1 November 2017

Eddie Lembong: Legenda Industri Obat & Pengusung Keberagaman

Ilustrasi Mozaik Eddie Lembong. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 1 November 2019
Dibaca Normal 2 menit
Setelah puluhan tahun memimpin Pharos, Eddie Lembong mendirikan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) dan Yayasan Nabil.
tirto.id - Ong Joe San lahir di Sulawesi. Ia anak kelima dari pasangan Joseph Lembong dan Maria Lembong. Ayahnya seorang pedagang kecil di Tinomba, Sulawesi Tengah. Bakat dagang ayahnya menurun pada dirinya. Ong Joe San alias Eddie Lembong mengenyam pendidikan sekolah dasar di Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK).

Eddie dan saudara-saudaranya, seperti dicatat dalam buku Geliat Industri Farmasi di Indonesia Menuju Era Globalisasi (1999:7), sempat tinggal di rumah pamannya di Gorontalo selama satu setengah tahun. Setelah itu, mereka ke Manado. Eddie menamatkan SMP dan SMA di Don Bosco, sekolah terkenal di kota Manado. Pada tahun 1950-an, Eddie lulus dari SMA.

Awalnya ia ingin menjadi dokter, namun gagal dalam psikotes saat berjuang untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia akhirnya banting stir ke jurusan farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurutnya, sebagaimana ilmu kedokteran, jurusan yang terkait dengan obat-obatan ini bukan sekadar ladang untuk mencari uang, tapi juga berhubungan langsung dengan keselamatan umat manusia.

Semasa kuliah, ia aktif di Himpuan Mahasiswa Farmasi Ars Preparandi sebagai ketua bidang kesejahterahaan. Selain aktif berorganisasi, bakat dagang yang ia warisi dari ayahnya pun mulai terlihat. Eddie mengasah bakat kewirausahaannya dengan berbisnis buku dan diktat. Ia memperoleh omzet yang sangat tinggi.

Setelah lulus pada tahun 1964, Eddie sempat mengajar di ITB sambil menjadi apoteker di Apotek Abadi Bandung. Kala itu, ia sering bolak-balik Bandung-Jakarta untuk pelbagai keperluan. Tanggal 30 September 1965--detik-detik genting menjelang penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat--Eddie sedang dalam perjalanan kembali ke Bandung. Itu harus dilakukannya karena pada 1 Oktober pagi ia akan ikut dalam pembuatan film tentang kegiatan riset obat asli di ITB, yang diselenggarakan oleh Perusahaan Film Negara (PFN).

Tahun 1967, ia pindah ke Jakarta. Eddie pernah ditawari bekerja di Eropa dengan gaji lumayan besar, namun di masa perekonomian sulit itu, ia malah memilih bekerja di perusahaan lokal yang juga tertimpa kesulitan.

Pada perjalanan kariernya, Eddie pernah menjadi petinggi PT Wigo. Dan langkah terpenting dalam hidupnya adalah mendirikan PT Pharos pada 30 September 1971 bersama seorang kawannya. Mulanya, mereka membagi kepemilikan saham sebesar 50:50. Namun, karena hanya Eddie yang terus bertahan, ia akhirnya menjadi pemilik dan memimpin perusahaan itu.

Pharos menjadi pelaku penting dalam bisnis obat di Indonesia. Seperti dituturkan Eddie dalam Apa & siapa sejumlah orang Indonesia 1983-1984 (1984:425), beberapa perusahaan asing mempercayai Pharos untuk memproduksi obat mereka, salah satunya The Wellcome Foundation Ltd. dari Inggris. Pharos dipercaya untuk memproduksi tablet Digoxin dengan merek Lanoxin, yakni obat sakit jantung. Tak sekadar memproduksi, Pharos juga mengontrol peredarannya.

Kerjasama dengan perusahaan Inggris tersebut kemudian melahirkan PT Wellcome Indonesia. Dalam perusahaan ini, Eddie pernah menjadi salah satu direkturnya.


Karyawan dan Pahlawan

Sejak awal, Eddie berinvestasi besar dalam hal sumber daya manusia. Ia merekrut tenaga-tenaga muda dengan kemampuan yang mumpuni. Setiap tahun, sekitar 300 karyawannya dikirim untuk belajar ke luar negeri.

Meski hampir sepanjang hayatnya bergelut dengan obat-obatan, namun Eddie jarang mengonsumsi obat.

“Saya kurang senang minum obat. Walaupun saya yakin obat yang kami buat sangat mujarab,” ucapnya dalam Apa & siapa sejumlah orang Indonesia 1983-1984 (1984:425).

Dalam dunia obat-obatan di Indonesia, Eddie dikenal sebagai penemu Pharolit 200 (obat diare berbentuk bubuk yang merupakan campuran unsur kimia gula dan garam), dan ardivit (kuplet berselaput gula dengan formula multivitamin dan mineral). Penemuannya itu menjadi bukti bahwa dirinya tak sekadar menjual obat, tapi juga menciptakan obat baru.

Setelah puluhan tahun memimpin Pharos dan anak-anak perusahaannya, Eddie Lembong akhirnya mundur, tepat setahun setelah kerusuhan 1998. Bersama Ir. Gilbert Wiryadinata, pada 10 April 1999, Eddie mendirikan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) demi kesamaan hak dan melawan diskriminasi pada etnis Tionghoa.

Tahun 2006, ia mendirikan Yayasan Nabil yang aktivitas utamanya "memperkenalkan, menyebarluaskan, dan mengembangkan doktrin Penyerbukan Silang Antarbudaya". Lewat yayasan ini, Eddie Lembong mendorong pemberian gelar pahlawan nasional bagi John Lie dan Abdurrahman Baswedan. Pada 1 November 2017, tepat hari ini 2 tahun lalu, Eddie Lembong meninggal dunia.

Seperti John Lie yang Tionghoa, dan Abdurrahman Baswedan (kakek Anies Baswedan) yang berdarah Arab, Eddie sangat sadar bahwa dirinya bagian dari Indonesia. Bagi Eddie, keduanya adalah panutan.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI FARMASI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight