Menuju konten utama

Di Balik Tren Tumbler Stainless, Seberapa Ramah Lingkungan?

Benarkah tumbler stainless steel ramah lingkungan? Simak fakta proses produksi dan alasan tumbler tetap lebih baik jika dipakai jangka panjang.

Di Balik Tren Tumbler Stainless, Seberapa Ramah Lingkungan?
Botol Tumbler. (Photo by Christian Dala/Unsplash)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam seminggu, Caca bisa mengganti setidaknya tiga botol tumbler minum berbeda warna yang dibawanya ke kantor. Tak jarang, Ia memadupadankan warna tumbler dengan baju dan tas yang dipakainya.

Kata Caca, di rumahnya dia memiliki tujuh tumbler yang kerap dipakai bergantian bersama keluarga. Selain disesuaikan dengan kebutuhan, dia juga memperhatikan pemilihan sekaligus estetika.

“Karena sama-sama kerja kantoran, Aku, ibu sama ayah juga biasa ke mana-mana pakai tumbler. Biar di kantor tinggal refill [isi ulang] aja. Enggak perlu beli,” kata Caca.

Caca sebenarnya baru rutin mengenakan tumbler selama 2 tahun belakangan, setelah dirinya lulus kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan swasta. Saat itu, dia merasa kesulitan untuk membeli air mineral di koperasi kantor yang tempatnya berada di lantai 5. Sejak saat itu lah dia memutuskan membawa botol minum seperti rekan lainnya.

“Lama-lama jadi suka karena banyak model dan warna yang lucu,” kata dia.

Dari tujuh tumbler yang dimilikinya, Caca paling menyukai tumbler stainless merek lokal berwarna pink-silver. Selain warna yang menurutnya menggemaskan, botol satu ini merupakan satu dari 4 tumbler miliknya yang paling tahan dingin. Es batu yang disimpannya semalaman pun tidak menjadi cair apabila disimpan pada botol itu.

Merasakan kecanggihan botol minum miliknya, Caca mengaku penasaran dengan tumbler mahal yang kerap digunakan orang-orang di media sosial hingga sejumlah artis.

Caca rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk menuntaskan rasa penasaran terhadap kecanggihan tumbler zaman sekarang. Apalagi, tumbler kini seolah menjadi status sosial yang kerap jadi perhatian.

“Kadang kalau kumpul sama temen-temen tertentu, agak malu juga kalau bawa tumbler yang non-merek,” kata dia.

Tak jauh berbeda dengan Caca, Puput juga senang menggunakan tumbler berbahan stainless untuk menunjang kesehariannya bekerja. Puput memiliki dua tumbler, satu untuk menahan panasnya kopi dan satunya untuk menahan dingin saat dia ditugaskan bekerja outdoor.

Namun, koleksi botolnya terus bertambah hasil suvenir di berbagai acara yang didatanginya.

Ramah lingkungan dan berhemat jadi alasan Puput untuk menggunakan tumbler. Dia menyebut mengetahui seputar informasi terkait sampah plastik yang merusak lingkungan dan juga berdampak pada iklim.

“Cuma butuh dua aja sih, aku pakai-cuci tiap hari. Di beberapa tempat kopi sering diskon kalau pake tumbler sendiri, jadi lebih hemat lah,” katanya.

Sejauh perjalanannya menggunakan tumbler, belum pernah ada botol yang sengaja dibuang Puput. Bahkan, tumbler yang sudah penyok karena jatuh menggelinding dari motornya saja masih digunakan.

Dalam setahun terakhir, pengguna tumbler memang menjamur di ruang publik. Dengan warna dan merek yang berbeda-beda, di tempat dan kegiatan tertentu, semua orang beramai-ramai menggunakan tumbler. Bahkan beberapa kedai kopi kekinian juga ikut meramaikannya dengan memberikan bonus atau diskon kepada mereka yang mengenakan tumbler sendiri ketika membeli kopi.

Pemerintah juga turut mengampanyekannya pada 2019 lalu degan tagar #kendalikan sampah plastik. Dalam kampanye itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut bahwa 1 tumbler bisa mencegah 4 sampah botol plastik kemasan air minum per hari.

“Ayo kita mulai #KendalikanSampahPlastik dari aksi sederhana, yakni selalu membawa #tumbler (botol minum yang dapat digunakan kembali) untuk dapat mengurangi timbulan sampah botol plastik!,” tulis KLHK di akun X pada 19 Januari 2019.

Dewasa ini botol dengan bahan stainless steel menjadi yang banyak digemari orang-orang dibandingkan plastik atau kaca. Selain lebih awet, kebanyakan orang juga menyukainya karena mampu menjaga suhu minuman lebih lama.

Jejak Lingkungan di Balik Tren Tumbler Stainless Steel

Citra tumbler stainless steel sebagai produk ramah lingkungan perlu dilihat secara lebih utuh. Meski penggunaan tumbler berulang kali memang dapat mengurangi konsumsi botol plastik sekali pakai, manfaat tersebut tidak dapat dilepaskan dari jejak lingkungan pada tahap produksi bahan bakunya, terutama nikel.

Trend Asia menyoroti bahwa Indonesia kini memasok lebih dari separuh produksi nikel dunia. Di balik meningkatnya permintaan nikel untuk berbagai produk berbahan stainless steel, terdapat biaya lingkungan yang ditanggung oleh masyarakat di wilayah pertambangan dan kawasan industri pengolahan.

"Kalau kita bandingkan, tumbler stainless memang lebih baik dari botol plastik sekali pakai. Tapi label 'ramah lingkungan' juga tidak tepat jika menelaah dan memperhitungkan siapa yang menanggung biaya lingkungannya," kata Juru Kampanye Mineral Kritis Trend Asia, Arko Tarigan.

Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material (PP2M) Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ) Yudi Nugraha Thaha menjelaskan, produsen memilih stainless steel tipe 304 maupun 316 karena memiliki karakteristik yang ideal untuk wadah makanan dan minuman.

"Stainless steel tipe 304 atau versi yang lebih tinggi tipe 316 dipilih karena memiliki kombinasi sifat ketahanan korosi dan mekanik yang sangat baik untuk produk yang bersentuhan dengan makanan dan minuman," ujarnya kepada Tirto.

Material tersebut relatif tahan karat, kuat, tidak mudah pecah, tahan terhadap suhu panas maupun dingin, serta tidak mudah bereaksi dengan makanan atau minuman. Selain itu, umur pakainya jauh lebih panjang dibandingkan plastik.

Keawetan itu pula yang membuat tumbler stainless steel dipromosikan sebagai alternatif pengganti botol plastik sekali pakai.

Stainless steel yang umum digunakan sebagai bahan baku tumbler merupakan paduan besi, kromium, dan nikel. Kromium berfungsi membentuk lapisan oksida yang membuat material tahan terhadap korosi, sedangkan nikel meningkatkan ketangguhan material sekaligus mempermudah proses manufaktur.

Proses pembuatan stainless steel membutuhkan tahapan yang panjang, dimulai dari penambangan bijih nikel yang kemudian diolah menjadi ferronikel atau nickel pig iron. Material tersebut lalu dilebur bersama ferrochrome dan unsur paduan lain di dalam tungku bersuhu sekitar 1.400–1.600 derajat Celsius untuk menghasilkan baja nirkarat, sebelum akhirnya dibentuk menjadi lembaran dan diproses menjadi produk seperti tumbler.

Menurut Yudi, tahap produksi logam primer merupakan proses yang paling banyak mengonsumsi energi karena memerlukan suhu sangat tinggi. Namun, berbeda dengan plastik sekali pakai, stainless steel memiliki keunggulan karena dapat didaur ulang menjadi produk stainless steel baru maupun jenis baja lainnya.

Meski begitu, penggunaan nikel dalam produk tumbler sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan kebutuhan stainless steel dunia. Menurut Yudi, sebagian besar konsumsi stainless steel justru diserap oleh sektor infrastruktur, peralatan proses industri, otomotif, hingga peralatan rumah tangga.

"Jadi, meningkatnya popularitas tumbler memang menambah permintaan, tetapi kontribusinya jauh lebih kecil dibanding kebutuhan dari sektor-sektor industri tersebut," katanya.

“Dari sisi suply chain, Terlalu jauh jika mengaitkan tumbler dengan isu deforestasi,” tambahnya.

Pola Konsumsi Tumbler Tetap Harus Dibenahi

Perdebatan mengenai tumbler sebenarnya telah lama menjadi perhatian para peneliti Life Cycle Assessment (LCA). Metode ini menghitung dampak lingkungan suatu produk sejak bahan bakunya diambil dari alam hingga akhir masa pakainya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research membandingkan botol PET sekali pakai dengan botol isi ulang berbahan stainless steel, kaca, aluminium, dan HDPE. Peneliti mensimulasikan konsumsi air minum sebanyak satu liter per hari selama satu tahun, setara dengan penggunaan 730 botol PET berukuran 500 mililiter atau satu botol isi ulang berkapasitas satu liter.

Temuan penelitian menunjukkan hasil yang berbeda ketika perbandingan dilakukan berdasarkan seluruh siklus penggunaan produk.

Jika hanya melihat tahap produksi, satu botol PET justru menghasilkan dampak lingkungan yang lebih kecil dibanding satu tumbler stainless steel. Hal itu karena pembuatan tumbler membutuhkan material lebih banyak dan proses manufaktur yang lebih intensif. Namun gambaran tersebut berubah ketika yang dibandingkan adalah penggunaan selama satu tahun.

Karena hanya diproduksi sekali dan digunakan berulang kali, dampak produksi tumbler menjadi sangat kecil jika dibandingkan dengan penggunaan ratusan botol PET yang harus terus diproduksi sepanjang tahun.

Karena itu, Trend Asia menilai perlu pola konsumsi yang dibentuk pasar perlu dibenahi. Penggunaan tumbler harus pada pokoknya untuk menekan plastik sekali pakai sehingga fungsinya tak bergeser menjadi gaya hidup.

Yudi juga mengingatkan bahwa aspek yang lebih penting justru terletak pada pola konsumsi masyarakat. Menurutnya, manfaat lingkungan dari tumbler baru akan terasa apabila produk tersebut benar-benar digunakan dalam jangka panjang sebagai pengganti botol plastik sekali pakai.

Baca juga artikel terkait TUMBLR atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - News Plus
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Dipna Videlia Putsanra