Menuju konten utama

Duka Pelajar Aceh Tamiang: Seragam Tak Punya, Meja-Kursi Tak Ada

Di Aceh Tamiang, hampir lima bulan setelah bencana, siswa datang ke sekolah dengan seragam bekas dan masih belajar di lantai kelas.

Duka Pelajar Aceh Tamiang: Seragam Tak Punya, Meja-Kursi Tak Ada
Suasana kelas SMPN 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (13/4/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

tirto.id - Aktivitas belajar mengajar di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, tak lagi sama sejak bencana ekologis melanda Sumatera pada akhir November 2025. Di Kota Kecamatan berpenduduk sekitar 22 ribu jiwa itu, pemulihan layanan pendidikan—dari tingkat dasar hingga menengah—masih berlangsung tertatih.

Siswa datang ke sekolah dengan seragam seadanya, dan menghuni kelas-kelas tanpa penyejuk udara, tirai, bahkan listrik. Tak hanya itu, alas tempat mereka melungguh hanya keramik, sedang plafon di sejumlah kelas terlihat porak-parik. Pemandangan itu saya jumpai saat berkunjung ke SMPN 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, pada Senin (13/4/2026) siang.

Jangankan untuk kegiatan belajar, berangkat ke sekolah saja barangkali menjadi cobaan tersendiri bagi para siswa. Di jalan menuju sekolah, saya menyaksikan bagaimana debu jalanan tampak rawan mengganggu saluran pernapasan dan menggangu jarak pandang. Ia adalah sisa-sisa dari endapan lumpur yang sebelumnya menggenangi jalanan, dan kini telah dibersihkan ke tepi jalan menjadi tumpukan setebal 50-100 sentimeter.

Jejak bencana memang belum benar-benar hilang dari Kuala Simpang. Sebabnya jelas: kota ini menjadi satu wilayah dengan dampak banjir dan longsor terparah di Provinsi Aceh. Saat bencana datang, hampir semua bangunan yang berada di tepian Sungai Tamiang raib diterjang air bah. Mobil terguling, batang-batang kayu berserakan, dan harta benda warga hancur tersapu banjir di jalanan.

Di pusat kota, deretan ruko dua lantai berkelir cerah tampak kusam dan kumal. Dinding bangunan-bangunan itu juga tertutupi lapisan tanah bekas lumpur yang hanyut bersama banjir. Berdasarkan keterangan warga, banjir sempat menggenang hingga lantai satu ruko di kawasan pusat kota yang lebih tinggi. Sedangkan, di lokasi yang lebih rendah, air bisa merangsek hingga lantai dua.

Newsplus Kondisi SMPN 1 Kuala Simpang

Suasana salah satu ruangan di SMPN 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (13/4/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Belajar di Lantai Kelas

SMPN 1 Kuala Simpang tergolong sekolah yang luas. Ia berdiri di atas lahan 10.000 meter persegi dengan dominasi bangunan satu lantai di tiap sisinya, kecuali pada sisi depan—dua lantai. Lapangan luas, yang terbagi antara area tanah dan beton, terletak tepat di area tengah sekolah. Lokasinya berdekatan dengan fasilitas pendidikan lain seperti SMK Negeri 1 Kualasimpang, TK Negeri Pembina Kualasimpang, SLB Negeri Pembina, hingga SD Negeri Kota Lintang.

Saat saya tiba di sana, pagar besi di muka sekolah tampak tertutup lapisan lumpur kering. Dinding di sekitarnya berwarna cokelat muda, kontras dengan pilar di depannya yang berwarna hijau kebiruan. Namun, baik dinding maupun pilar sama-sama diselimuti bekas lumpur banjir, demikian pula jalan beton pada halaman depan sekolah.

Dari selasar bangunan depan, ruang-ruang kelas yang berjajar di sisi lapangan terlihat kusam dan belum layak untuk digunakan. Sejumlah kelas tidak memiliki meja, bahkan ada yang tanpa kursi sama sekali. Para murid pun belajar dengan cara seadanya—duduk di kursi plastik khas kondangan atau langsung di lantai yang masih dilapisi debu.

Dari seluruh bagian kelas, hanya papan tulis yang tampak relatif bersih. Dinding kelas pun nyaris tanpa tempelan apa pun. Gorden tidak tersedia di sejumlah ruangan, sementara kipas angin di beberapa kelas dibiarkan tak berfungsi. Ada pula beberapa ruangan yang sama sekali tidak digunakan.

Salah satunya ruang berukuran sekitar 5-6 meter persegi di antara kelas 3. Di dalamnya hanya terdapat empat kursi plastik yang tertutup debu kering, serta beberapa lembar kertas yang berserakan di lantai.

Saya mendapati dua kelas yang hanya diisi murid tanpa kehadiran guru. Para siswa menyebut guru mereka tengah rapat. Meski tanpa pengajar, sebagian besar murid tetap bertahan di dalam kelas. Hanya satu-dua siswa yang sesekali keluar menuju toilet.

Karena lantai masih dipenuhi debu, beberapa murid memilih mengenakan sandal. Namun, ada pula yang tetap menggunakan sepatu hitam seperti biasa.

Warga mulai menempati Huntara di Aceh Tamiang

Foto udara kawasan hunian sementara (Huntara) Danantara di Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (25/1/2026). Sebanyak 600 unit huntara yang berada di dalam satu kawasan tersebut sudah mulai ditempati oleh warga korban bencana banjir bandang akhir November 2025. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wpa.

Fatir (15), murid kelas 3 SMPN 1 Kuala Simpang, bercerita bahwa ia mulai kembali bersekolah dua hari setelah banjir melanda, sekitar akhir Oktober 2025. Saat itu, hanya murid yang tidak terdampak langsung yang diminta hadir. Namun, meski datang ke sekolah, kegiatan belajar belum berjalan.

Para siswa hanya duduk di kelas, yang saat itu masih dipenuhi lumpur."Belajarnya belum, cuma duduk-duduk. Terus, kelasnya juga digabung-gabungin," tuturnya.

Pada hari-hari awal, anggota TNI masih berjaga sekaligus membantu membersihkan area sekolah, termasuk ruang kelas Fatir. Beberapa hari kemudian, kegiatan belajar dipindahkan ke musala sekolah.

Jam belajar pun dibagi menjadi tiga sif dalam sepekan: kelas 7 pada Jumat-Sabtu, kelas 8 pada Rabu-Kamis, dan kelas 9 pada Senin-Selasa.Pembelajaran di musala berlangsung sejak Oktober 2025 hingga pertengahan Ramadan 2026 atau sekitar akhir Februari 2026.

"Itu yang pas masih kelas belum dibersihin semua [masih belajar di musala]. Kalau ini sudah, sudah normal kayak ginilah. Senin sampai Sabtu [mulai belajar di kelas]. [Mulai belajar di kelas] pas bulan puasa lah, baru mulai normal," sebut Fatir.

Pakaian Kerap Kotor

Fatir mengaku merasakan perbedaan besar sebelum dan sesudah bencana. Kini, pakaian dirinya dan teman-temannya hampir selalu kotor sepulang sekolah.

Hal itu tak lepas dari kebiasaan mereka yang masih harus duduk di lantai berdebu. Setiap pulang, baju dan celana dipenuhi noda. "Kurang nyaman kalau duduk di bawah gini, kurang nyaman. Baju kami aja kayak gini [kotor] pulang-pulang," tuturnya.

Fatir mengatakan, wali kelasnya sempat berencana membawa tikar sebagai alas duduk. Sempat digunakan, tetapi tikar itu kini juga telah kotor dan tak lagi layak pakai.Barang hilang—listrik belum menyalaIa juga menyebut, kipas angin yang sebelumnya ada di kelasnya hilang saat bencana terjadi.

"Kipas anginnya hilang di sini, hilang dicuri. Enggak tahu siapa yang ambil [kipas]," ungkapnya.

Selain itu, listrik di sekolah hingga kini belum sepenuhnya menyala. Dalam kondisi mendung, siswa tak bisa menyalakan lampu."Ini lampunya enggak nyala, emang listrik belum [menyala]," tuturnya.

Meski demikian, Fatir tetap memilih datang ke sekolah."Tapi mending sekolah daripada enggak sekolah," ungkap dia.

Baju kiriman, tak punya seragamPutri Thalitha Salsabila (11), murid kelas 5 SD Negeri 2 Kuala Simpang, mengaku hingga kini belum memiliki seragam sekolah. Pakaian yang dikenakannya merupakan bantuan.

"Kalau aku ini belum punya seragam, ini [pakaian] dikasi [dari bantuan]," ucapnya.

Ia juga masih harus belajar bersama murid dari kelas lain karena banyak ruang kelas di sekolahnya rusak akibat banjir.Di ruang kelasnya, papan tulis pun belum tersedia. "Sekarang masih bareng [dengan kelas lain saat pembelajaran], kalau itu [papan tulis] belum ada," ujar dia.

"Soalnya kelasnya banyak yang hancur," lanjut Putri.

Senada, Siti Balqis (11), murid kelas 5 SD Negeri Kota Lintang, juga belum memiliki seragam. Pakaian yang ia kenakan merupakan bantuan. "Iya, maunya punya yang baru [seragam]," ungkapnya.

Baca juga artikel terkait BENCANA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - News Plus
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana