tirto.id - Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2026 mampu mencapai 5,5 persen, melampaui asumsi APBN sebesar 5,4 persen. Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa indikator makro ekonomi hingga Februari 2026 masih terjaga kuat, didorong oleh resiliensi konsumsi rumah tangga, akselerasi investasi, serta terkendalinya harga minyak mentah (ICP) di bawah asumsi fiskal.
"Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 diperkirakan akan tumbuh 5,5 persen. Kalau kata Febrio [Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal] 5,5-6 persen. Bisa gak? Enam mungkin bisa katanya," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBNKita di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, asumsi dasar makro di awal tahun 2026 mencerminkan pondasi ekonomi yang kuat dengan angka pertumbuhan yang optimis. Proyeksi ini ditopang oleh sejumlah faktor fundamental.
Konsumsi rumah tangga dinilai masih resilien, investasi pada proyek strategis dan perumahan terus mengakselerasi, serta output sektor manufaktur berbasis hilirisasi menunjukkan kinerja positif.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi tercatat masih terkendali. Purbaya menyebut kenaikan inflasi hingga level 4,76 persen masih dalam batas yang terkelola.
"Ketahanan sektor keuangan domestik tetap terjaga meski tertekan sentimen risk of global. Tekanan pada rupiah dan SBN masih manageable," jelasnya.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas pasar keuangan dan membangun pasar ke depan. Meskipun nilai tukar rupiah mengalami tekanan ke level Rp16.919 per dolar AS di atas asumsi makro Rp16.500 per dolar AS.
Dari sektor energi, realisasi harga minyak mentah Indonesia (ICP) hingga Februari 2026 tercatat sebesar 68,8 dolar AS per barel. Angka ini masih berada di bawah asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.
"Berdasarkan estimasi kami, realisasi ICP secara average year-to-date hingga 11 Maret 2026 sekitar 68 dolar AS per barel. Ini udah memasukkan kenaikan (minyak mentah) yang 120 yang sebentar itu ya. Ini masih di bawah asumsi APBN yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel," paparnya.
Menurutnya, kondisi ini memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah. Purbaya menegaskan bahwa dengan realisasi harga minyak yang masih di bawah asumsi, APBN 2026 saat ini berada dalam posisi yang kuat. Ia merespons kekhawatiran publik mengenai kemungkinan perubahan APBN jika harga minyak melonjak.
"Kemarin banyak yang nanya harga minyak sudah 100 apakah pemerintah akan ubah APBN? Belum kalau lihat dari sini sampai kemarin masih tatarannya 68. Artinya apa? Kita masih bagus. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN tapi kita semua berawal dalam posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir," tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id



































