Menuju konten utama

Cerita Pilu Warga Tapteng Bertahan di Tengah Kepungan Banjir

Mardiani bercerita mereka harus mengungsi di atas atap selama tiga hari dua malam sejak Selasa hingga Kamis (27/11/2025).

Cerita Pilu Warga Tapteng Bertahan di Tengah Kepungan Banjir
Sosok Mardiani (58) yang menyelamatkan diri dari arus banjir di Tapanuli Tengah dengan naik ke atas atap selama tiga hari dua malam. Saat ini Mardiani tinggal mengungsi di area pengungsian di Gedung Serba Guna, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (5/12/2025). Foto: tirto.id/Irfan Amin

tirto.id - Banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah pada Senin (24/11/2025) dan Selasa (25/11/2025) meninggalkan pengalaman berat bagi Mardiani (58) bersama suami dan dua anaknya.

Mardiani bercerita mereka harus mengungsi di atas atap selama tiga hari dua malam sejak Selasa hingga Kamis (27/11/2025).

"Saya di atas seng sama keluarga, dua hari tiga malam, saya bersama suami, dan dua anak saya," kata Mardiani di area pengungsian, Gedung Serba Guna, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Jumat (5/12/2025).

Mardiani mengaku terpaksa harus ke atap rumahnya yang terbuat dari seng karena derasnya arus banjir yang membuatnya bersama keluarga terkunci di dalam rumah.

Dirinya tak bisa keluar membuka pintu karena banjir di rumahnya yang beralamatkan di Jalan Faisal Tanjung, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah tidak hanya berisikan air namun juga lumpur yang semakin lama menimbun area halamannya.

"Waktu itu banjir dini hari, tapi kalau hujan sudah ada sebelumnya, dan daerah kami sudah terbiasa dengan banjir, jadi kami juga kaget begitu aliran air begitu deras," ungkapnya.

Beruntung saat Mardiani dan keluarganya terkunci dalam rumah karena kepungan arus banjir dan lumpur, mereka masih menyimpan anak tangga di area bagian dalam. Sehingga dengan naik tangga dan menjebol seng rumah, mereka berhasil menyelamatkan diri.

"Iya kalau korban alhamdulillah enggak ada, cuma korban barang-barang, dan akhirnya sekarang di dalam rumah ketutupan lumpur," jelasnya.

Begitu Mardiani sampai di atap rumah, ia melihat ada banyak keluarga yang melakukan hal serupa. Dia melihat tetangganya juga naik ke atas atap sembari menunggu arus banjir tak lagi kencang karena khawatir hilang atau terseret.

"Di situ ada beberapa keluarga," ujarnya.

Usai tiga hari di atas atap, Mardiani turun menyelamatkan diri secara swadaya tanpa bantuan pihak lain. Dia berani melakukan hal tersebut karena air banjir surut, namun lumpur menumpuk hingga mendekati atap rumahnya.

Mardiani kemudian berjalan kaki beberapa kilo meter menuju Gedung Serbaguna Kecamatan Pandan yang menjadi tempat pengungsian hingga saat ini.

"Langsung kemarin, setelah surut, kami turun sendiri, enggak ada yang bantu," ungkapnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama