tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat kredit nganggur atau undisbursed loan masih sangat besar hingga akhir tahun 2025. Nilainya mencapai Rp2.439,2 triliun. Nilai tersebut setara dengan 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mendorong pelaku usaha untuk segera memanfaatkan dana menganggur tersebut guna mendorong ekspansi dan pertumbuhan ekonomi.
"Pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan yang tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia," kata Perry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (21/1/2026).
Dia menjelaskan, dari sisi penawaran kapasitas pembiayaan perbankan sebenarnya sangat mendukung. Likuiditas perbankan tetap memadai dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di level 28,57 persen.
"Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio AL/DPK sebesar 28,57 persen dan DPK yang tumbuh tinggi sebesar 13,83 persen (yoy) pada Desember 2025," jelasnya.
Minat penyaluran kredit bank juga dinilai terus membaik, dengan persyaratan pemberian kredit yang semakin longgar. Pengecualian hanya terjadi pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat persepsi risiko yang masih tinggi.
Data BI menunjukkan fondasi sistem keuangan dalam kondisi kuat untuk mendorong penyaluran kredit. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan per November 2025 tercatat tinggi di level 26,05 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah pada 2,21 persen secara bruto dan 0,86 persen neto.
"Ketahanan sistem keuangan terjaga baik didukung likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang rendah," ujar Perry.
Ia menambahkan, hasil stress test BI menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, didukung oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.
“Ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga,” ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id



































