emak menimpali “Ganti Presiden”. Teriakan itu berlanjut dengan menyanjung Prabowo Subianto, sang patron mereka yang tak asing dalam kontestasi politik nasional sejak 2009.

Teriakan mereka mengundang perhatian pengendara jalan, kemudian memancing komentar warganet saat videonya diunggah di YouTube. Hari itu, 12 September 2018, ibu-ibu yang tergabung dalam Gerakan Emak-Emak Peduli Rakyat (Gempar) berdemonstrasi di depan Mabes Polri di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Aksi bersama Laskar Macan Asia itu mendesak Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut pelaku persekusi Ustaz Abdul Somad yang saat itu ditolak di beberapa tempat saat mengisi ceramah.

“Kepolisian melakukan pembiaran. Untuk itu, kami sama emak-emak meminta distop,” kata Asmaizulfi, akrab disapa Fifi, koordinator lapangan Gempar.


Gempar adalah gerakan emak-emak pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Perkumpulan ini resmi berdiri pada 16 November 2018 dan bermarkas di Jalan Rawa Badak Barat No. 2, Koja, Jakarta Utara. Ketua umumnya adalah Asmaizulfi. Beberapa nama pengawasnya yang terkenal adalah Habib Muchsin Alattas, mantan Ketua Umum DPP Front Pembela Islam; dan Japto Seorjasoemarno, tokoh Pemuda Pancasila, sayap paramiliter era Orde Baru.

Sementara Laskar Macan Asia diketuai oleh Fahrizal, yang tergabung dalam BPN Prabowo-Sandiaga. Pada 26 Januari 2019, Laskar Macan Asia mengukuhkan pengurus di 13 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Andre Rosiade, wakil sekjen Partai Gerindra, bahkan pernah menemui Laskar di Kota Padang.

Muchsin Alattas berkata Gempar memang bertujuan politis, mengampanyekan Prabowo-Sandiaga dari rumah ke rumah terutama di wilayah Jakarta.

“Mereka berperan secara politis, akan tetapi memiliki kapasitas sebagai emak-emak,” kata Muchsin kepada Tirto.


Asmaizulfi, atau akrab disapa Fifi, bukan wajah baru dalam politik pasca-Pilkada Jakarta 2017.

Ia pernah menggerakkan emak-emak mendemo Joko Widodo di depan Istana Negara pada 18 Juli 2018. Fifi dkk saat itu memakai nama Barisan Emak-Emak Militan Indonesia dalam unjuk rasa yang disebutnya ‘Aksi 187’, meniru penamaan 'Aksi 212'—mobilisasi massa Islam yang berhasil memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama, kolega politik Jokowi.

Fifi, sebagai koordinator aksi tersebut, menuntut pemerintahan Jokowi menurunkan harga bahan pokok hingga tarif dasar listrik, di antara barisan emak-emak yang membawa perkakas dapur rumah tangga.

Aksi itu memakai mobil komando FPI, mobil yang sama saat dipakai Gempar dalam aksi di depan Mabes Polri.

Asmaizulfi adalah istri Mayor Jenderal (Purn) Moerwanto Soeprapto, Ketua Yayasan Citra Handadari Utama, yang pernah menjabat sekjen Departemen Sosial pada masa Orde Baru. Yayasan ini bersengketa dengan Kementerian Sosial atas kepemilikan lahan dan pengelolaan Gedung Cawang Kencana di Jakarta Timur.

Mengurut kasus tersebut, lahan seluas 0,8 hektare itu dimiliki oleh Departemen Sosial yang dikelola Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial. Yayasan ini mendirikan Gedung Cawang Kencana dari dana judi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah/Porkas, yang sangat terkenal pada 1980-an.

Pada 1999, Moerwanto, suami Fifi, mengalihkan pengelolaan gedung dan lahan tersebut ke yayasan miliknya, lalu disewakan ke pihak ketiga sehingga merugikan keuangan negara Rp726 juta, menurut putusan Mahkamah Agung pada Oktober 2014. Moerwanto divonis bersalah dan menjalani hukuman 4 tahun penjara.


Infografik HL Indepth Emak Emak Pilpres 2019
Infografik Emak-Emak Pilpres 2019. tirto.id/Lugas

Dukungan Emak-Emak 212

Selain perkumpulan emak-emak yang diinisiasi oleh Fifi Asmaizulfi, kelompok ibu-ibu lain pendukung Prabowo-Sandiaga adalah Perkumpulan Persaudaraan Emak-Emak Indonesia (PMMI), yang dikomandoi oleh Asma Ratu Agung.

PMMI berdiri pada 17 September 2018 dan bermarkas di Jalan Mampang Prapatan II No. 32, Jakarta Selatan. Ide pendirian perkumpulan, sebagaimana tercatat dalam profilnya, “melakukan gerakan revolusi fungsional sesuai kapasitas dan otoritas yang dimiliki oleh seluruh lapisan emak-emak Indonesia ... [demi] mengembangkan sistem politik dan demokrasi Indonesia ... menuju ‘Rahmatan Lil Alamin’."

Berselang hampir sebulan setelah resmi terdaftar di Ditjen Administrasi Hukum, Kementerian Hukum dan HAM, PMMI memiliki kepengurusan di 34 provinsi, 416 Kabupaten, 98 kota, dan 7.094 kecamatan.

Asma Ratu Agung, panglima PMMI, bukanlah orang baru dalam politik Pilpres sekarang saja.

Pada Juli 2017, nama Asma jadi sorotan media karena mengaku sebagai inisiator pendirian Partai Syariah 212 yang dideklarasikan di Gedung Juang 45, Jakarta Pusat. Ia juga masih tercatat dalam situs resmi ICMI sebagai wakil sekretaris dewan penasihat pusat periode 2015-2020.

ICMI, akronim dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dibentuk pada 1990 di masa Soeharto memandang gerakan kelompok Islam semakin penting dirangkul demi menyokong pemerintahan Orde Baru. Ketua umum pengurus pusat ICMI Jimly Asshiddiqie pernah melantik Sandiaga Uno sebagai Ketua ICMI DKI Jakarta pada 7 Desember 2018.


Asma juga mendukung Prabowo pada Pilpres 2014. Ia hadir dalam deklarasi dukungan "guru besar dan cendekiawan" terhadap Prabowo pada April 2014 dengan memakai nama Institut Madani Nusantara. Institut inilah yang mengundang Prabowo sebagai pembicara dalam sebuah seminar bertajuk "Paradoks Indonesia" pada September 2018.

Asma pernah menyebut penasihat PMMI adalah Mien Uno dan Nur Asia Uno (ibu dan istri Sandiaga), serta Titiek Prabowo, di antara nama lain.


Titiek atau Siti Hediati Harijadi, putri kedua Soeharto, adalah mantan istri Prabowo. Pilpres kali ini Titiek bergabung dengan adiknya, Tommy Soeharto, lewat Partai Berkarya setelah meninggalkan Partai Golkar, sama-sama mendukung Prabowo-Sandiaga.

Selain Asma Ratu Agung, ada nama Erna Kadhy Iriany sebagai sekretaris Persaudaraan Emak-Emak Indonesia. Erna pernah mencalonkan diri sebagai legislator dari Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pada Pemilu 2004, tapi cuma memperoleh 0,14 dari total suara sah di daerah pemilihan Jateng II.

PKPB, lagi-lagi, terhubung pada Orde Baru. Partai ini menjadi bagian dari rezim Orde Baru, diketuai oleh Jenderal (Purn) Hartono, menteri dalam negeri pada bulan-bulan terakhir kekuasaan Soeharto (Maret-Mei 1998).

PKPB pernah mengusung Siti Hardianti Rukmana alias Tutut, putri pertama Soeharto, sebagai calon presiden, tetapi gagal karena cuma meraih dua kursi di DPR pada 2004.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Politik)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan