tirto.id - GITEX, salah satu ajang teknologi terbesar dunia, memutuskan untuk melebarkan kembali sayap mereka dan berekspansi ke pasar Vietnam. Diselenggarakan oleh Dubai World Trade Centre (DWTC) dan KAOUN International bekerja sama dengan Vietnam National Innovation Centre (NIC), GITEX VIETNAM perdana akan digelar di Hanoi pada 1–2 Oktober 2026.
Executive Vice President DWTC & CEO KAOUN International, Trixie LohMirmand menjelaskan alasan GITEX memilih Vietnam karena negara ini memiliki ambisi yang sama untuk tumbuh dan membangun dunia bisnis yang lebih besar dan berkelanjutan.
"Ini adalah negara dengan lebih dari 100 juta penduduk. 100 juta. Bayangkan skalanya ini," ungkapnya pada GITEX ASIA 2025 di Marina Bay Sands, Kamis (24/4/2025).
Dirinya menggarisbawahi fakta bahwa hanya ada sedikit startup Vietnam yang hadir di acara GITEX di Singapura dibandingkan dengan potensi yang dimiliki Vietnam. Saat ini setidaknya terdapat sekitar 4.000 startup yang berkembang di Vietnam, termasuk dua unicorn. Potensi ini kemungkinan besar belum banyak diketahui oleh para pemain global.
Terlebih lagi terdapat ratusan investor, universitas dan institusi yang terjun langsung di pengembangan inovasi. Belum lagi komitmen pemerintah Vietnam untuk menghasilkan 50.000 profesional IT setiap tahun.
Lebih lanjut, GITEX VIETNAM diharapkan menjadi platform utama bagi komunitas teknologi, startup, dan investasi untuk terhubung, bertukar wawasan, dan mendorong masa depan ekonomi berbasis AI. Kedatangan GITEX dianggap sebagai momen transformatif bagi ekosistem teknologi, inovasi, dan investasi digital Vietnam
Difasilitasi oleh Tony Blair Institute for Global Change (TBI), kemitraan strategis ini merupakan babak baru dalam ekspansi global, menjadi acara unggulan selama Pekan Inovasi Nasional Vietnam dan mendorong ekosistem nasional menuju potensi ekonomi digital sebesar 200 miliar dolar AS pada tahun 2030.
“Ini akan membuka peluang kolaborasi bisnis baru antara sektor pemerintah dan swasta di seluruh dunia. GITEX akan mengangkat ekosistem regional yang dinamis dan sangat termotivasi ke dalam jagat teknologi internasional. Saya pikir dunia teknologi akan mendapat kejutan yang menyenangkan,” imbuhnya.
Saat ini, Vietnam menempati peringkat kedua dan kelima secara global dalam ekspor ponsel pintar dan komputer. Industri semikonduktor Vietnam sendiri telah melampaui 18 miliar dolar AS pada 2024 (SEMI), sementara sektor manufaktur dan konstruksinya berada di garis depan pembangunan ekonomi nasional, mempekerjakan 17,4 juta orang dan menyumbang 33,4 persen dari total pekerjaan nasional (GSO).
Negara ini juga memiliki target ekonomi yang cukup ambisius di tengah dinamika geopolitik global. Dengan target pertumbuhan ekonomi menyentuh double digit, kontribusi ekonomi digital diharapkan mencapai 30 persen pada 2030.
“Kami berharap kontribusi (ekonomi digital) 30 persen untuk ekonomi nasional pada 2030,” jelas Tran Phuoc Anh, Duta Besar Vietnam untuk Singapura pada kesempatan yang sama, Kamis.
Selain itu, Strategi Nasional Pengembangan Ekonomi Digital dan Masyarakat Digital Vietnam menargetkan posisi sebagai pusat TI dan keamanan jaringan terkemuka di kawasan pada 2030, dengan prioritas pada pengembangan infrastruktur AI, keamanan siber, internet kecepatan tinggi, pusat data ramah lingkungan, taman IT khusus, dan lainnya.
“Melihat ke depan, kami antusias menyambut kemungkinan untuk mengadakan diskusi bermakna, menjalin kemitraan baru, memamerkan peluang co-investment, dan memperdalam pemahaman terhadap teknologi baru bersama mitra dan sahabat global. GITEX VIETNAM akan menjadi platform utama bagi komunitas teknologi, startup, dan investasi untuk terhubung, bertukar wawasan, dan mendorong masa depan ekonomi berbasis AI, ” ungkap Kim Ngoc Thanh Nga, Deputy Director Vietnam National Innovation Center pada Kamis.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id





































