tirto.id - Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial (Kemensos) menggelar kegiatan yang bertajuk "Sosialisasi Anti Bullying Remaja Berkarakter dan Berempati" di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi pada Senin (11/5/2026).
Sosialisasi ini bagian dari upaya meningkatkan kesadaran sekaligus kepedulian di kalangan pelajar akan pentingnya menjauhi bullying atau perundungan.
Kegiatan ini digelar sebagai respons atas meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia, khususnya perundungan (bullying) yang menjadi salah satu bentuk kekerasan paling sering terjadi di lingkungan sekolah.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat tren kasus yang terus naik sejak 2021 hingga 2025.
Pada awal 2025 saja, terjadi 4.664 kasus kekerasan terhadap anak. Di balik angka itu, ada anak-anak yang terluka secara fisik dan batin, termasuk di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman: sekolah.
Pentas tari kreasi tradisional oleh siswi SMRA 13 Bekasi yang menghadirkan suasana hangat dan penuh semangat membuka kegiatan ini. Acara juga disemarakkan dengan penampilan pidato siswa-siswi dalam bahasa Inggris, Arab, dan Jepang di hadapan 180 pelajar beserta hadirin yang mengikuti sosialisasi tersebut.
Wakil Ketua II DWP Kemensos, Evi Agus Zainal, menyatakan kegiatan sosialisasi ini menjadi respons terhadap situasi yang tidak bisa lagi diabaikan.
"Kegiatan ini diselenggarakan sebagai respons atas maraknya kejadian bullying di kalangan pelajar saat ini. Kita ingin anak-anak tidak hanya memahami bahayanya, tetapi juga berani menghentikannya," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Istri Menteri Sosial Saifullah Yusuf sekaligus Penasihat DWP Kemensos RI, Fatma Saifullah Yusuf, berpesan agar para siswa menjadi pelopor perubahan, terutama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan.
"Kami percaya bahwa murid SRMA 13 Bekasi adalah anak-anak baik. Dengan bimbingan kepala sekolah dan para guru, kita harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling mengasihi," kata Fatma.
Ia mengingatkan, upaya menghentikan praktik bullying perlu dimulai dari diri sendiri. Tidak harus dengan upaya besar, cukup dengan langkah-langkah sederhana di keseharian seperti menghargai perbedaan, saling menghormati, dan berani berkata "tidak" pada perundungan.
"Jangan hanya menjadi penonton, tetapi beranilah membela yang lemah dan mendukung korban," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, menyatakan sekolahnya terus berupaya menghadirkan lingkungan yang sehat serta positif bagi semua peserta didik.
"Di sini, ada 14 [kegiatan] ekstrakurikuler untuk memenuhi kebutuhan aktivitas anak-anak, agar mereka bisa berkembang dan terarah dalam kegiatan yang positif," jelasnya.
Deklarasi Tolak Bullying dan Sosialisasi yang Berkesan
Guna menegaskan sikap menolak bullying, kegiatan tersebut juga diisi dengan pembacaan "Deklarasi Anti-Perundungan" oleh perwakilan siswa. Pembacaan deklarasi ini menegaskan komitmen bersama untuk memberantas bullying, menghargai sesama, serta menyebarkan pesan positif di sekolah.
Deklarasi lalu ditandatangani bersama oleh Fatma Saifullah Yusuf, jajaran DWP Kemensos, Direktur Anak, Kepala Sentra Terpadu, serta perwakilan sekolah sebagai simbol dari tekad kolektif untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi sosialisasi interaktif bersama Ginanjar Maulana atau akrab disapa Kang Gin, seorang trainer dan motivator. Ia mengajak para siswa terlibat langsung lewat role play: simulasi situasi perundungan yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Lewat metode ini, siswa diharapkan tidak sekadar memahami bullying secara teori. Mereka bisa merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi korban, pelaku, maupun saksi.
Simulasi pengalaman itu dirancang untuk menumbuhkan empati, mempertajam kesadaran emosional, dan melatih keberanian siswa dalam bertindak saat menghadapi situasi nyata.
Salah satu siswi SMRA 13 Bekasi, Alma, menilai kegiatan ini meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
"Dengan ada sosialisasi ini ditambah pakai praktik, jadi paham bagaimana enggak enaknya ngebully, tapi juga bisa dihentikan sama lingkungan. Ini jadi pengingat buat kita supaya enggak melakukan hal itu juga,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan aksi kepedulian yang konkret. Melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), sebanyak lima penerima manfaat mendapatkan bantuan kursi roda. Mereka adalah Eko Yulianto (28) dari Bekasi, Fao (48) dari Bandung, Wilson (33) dari Bekasi, Chelsea (9) dari Ternate yang mengidap kelainan jantung, serta seorang lansia bernama Rosada.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































