Menuju konten utama

Duka Mendalam Siska usai Banjir Bandang Renggut Suami & Anaknya

Banjir bandang, atau Galodo, datang tiba-tiba dengan arus kuat yang langsung menghantam rumah-rumah warga.

Duka Mendalam Siska usai Banjir Bandang Renggut Suami & Anaknya
Salah seorang korban banjir bandang di Padang, Siska (39) saat menceritakan kejadian yang menimpanya, Jumat (5/12/2025). Siska berhasil selamat karena berpegangan pada sebuah pohon kecil saat banjir menerjang rumahnya. (tirto.id/Fajar Alfaridho Herman)

tirto.id - Duka mendalam dirasakan Siska (39), salah satu korban banjir bandang yang melanda Perumahan Abi Koto Panjang, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, pada Kamis (27/11/2025) lalu.

Akibat peristiwa itu, ia kehilangan dua orang yang sangat dicintainya: suami dan salah satu anaknya.

Pagi itu, sekitar pukul 06.30 WIB, menjadi saat yang sangat mencekam bagi Siska. Banjir bandang, atau Galodo, datang tiba-tiba dengan arus kuat yang langsung menghantam rumah-rumah warga.

“Awalnya air sudah tinggi. Saat banjir datang, saya, suami, dan anak saya naik ke mobil untuk menuju atap rumah. Suami saya sempat mematikan aliran listrik,” ceritanya.

Tak lama setelah itu, tetangga Siska—suami, istri, anak, dan ibu mereka—berlari ke rumah Siska untuk berlindung di balik tembok yang dianggap dapat menahan derasnya arus.

Siska Korban Banjir Padang

Salah seorang korban banjir bandang di Padang, Siska (39) saat menceritakan kejadian yang menimpanya, Jumat (5/12/2025). Siska berhasil selamat karena berpegangan pada sebuah pohon kecil saat banjir menerjang rumahnya. (tirto.id/Fajar Alfaridho Herman)

Siska meminta mereka memanjat tembok agar bisa naik ke atap rumah demi menyelamatkan diri.

“Saat itu mereka menggendong anak. Saya pegang anaknya dan menyuruh mereka naik ke atas rumah. Tapi tak lama kemudian, dinding itu jebol. Mereka terbawa arus. Saya yang sedang memegang anak itu juga ikut hanyut dan terguling-guling dibawa air,” ujarnya.

Terseret beberapa meter, Siska bersama pasangan suami istri itu kemudian saling berpegangan pada batang pohon kecil.

“Suami tetangga saya berpegangan pada pohon itu. Istrinya berpegangan kepadanya, dan saya berpegangan pada istrinya,” jelasnya.

Tak lama setelah itu, suami tetangganya menyuruh istrinya memanjat pohon buah ceri untuk menyelamatkan diri. Namun, begitu melihat anaknya yang hanyut, ia melepaskan pegangan dan mengejarnya. Siska kembali berusaha mempertahankan diri pada batang pohon kecil itu.

Saat tetangganya sudah berada di atas pohon ceri, Siska memintanya merekam video dan mengirimkannya ke siapa pun.

“‘Din, tolong Din, kasih tahu media. Mana tahu tim SAR cepat datang,’ begitu saya bilang,” tuturnya.

Beruntung, ada selembar atap seng di depannya yang membantu memecah arus air. Tanpa itu, ia mengaku kemungkinan besar sudah hanyut lebih jauh karena derasnya aliran banjir.

Di saat Siska hanyut, suami dan anaknya masih berada di atas mobil. Namun, karena melihat Siska terbawa arus, suaminya nekat melompat sambil menggendong anak mereka untuk mencoba menolong.

“Suami dan anak saya melompat karena melihat saya hanyut. Setelah itu, saya tidak tahu lagi. Saya tidak melihat mereka sampai saya diselamatkan,” ucapnya.

“Setahu saya, suami saya tidak bisa berenang. Sambil menggendong anak pula. Bisa dibayangkan bagaimana kondisinya. Kalau saja suami saya tidak melompat, mungkin mereka masih ada sekarang. Sementara saya di sini selamat,” tambahnya.

Pohon Kecil yang menyelamatkan siska

Penampakan pohon kecil yang menyelamatkan nyawa Siska dari banjir bandang di Padang, Jumat (5/12/2025). Siska berpegangan selama berjam-jam di pohon tersebut hingga akhirnya berhasil diselamatkan.. tirto.id/Fajar Alfaridho Herman

Saat berpegangan pada pohon, Siska dilanda ketakutan luar biasa. Ia bahkan sempat pasrah jika harus terbawa arus. Namun, teringat anak-anaknya yang sudah lebih dahulu diselamatkan, ia kembali menguatkan diri untuk bertahan.

Setelah berjam-jam melawan derasnya air, Siska akhirnya berhasil dievakuasi. Suaminya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Sementara anak keduanya yang berusia sekitar tiga tahun masih belum ditemukan hingga kini.

“Suami saya ditemukan lebih dulu, tapi anak saya sampai sekarang belum ditemukan. Sudah banyak bantuan dari tim, tapi tetap belum ketemu,” tutupnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Fajar Alfaridho Herman

tirto.id - Flash News
Kontributor: Fajar Alfaridho Herman
Penulis: Fajar Alfaridho Herman
Editor: Anggun P Situmorang