tirto.id - Ketua Posko Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal, meminta seluruh pemerintah daerah di Aceh membuat surat imbauan kepada warga terdampak bencana yang masih berada di pengungsian, segera pindah ke lokasi hunian sementara (huntara).
Hal itu disampaikan Safrizal saat melakukan inspeksi ke sejumlah daerah di Aceh yang menjadi terdampak bencana banjir bandang dan longsor beberapa waktu lalu.
"Nanti akan dibantu Bapak Bupati untuk pindah ke huntara yang baru selesai dan sudah dilengkapi dengan semua fasilitas, termasuk ini paket peralatan dapur dari satgas baru yang juga bisa digunakan" ujar Safrizal dalam keterangannya, Kamis (26/3/2026) dilansir dari Antara.
Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Administrasi Wilayah (Adwil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu menyampaikan, data menjadi kunci cepat tidaknya proses selanjutnya. Data korban bencana by name by address harus akurat, supaya tidak salah sasaran bagi warga yang bisa mendapatkan hunian sementara maupun hunian tetap.
Safrizal juga berpesan, untuk huntara yang fasilitas MCK dibangun terpisah, lansia dan disabilitas ditempatkan di kamar yang dekat dengan MCK.
Ia juga meminta sebelum pengungsi tiba, setiap pintu sudah ditempeli nama calon penghuni, supaya menghindari saling rebutan.
Inspeksi dilakukan Safrizal ke sejumlah daerah di Aceh. Mulai dari Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Jalan berbatu dengan medan yang tak bersahabat di tengah hamparan perkebunan sawit, harus ditaklukkan demi mencapai desa tersebut. Membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam dari Lhoksukon menuju Buket Linteung. Desa tersebut sepenuhnya berada di dalam kawasan hamparan kebun sawit.
Di sana sudah ada Dirjen Prasarana Strategis, Bisma Staniarto bersama Kasatker Prasarana Strategis Aceh, Syarifah Rahimah, dan Pj Sekda Aceh Utara, Jamaluddin.
Kepada Safrizal, Bisma mengatakan pembangunan huntara yang menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Bukit Linteung terdiri dari dua titik. Pertama di Dusun Meuku, kedua di Dusun Kareung.
Masing-masing lokasi dibangun 7 blok dengan kapasitas 84 kamar. Untuk Dusun Kareung hanya tersedia 76 unit kamar, karena 8 unit diperuntukkan untuk musala.
Huntara tersebut diberikan fasilitas dua tempat tidur, satu kipas angin, dan satu lemari untuk tiap kamar. Kamar mandi umum, dapur umur disediakan. Termasuk listrik dan air bersih.
Safrizal juga berkunjung ke huntara yang dibangun BNPB di Dusun Teungoh. Di sana dibangun 23 blok huntara, dengan kapasitas 114 kamar. Tidak ada dapur umum dan toilet umum, karena toilet dibangun langsung per kamar.
Masuk tirto.id

































