tirto.id - Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, mengatakan Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon mencapai 600 gigaton. Namun, potensi ekonomi senilai miliaran dolar AS ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kita potensinya 600 gigaton, tetapi sampai sekarang belum terutilisasi. Industri ini masih mau kita bidani, untuk dilahirkan. Investasi sekarang menunggu perizinan, menunggu perjanjian untuk penyuntikan dan penyimpanan karbon dengan negara-negara lain,” katanya dalam gelaran The 3rd IICS Forum di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Menurut Eddy, salah satu kendala utama dalam pemanfaatan potensi Carbon Capture and Storage (CCS) adalah perlunya perjanjian antarnegara terlebih dahulu.
"Misalkan kalau sampai kita ingin menggiatkan cross border CCS, antar Indonesia dengan Singapura, dengan Korea, dengan Jepang, harus ada perjanjian antar-negara terlebih dahulu. Ini kita laksanakan," jelasnya.
Dia menilai, potensi pasar internasional sangat besar karena negara-negara maju membutuhkan tempat penyimpanan karbon. Dengan cakupan luas lautan dan lahan, Indonesia memiliki potensi besar sebagai penangkap karbon alami.
"Potensi utama mungkin dari market asing. Karena mereka punya kebutuhan yang begitu besar, tetapi tidak punya tempat penyimpanan karbon. Oleh karena itu Indonesia dengan kapasitas yang begitu besar menjadi salah satu prospek bagi mereka," ujar Eddy.
Eddy menyoroti besarnya investasi yang sudah mulai masuk ke sektor CCS di Indonesia. Dia menjelaskan, saat ini sudah ada komitmen investasi dari Exxonmobil dengan Pertamina untuk menggarap kompleks petrokimia canggih, dengan fasilitas rendah emisi, termasuk memanfaatkan potensi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture Storage (CCS) terpusat (CCS Hub) senilai 10 miliar dolar AS.
"Sekarang saja di Selat Sunda itu sudah dikerjakan antara Pertamina dengan Exxon Mobil. Kira-kira investasi berapa? Ya kurang lebih 10 miliar dolar AS. Belum lagi investasi Inpex di Masela,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa potensi investasi yang masuk sangat besar dan akan menciptakan lapangan kerja serta menjadi pilar ekonomi baru.
"Yang penting juga tidak kalah pentingnya adalah menciptakan sebuah pilar ekonomi baru yang namanya ekonomi karbon. Dengan hadirnya ekonomi karbon di mana CCS akan menjadi bagian dari ekonomi karbon yang besar itu, kita harus berharap bahwa Indonesia akan memiliki pendapatan yang baru,” tuturnya.
Kapasitas penyimpanan karbon Indonesia yang mencapai 600 gigaton dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu sangat lama.
"Kita berharap dengan 600 gigaton itu, berapa pun yang nanti akan diterima dengan kompetensi kawasan yang ada, termasuk potensi di Indonesia, 200 tahun tidak akan habis-habis. Cukup untuk penyimpanan karbon di Indonesia," ujar Eddy.
Eddy menegaskan keterlibatan MPR dalam mendorong pengembangan CCS terkait dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). "MPR seperti yang tadi saya sampaikan, kita di MPR memiliki gerakan yang mendorong advokasi SDGs. Dan salah satu SDGs itu terkait dengan permasalahan lingkungan hidup,” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































