tirto.id - Lastiaw Harefa harus menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer dari rumahnya di Lahewa, Nias Utara, agar anaknya, Steven Lase, mendapatkan penanganan medis yang lebih memadai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tafaeri Nias Utara.
Dia khawatir. Sebab, anaknya yang kini duduk di bangku kelas 5 SD itu mengalami pembengkakan di bagian bibirnya, sehingga membutuhkan penanganan khusus.
Meski sudah membawanya ke dokter terdekat, Lastiaw tetap memutuskan membawa Steven ke rumah sakit Tafaeri untuk mendapatkan penanganan lebih lengkap. Rumah sakit tersebut punya pelayanan kesehatan dan fasilitas serta tenaga medis paling memadai di sekitarnya.
"Anak kami ini pertama-tama demam, kemudian agak sedikit gatal di sekitar bibir hari Sabtu itu. Jadi Minggu agak bengkak, jadi kami bawalah dia di dokter di kampung, di Lahewa. Jadi dokter kasih resep, dokternya juga hanya dokter umum, nggak ada dokter spesialis anak. Jadi untuk menangani sementara, kami bawa ke situ dulu," kata Lastiaw saat ditemui di RSUD Tafaeri, Nias Utara, dikutip Jumat (6/4/2026).
"Kemudian satu hari berikutnya, hari Senin, memang sedikit ada perubahan tapi sebagai orang tua kan supaya cepat juga pulih, dia juga sekolah. Pikir-pikir karena juga rumah sakit di Nias Utara ini kan ini yang paling memadai," sambungnya.
Setelah tiba di rumah sakit Tafaeri, Steven langsung mendapatkan penanganan medis oleh dokter spesialis anak. Ia menjalani perawatan dengan infus, mendapatkan obat, suntikan, serta salep untuk membantu pemulihannya. Lastiaw mengaku merasa lega. Sebab, dengan penanganan itu kondisi anaknya jauh menunjukkan perkembangan.
"Kan dia susah ngomong, jadi sudah sedikit bisa agak lancar," ucapnya.
Dalam proses administrasi, Lastiaw mengaku awalnya datang langsung ke poli tanpa rujukan. Namun, setelah disarankan oleh pihak rumah sakit, biaya pengobatan kemudian dialihkan menggunakan BPJS Kesehatan.
Menurutnya, proses pengalihan ke BPJS setelah dirujuk untuk rawat inap berjalan cukup mudah dan tidak menemui kendala.
Dia juga mengapresiasi pelayanan tenaga kesehatan di rumah sakit yang dinilai cukup baik dan responsif ketika pasien membutuhkan bantuan. Hanya saja, Lastiaw mengeluhkan kondisi AC yang kurang optimal serta aliran air yang tidak terlalu lancar.
"Jadi untuk ke depan seperti AC-nya ini semoga ditingkatkan lagi perbaikannya biar senyaman juga pasiennya," katanya.
Dia juga mengeluhkan kondisi akses jalan menuju fasilitas kesehatan yang dinilai masih rusak dan menyulitkan masyarakat. Menurut Lastiaw, kondisi ini cukup serius karena bisa menjadi kendala besar apabila pasien dalam kondisi darurat.
Ia berharap ke depan akses jalan menuju fasilitas kesehatan dapat diperbaiki agar masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan bisa mendapatkan penanganan lebih cepat. Terlebih, dengan begitu, RSUD tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan baik, karena masuk dalam program hasil terbaik cepat (PHTC) Presiden oleh Kementerian Kesehatan.
"Kalau kami seperti yang jaraknya cukup jauh ya agak kewalahanlah, Bu. Karena apalagi jalan, jalannya kan rusak. Jadi seumpama contohnya pasiennya parah, menjangkau ke sini kan ada beberapa jam, ya di perjalanan itu aja kan sudah cukup gimana ya, agak kewalahan kita. Coba kalau dekat, jadi cepat aja kita ke sini," tuturnya.
Persoalan akses ini tak hanya dikeluhkan oleh pasien, dokter spesialis penyakit dalam, Davinda Filarshi, yang saat ini sedang menjalani penugasan di rumah sakit tersebut mengatakan kondisi jalan menuju rumah sakit masih menjadi kendala bagi pasien yang ingin mendapatkan layanan kesehatan.
Dia menjelaskan, jarak dari jalan utama menuju rumah sakit masih memerlukan waktu sekitar 15 hingga 20 menit melalui kondisi jalan yang belum sepenuhnya baik. Kondisi tersebut, katanya, sangat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah pasien yang datang untuk berobat.
Selain peningkatan akses, ia juga berharap pembangunan rumah sakit yang saat ini sedang ditingkatkan dari tipe D menjadi tipe C dapat diikuti dengan penambahan sumber daya manusia, khususnya tenaga dokter spesialis.
"Harapannya, nah ini kan sebenarnya jalan sih. Penginnya dibagusin dulu supaya banyak yang lebih ke aksesnya ke sini yang susah. Bayangkan kalau orang sakit jalannya ke sini kan sudah tambah sakit mungkin ya gitu," katanya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari laman Kementerian Kesehatan, RSUD Tafaeri Nias Utara merupakan salah satu Rumah Sakit yang akan ditingkatkan kualitasnya menjadi kelas C melalui Program PHTC Kemenkes pada tahun 2026 ini.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id

































