Menuju konten utama

Demensia Lewy Body: Kala Otak Penuh Protein & Picu Halusinasi

Demensia Lewy Body dapat menyerang siapa saja, terutama lansia umur 50 tahun ke atas. Apa saja gejala dan mungkinkah untuk disembuhkan?

Demensia Lewy Body: Kala Otak Penuh Protein & Picu Halusinasi
Ilustrasi pasien pria lansia menceritakan keluhan kesehatannya kepada dokter. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Aktor legendaris asal Inggris, Sir Patrick Stewart, meninggal dunia di usianya yang menginjak 86 tahun pada Rabu (28/10/2026) waktu setempat, setelah ia berjuang melawan penyakit demensia campuran, yakni alzheimer dan demensia Lewy Body (LBD), sebagaimana diwartakan USA Today.

Kepergian aktor kenamaan yang banyak dikenal lewat perannya dalam film "Star Trek" dan "X-Men" ini menyisakan duka mendalam. Sosok yang telah berkarier lebih dari enam dekade di industri hiburan ini disebut-sebut tidak pernah mengungkapkan diagnosisnya kepada publik.

Di balik kabar kepergian sang aktor, publik mulai menyoroti salah satu penyebab kematian Patrick Stewart, yakni demensia Lewy Body (LBD). Menurut catatan medis, penyakit ini tergolong sangat mengancam dan berbahaya karena sifatnya yang progresif (memburuk seiring waktu).

Bahkan, Lewy Body juga bisa memicu penurunan fungsi tubuh secara drastis yang lebih cepat dibandingkan beberapa jenis demensia lainnya. Meskipun diklaim tidak dapat mudah menyerang siapa saja, faktor usia dan genetik kerap jadi pemicu utama demensia jenis ini.

Beranjak dari hal tersebut, lantas apa sebenarnya demensia Lewy Body? Apa saja penyebab utamanya dan mungkinkah bisa disembuhkan? Simak penjelasan medisnya berikut.

Apa Itu Demensia Lewy Body dan Kenapa Bisa Terjadi?

Lewy body dinamai berdasarkan nama Dr. Friedrich Lewy, seorang ahli saraf asal Jerman. Pada tahun 1912, ia menemukan endapan protein abnormal yang mengganggu fungsi normal otak pada penderita penyakit Parkinson. Endapan abnormal ini, yang disebut Lewy body, dinamai menurut namanya.

Demensia Lewy Body (Lewy Body Dementia/LBD) merupakan salah satu jenis demensia progresif yang terjadi akibat penumpukan endapan abnormal protein bernama alfa-sinuklein di dalam sel-sel saraf otak.

Dalam penjelasan di website National Institute on Aging, endapan protein tersebut memengaruhi zat kimia di otak. Akibatnya, fungsi otak jadi menurun yang memengaruhi daya ingat, pemikiran, gerakan, suasana hati, serta fungsi otomatis tubuh.

Dalam beberapa kasus, penurunan fungsi otak secara progresif kerap memicu halusinasi visual, yang membuat penderita LBD seolah melihat objek, manusia, atau hewan yang sebenarnya tidak ada.

Diagnosis demensia Lewy Body juga disebut bisa jadi sulit karena gejala awalnya cukup berdekatan dengan gejala yang ditemukan pada penyakit otak lainnya seperti Alzheimer.

Kebanyakan, gejala awal LBD acap kali ditandai dengan perubahan suasana hati, penglihatan, pola tidur, serta intensitas dalam buang air besar. Namun, karena sifatnya yang "progresif", gejala yang dirasakan dapat memburuk seiring waktu.

Ilustrasi demensia

Ilustrasi demensia. FOTO/iStockphoto

Meski gejala-gejala yang timbulnya dapat diketahui, penyebab pasti dari Lewy Body belum diketahui secara jelas. Akan tetapi, para ilmuwan sepakat bahwa usia dianggap sebagai faktor risiko terbesar penyakit ini. Kebanyakan kasus LBD kerap menyerang seseorang di atas umur 50 tahun.

Penelitian lainnya ada yang menyebut bahwa Lewy Body dapat dipicu oleh faktor genetik. Namun, dalam kebanyakan kasus, LBD tidak dianggap sebagai penyakit keturunan, serta belum ada tes genetik yang dapat secara akurat bahwa genetik berperan besar dalam "estafet" LBD.

Akan tetapi, demensia Lewy Body yang diketahui sebagai endapan protein pada otak, protein tersebut berkaitan dengan penyakit Parkinson dan Alzheimer.

LBD diperkirakan dapat menyerang seseorang yang dipicu beberapa faktor, seperti berusia di atas 60 tahun, berjenis kelamin pria, memiliki keluarga dengan riwayat Lewy Body Dementia atau Parkinson, terdapat perubahan (mutasi pada gen (APOE, SNCA, GBA), serta depresi.

Sesuai dengan temuan tersebut, studi yang diterbitkan di Alzheimer, menunjukkan juga bahwa varian genetik tertentu dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena demensia dengan Lewy Body. Akan tetapi, kondisi ini tidak selalu jadi faktor utamanya.

Sejauh ini, para pakar medis belum dapat membuktikan secara pasti terkait faktor dan penyebab utama seseorang bisa terkena demensia Lewy Body. Kebanyakan diagnosa yang muncul terjadi karena beberapa kasus tertentu.

Dampak Demensia Lewy Body & Apakah Bisa Sembuh?

Menurut beberapa penelitian, demensia Lewy Body (LBD) termasuk salah satu jenis demensia yang tidak dapat disembuhkan atau dicegah. Pasalnya, penyakit ini bersifat progresif, yakni semakin lama akan semakin memburuk.

Dampak demensia Lewy Body juga bisa berdampak luas tak hanya pada fungsi otak saja, melainkan juga bisa memengaruhi aspek kognitif, perilaku, hingga emosional.

Gejala Kognitif

Gejala umum LBD biasanya menyebabkan perubahan pada kemampuan berpikir, seperti hilangnya kemampuan dalam memperhatikan, kemampuan visual dan spasial (menilai jarak dan kedalaman atau salah mengidentifikasi objek), penalaran, serta fungsi memori eksekutif yang berkaitan dengan susahnya memecahkan masalah.

Dalam kondisi tertentu, gejala kognitif yang berkaitan dengan demensia bisa menyebabkan perubahan suasana hati dan perilaku, penilaian yang buruk, hilangnya inisiatif, kebingungan mengenai waktu dan tempat, atau kesulitan dengan bahasa dan angka.

Gejala LBD juga kerap membuat seseorang mengalami fluktuasi kognitif yang memengaruhi konsentrasi, perhatian, kewaspadaan, serta kesadaran.

Lebih parah lagi, penurunan fungsi kognitif ini kerap memicu penderitanya mengalami halusinasi visual yang sering terjadi di tahap awal penyakit. Biasanya, kondisi ini membuat penderitanya seolah melihat objek nyata yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata.

Gejala Gerakan

Gejala umum yang sering terjadi pada penderita LBD yaitu berpengaruh pada gerakan tubuh, seperti otot menjadi kaku atau kekencangan, perubahan ketika berjalan, tremor, hilang keseimbangan, hingga membuat postur tubuh cenderung bungkuk.

Duduk Membungkuk

Ilustrasi Duduk Membungkuk. [Foto/istock]

Selain itu, gejala gerakan juga membuat penderitanya jadi kehilangan koordinasi, tulisan tangannya jadi lebih kecil, ekspresi wajah yang berkurang, sulit menelan, serta suaranya yang mulai melemah atau parau.

Gangguan Tidur

Penderita LBD kebanyakan mengalami gangguan pola tidurnya, termasuk gangguan perilaku tidur REM yang membuat penderitanya mengalami mimpi yang seolah sangat jelas, berbicara ketika tidur, atau merasa seperti diserang atau dikejar seseorang dalam mimpi.

Ketika di siang hari, tingkat kantuknya juga jadi meningkat. Sedangkan di malam hari, penderita LBD cenderung kesulitan untuk tidur atau bangun terlalu pagi.

Gejala Perilaku dan Suasana Hati

Perubahan perilaku dan suasana hati cukup sering terjadi pada LBD. Meskipun gejala yang muncul tidak selalu sama, kebanyakan kondisinya kerap jadi penyebab depresi, apatis, kecemasan, kegelisahan, bahkan delusi atau persepsi keliru.

LBD juga kerap berpengaruh pada sistem saraf yang memicu masalah pada tekanan darah, sulit untuk mengatur suhu tubuh, pingsan, sering terjatuh, sembelit, disfungsi seksual, hingga indra penciuman yang memburuk.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Didiagnosa Demensia Lewy Body?

Ketika seseorang didiagnosa mengidap demensia Lewy Body, langkah pertama yang paling penting dilakukan yakni memahami bahwa LBD bersifat progresif yang bisa semakin memburuk dampaknya seiring berjalannya waktu.

Mengutip National Institute on Aging berjudul "Caring for a Person With Lewy Body Dementia", penderita LBD harus memahami juga bahwa penyakit tersebut cukup sensitif terhadap beberapa jenis pengobatan, seperti terhadap obat antipsikotik.

Obat ini disebut dapat memicu efek samping parah yang permanen, memperburuk gangguan gerak, atau berisiko fatal lainnya. Langkah penting untuk mengatasinya yaitu berkonsultasi dengan dokter neurologi untuk menyesuaikan dosis obat yang aman guna mengelola gejala kognitif atau gangguan motorik, tanpa memperparah kondisi mentalnya.

Penderita LBD biasanya akan disarankan untuk menjalani terapi pendukung untuk keseharian, mulai dari fisioterapi agar membuat mereka bisa mengatasi kesulitan bergerak, terapi okupasi untuk menyesuaikan aktivitas harian, serta terapi psikologis dan sosial yang bertujuan untuk mengelola perubahan suasana hati, kecemasan, bahkan halusinasi.

Ilustrasi Dokter dan Perawat

Ilustrasi Dokter dan Perawat. FOTO/iStockphoto

Guna meminimalisir adanya kecelakaan akibat keseimbangan tubuh yang melemah, mengurangi barang-barang yang berserakan di dalam rumah dapat jadi solusinya. Pengurangan intensitas pencahayaan dan kebisingan dalam rumah juga dapat mencegah disorientasi.

Adapun ketika seseorang atau keluarga mulai menunjukkan gejala yang mengarah pada demensia Lewy Body, seperti halusinasi visual berulang atau kekakuan, kondisi tersebut harus segera dikonsultasikan dengan dokter spesialis saraf atau psikiater geriatri untuk menangani gangguan kognitif serta saraf.

Pemeriksaan otak lewat CT Scan atau MRI juga terbilang penting guna mendeteksi kemungkinan penyakit lain seperti tumor otak, pendarahan, stroke, atau penumpukan cairan di otak.

Dalam hal ini, faktor dorongan lingkungan, baik teman maupun keluarga juga terbilang penting karena dapat menghambat perubahan suasana hati mendadak yang bisa memicu gejala lainnya.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - GWS
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora