E-Commerce 2017: Miliaran Orang Belanja dan Milik Para Miliarder

Gudang toko online Lazada di Cakung, Jakarta Timur. REUTERS/Darren Whiteside
Oleh: Ahmad Zaenudin - 26 Desember 2017
Dibaca Normal 2 menit
Dari sekitar 7 miliar orang di Bumi, ada 1,77 miliar orang yang gemar berbelanja online di tahun ini, dan ditaksir nyaris 2 miliar di tahun depan.
tirto.id - Tahun ini jadi periode yang penting bagi Jeff Bezos, pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Amazon. Keberadaan e-commerce rintisannya mampu mendompleng Black Friday, ia juga sempat naik ke panggung teratas orang terkaya dunia, menggeser Bill Gates yang sudah bertahun-tahun di posisi teratas.

Bisnis online yang dikembangkannya memang menguntungkan. Awalnya hanya berjualan buku, Amazon, bersalin rupa menjadi raksasa e-commerce. Ia menjadi perusahaan yang memiliki banyak lini bisnis seperti kindle, hingga jualan Cloud Storage. Jeff Bezos seolah menjadi simbol perkembangan pesat bisnis e-commerce.


Secara global bisnis e-commerce di 2017 menggairahkan. Sektor ritel di dunia menyumbang angka penjualan hingga $2,290 triliun, meningkat dari $1,859 pada tahun sebelumnya.

Indonesia juga mengalami gelombang bisnis e-commerce pada 2017 sektor e-commerce menyumbang penjualan hingga $7,056 miliar, meningkat dari $5,780 miliar di 2016.

Selain gairah soal angka-angka penjualan, e-commerce Indonesia pada 2017 disemarakkan dengan serangkaian aksi korporasi. Alibaba pada Juni 2017 menambah kepemilikan saham pada Lazada, dari hanya 51 persen menjadi 83 persen.

Selain aksinya pada Lazada, Alibaba juga menyuntikkan modal ke Tokopedia. Perusahaan yang dipimpin Jack Ma itu mengucurkan investasi senilai $1,1 miliar pada Agustus lalu.

Tahun ini juga menjadi tahun bangkitnya perusahaan-perusahaan nasional besar. Pada 10 Oktober lalu, Salim Gruop, konglomerasi membangun sebuah e-commerce baru bekerjasama dengan Lotte Grup bernama iLotte. Kedua konglomerasi itu mengucurkan dana senilai $100 juta untuk iLotte.


Salim Group termasuk agresif di tahun ini. Pendirian iLotte dilakukan selepas akusisi Elevenia, e-commerce yang sebelumnya dimiliki oleh XL Axiata.

“Salim punya banyak visi membangun digital ekonomi di Indonesia. Kemarin Salim akuisisi Elevenia. Nah, ini iLotte,” kata Steven Calvin, Vice President Director PT Indo Lotte Makmur saat peluncuran iLotte.

Secara umum, perkembangan e-commerce Indonesia tahun ini hanya diramaikan oleh pemain-pemain lama. Data yang dipaparkan iPrice, layanan pembanding harga, mengungkapkan bahwa dari kuartal I-2017 hingga kuartal IV-2017, Lazada merupakan e-commerce yang paling banyak dikunjungi. Selebihnya ada Bukalapak, Elevenia, dan Shopee.



Peluang E-Commerce di 2018

Pada tahun depan, dunia e-commerce diperkirakan akan tetap bergairah. Dalam publikasi bertajuk “Future of E-Commerce” dalam laporan Reconteur, penggila belanja online diprediksi akan meningkat. Pada 2017 tercatat ada 1,77 miliar orang berbelanja online atau meningkat 9,2 persen dibanding setahun sebelumnya. Pada 2018, pengguna belanja online diperkirakan akan mencapai 1,91 miliar orang yang berbelanja.

Tumbuhnya jumlah orang yang belanja online dipengaruhi terutama oleh meningkatnya penetrasi kepemilikan smartphone. Dalam publikasi berjudul “What’s Next in E-commerce” oleh Nielsen, pertumbuhan peritel online dengan penetrasi smartphone berjalan beriringan.

Negara-negara seperti Cina, India, dan Indonesia, diprediksi akan menjadi penggerak utama e-commerce dunia. Jack Ma yang merupakan sosok dalam barisan miliarder di Cina ini, pernah mengatakan bahwa ada perbedaan mencolok antara eksistensi e-commerce di Cina dan AS. Menurutnya, e-commerce di AS hanya berupa hidangan penutup, suplemen bagi bisnis tradisional. Namun, Cina, dan negara lainnya, dunia e-commerce adalah segalanya.

Baca juga: VP Alibaba Group: UKM adalah Masa Depan E-Commerce di Indonesia

“Sangat sulit bagi e-commerce tumbuh di AS. Tapi di Cina, karena infrastruktur sistem penjualan konvensional payah, e-commerce kemudian menjadi hidangan utama,” kata Jack Ma.

E-commerce secara umum juga merupakan bagian teknologi yang mendisrupsi dunia konvensional. Ia kemudian, sebagaimana diprediksi Jack Ma, akan menjadi “bisnis tradisional.”

“Kami mengantisipasi kalahiran dari pendefinisian ulang industri retail,” katanya kepada South China Morning Post.

Dari sisi teknologi, e-commerce di tahun depan akan jauh dimeriahkan oleh perangkat-perangkat cerdas. Terutama speaker pintar.

Sekadar membandingkan, pada tahun ini Amazon telah membuktikannya. Riset yang dilakukan Linc Global dan Rakuten, sebagaimana disarikan CNBC, ada korelasi positif antara kepemilikan speaker pintar dengan pembelian yang dilakukan di e-commerce, terutama Echo, speaker pintar buatan Amazon.

“Platform suara Alexa (asisten pintar yang ada di balik Echo) menyediakan kanal pemasaran hebat bagi suatu brand untuk menjual produknya langsung,” kata James Lee, analis Mizuho Securities pada CNBC.

Selain Amazon yang merilis Echo, tahun ini juga disemarakkan oleh banyak perusahaan yang merilis perangkat serupa. Google Home, Apple HomePod, Line Wave, Tmall Genie, dan speaker pintar dari Facebook hadir tahun ini.


Pada 2018 penetrasi kepemilikan perangkat canggih tersebut diprediksi meningkat. Ini belum ditopang oleh teknologi-teknologi lainnya seperti artificial intelligence (AI) yang berbentuk chatbot dan lain-lain. Semua itu tentu berpengaruh pada dunia e-commerce tahun depan. Dan bisa jadi melahirkan Jeff Bezos baru di dunia e-commerce.

Baca juga artikel terkait E-COMMERCE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight