Menuju konten utama

Diabetes-TB Dominan di Nias, Dokter Singgung Kendala Mitos Obat

Tantangan lain yang dihadapi tenaga kesehatan di wilayah Kepulauan Nias adalah kendala komunikasi, terutama dari segi bahasa.

Diabetes-TB Dominan di Nias, Dokter Singgung Kendala Mitos Obat
dokter Davinda Filarshi saat ditemui di RSUD Tafaeri, Nias Utara, Kamis (5/4/2026). tirto.id/Rahma

tirto.id - Dokter residen penyakit dalam RSUD Tafaeri di Nias Utara, Davinda Filarshi, mengungkap bahwa penyakit Diabetes Melitus tipe 2, hipertensi, dan tuberkulosis (TB) paru menjadi kasus yang paling banyak ditangani selama ia menjalani tugas rumah sakit tersebut.

Davindra adalah dokter residen yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Sumatra Utara (USU).

“Cuma yang untuk penyakit kronis yang paling banyak DM, kemudian TB paru, sama hipertensi sih di sini,” kata dokter Vinda saat ditemui di RSUD Tafaeri, Nias Utara, Kamis (5/4/2026).

Selain penyakit tersebut, rumah sakit juga menangani sejumlah keluhan lain yang umum ditemukan dalam layanan penyakit dalam, seperti gangguan pencernaan (dispepsia) dan diare.

Vinda menuturkan fasilitas penunjang pemeriksaan di rumah sakit yang tengah ditingkatkan ke tipe C itu juga sebenarnya sudah cukup memadai untuk pelayanan dasar. Laboratorium telah mampu melakukan pemeriksaan darah lengkap, fungsi ginjal, hingga fungsi hati.

Pemeriksaan radiologi seperti rontgen dan ultrasonografi (USG) juga tersedia untuk membantu proses diagnosis pasien. Akan tetapi, dia mengakui perawatan penyakit kanker masih perlu ditingkatkan

Lebih jauh, Vinda menuturkan bahwa masih kuatnya kepercayaan atau doktrin tertentu di masyarakat terkait pengobatan menjadi hambatan dalam memberikan pelayanan di RSUD Tafaeri. Ia menyebut sebagian pasien, sering kali enggan mengonsumsi obat secara rutin karena khawatir obat tersebut dapat merusak ginjal.

“Jadi mereka dia bilang, 'Di kampung saya ada dok yang gula gini-gini minum obat, eh nggak lama meninggal' kayak gitu,” katanya.

Padahal, menurutnya, anggapan tersebut tidak tepat. Kondisi tersebut belum tentu disebabkan oleh obat yang dikonsumsi, melainkan karena penyakit yang sudah berada pada tahap lanjut.

Tantangan lain yang dihadapi tenaga kesehatan di wilayah Kepulauan Nias adalah kendala komunikasi. Menurut Vinda, sebagian masyarakat terutama kelompok lanjut usia belum sepenuhnya memahami bahasa Indonesia.

“Edukasi kesehatan memang perlu terus ditingkatkan supaya masyarakat tidak salah memahami soal pengobatan,” ujarnya.

Ia berharap dengan peningkatan fasilitas kesehatan, tenaga medis, serta edukasi kepada masyarakat, pelayanan kesehatan di Nias Utara dapat semakin baik dan mampu menjangkau lebih banyak pasien.

“Masyarakat Nias ini Bahasa Indonesianya nggak ngerti kebanyakan, apalagi yang tua-tua ya. Jadi ada translate lah istilahnya. Jadi edukasi lewat translate lah kami,” tuturnya.

Hingga Kamis (5/3/2026) siang, terdapat 12 pasien yang tengah menjalani perawatan inap di RSUD Tafaeri. Total, ada 24 kamar yang beroperasi dengan masing-masing kamar bisa digunakan untuk 2 pasien.

Baca juga artikel terkait PELAYANAN KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Sosial Budaya
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Farida Susanty