Menuju konten utama

Di Sekolah Rakyat, Jeje Menulis dan Menemukan Dirinya Kembali

Sempat tumbuh tanpa orang tua dan hidup dalam keterbatasan, Jeje dapat menemukan lagi harapan untuk meraih mimpi berkat Sekolah Rakyat.

Di Sekolah Rakyat, Jeje Menulis dan Menemukan Dirinya Kembali
Louvie Jogjeriansyah (16), salah satu murid Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman, Yogyakarta. FOTO/dok.Kemensos

tirto.id - Pendopo halaman Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman hari itu sejuk oleh semilir angin. Louvie Jogjeriansyah (16) berdiam di sana, asyik merangkai kalimat dan menorehkannya di buku tulis.

"Saya sedang menulis cerita tentang kisah siswa SRMA 20, bagaimana perjuangan dan kebersamaan selama belajar di sini," tutur Jeje, sapaan akrabnya.

Jeje rutin menulis di tengah kesibukannya belajar di SRMA 20 Sleman dan menjalani aktivitas asrama. Ia bertekad menyusun novel sebagai persembahan kepada dirinya dan teman-temannya di Sekolah Rakyat.

"Salah satu mimpi saya, selain ingin menjadi CEO, adalah menulis novel. Target saya setelah lulus dari sini, novelnya bisa terbit," kata dia. "Novel ini akan menceritakan perjuangan kami, 75 anak di SRMA 20, yang diberi kesempatan kedua untuk bermimpi."

Tekad Jeje menulis novel mendapatkan dukungan dari para guru dan wali asuh SRMA 20 Sleman. Mereka memberikan ruang sekaligus motivasi kepada Jeje agar terus menulis. Kata Jeje, mereka optimistis karyanya bisa menjadi cerminan perjalanan kolektif anak-anak di Sekolah Rakyat.

Bagi Jeje, Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang belajar untuk mendapatkan peningkatan kualitas hidup, melainkan jembatan emas menuju cita-citanya. Jeje ingin kisah perjuangan anak-anak di Sekolah Rakyat tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga bisa dibaca banyak orang sebagai inspirasi.

Tumbuh Tanpa Orang Tua

Jeje melalui kehidupan yang tidak mudah sebelum masuk Sekolah Rakyat. Ia tumbuh besar tanpa kehadiran orang tua. Sejak masih kelas 3 SD, Jeje diasuh oleh nenek dari pihak ayah di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semula Jeje hidup terpisah dari orang tuanya karena mereka hijrah ke Kalimantan bersama kedua adiknya. Namun, rumah tangga orang tuanya bubar.

Sang ayah pergi tanpa kabar. Ibunya lalu menitipkan seorang adiknya kepada sang nenek di Gunungkidul. Sang ibu mengasuh satu adik Jeje lainnya.

Sejak itu, Jeje tak pernah lagi menerima nafkah maupun kabar dari orang tuanya. Ia harus menerima kenyataan pahit tumbuh dewasa tanpa sama sekali merasakan peran dari orang tua kandung.

Jeje hidup bergantung pada penghasilan nenek dan tantenya yang pas-pasan. Mereka cuma petani dengan lahan tak terlampau jembar. Ia juga harus mengambil peran orang tua untuk mengasuh salah satu adiknya.

Kondisi itu membuat ia sempat ragu saat akan memutuskan masuk Sekolah Rakyat. Meski Sekolah Rakyat menyediakan peluang bagi anak miskin seperti dia, Jeje mencemaskan adiknya.

"Biasanya kan saya yang ngajarin adik saya belajar. Begitu saya masuk sekolah asrama, saya sempat ragu, takut adik saya enggak ada yang ngajarin. Nenek saya juga sudah tua, enggak bisa untuk ngajarin juga, kalau tante repot juga ngurus anaknya yang masih bayi," ujar Jeje.

Bangkit di Sekolah Rakyat

Perjalanan Jeje melanjutkan sekolah tidak mudah. Usai lulus SMP, ia sempat berencana masuk sebuah SMK favorit di Wonosari, Gunungkidul. Namun besarnya biaya masuk dan kebutuhan sekolah membuatnya putus asa.

Asa datang ketika seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) menawarkan Sekolah Rakyat. Dari situ, jalan baru terbuka untuk Jeje.

"Awalnya saya ragu, tapi kemudian saya merenung semalaman. Saya pikir, siapa tahu ada pengalaman dan kesempatan baru untuk saya. Memang ada niat juga untuk sekolah di asrama kalau SMA," kata Jeje.

Sekalipun baru mengambil keputusan di detik-detik terakhir, Jeje bisa lolos menjadi murid SRMA 20 Sleman. Di sekolah ini, ia menemukan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangannya.

Suasana kondusif di sana turut mengubah perilaku Jeje yang semula pendiam dan introvert menjadi lebih percaya diri. "Sebelum di sini saya introvert parah, lebih sering mengurung diri di kamar. Sekarang saya bisa membuka obrolan dengan teman dan dekat dengan guru," kata dia.

Motivasi dari wali asuh membantu mengangkat beban batin Jeje sekaligus membangkitkan semangat hidupnya. "Di sini aman, tak ada ejek-ejekan. Justru saling dorong untuk maju," tambahnya.

Dia pun merasakan banyak manfaat dari berbagai fasilitas di sekolah. Jeje bersyukur bisa mengonsumsi makanan bergizi tiga kali sehari di asrama. Pelan tapi pasti, ia merasa kondisi fisiknya makin sehat dan bugar. Ia bahkan mengaku tinggi badannya bertambah hanya satu bulan setelah tinggal di asrama.

Melalui tulisannya, Jeje ingin agar dunia tahu bahwa Sekolah Rakyat telah menjadi rumah baru bagi banyak anak yang hampir kehilangan mimpi, tempat harapan-harapan mereka tumbuh, dan memberikan kesempatan berkembang sebagaimana anak-anak lain di seluruh Indonesia.

SRMA 20 Sleman saat ini mendidik 75 siswa dengan dukungan 17 guru, 14 wali asuh, dan dua wali asrama. Sekolah Rakyat ini memiliki fasilitas asrama, ruang kelas, laboratorium IPA, perpustakaan, lapangan olahraga, hingga mushala; semua dihadirkan untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, sesuai amanat dari Presiden Prabowo Subianto.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis