tirto.id - Kecelakaan dua kereta cepat di Spanyol menewaskan sedikitnya 68 orang. Sebanyak 107 orang lainnya mendapat perawatan medis di rumah sakit. Insiden yang terjadi pada Rabu (28/10/2026) pagi tersebut melibatkan kereta milik perusahaan negara Renfe dan operator swasta Iryo di jalur Madrid menuju Sevilla, dekat Kota Urda, Provinsi Toledo.
Kereta Renfe menabrak bagian belakang kereta Iryo yang sedang berhenti di jalur menuju Sevilla. Tabrakan keras terjadi hingga sejumlah gerbong anjlok dan mengalami kerusakan parah. Proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung. Petugas menyisir puing-puing untuk mencari korban lainnya.
Pemerintah Spanyol menetapkan tiga hari berkabung setelah tragedi tersebut. Ini menjadi kecelakaan kereta cepat mematikan kedua di negara itu sepanjang 2026.
Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente menyebut insiden tersebut diduga berkaitan dengan gangguan sistem keamanan perkeretaapian dan keputusan pusat kendali yang mengizinkan kereta Renfe kembali berjalan tanpa pembatasan kecepatan, meskipun sinyal berhenti masih aktif. Namun, penyelidikan terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Kronologi Kecelakaan Tragis Dua Kereta Cepat di Spanyol
Kecelakaan terjadi pada Rabu pagi di jalur kereta cepat yang menghubungkan Madrid dengan Sevilla, wilayah Andalusia di Spanyol selatan. Menurut operator infrastruktur perkeretaapian Spanyol, ADIF, dua kereta yang terlibat sama-sama bergerak ke arah selatan dan membawa ratusan penumpang.
Kereta pertama dioperasikan oleh Iryo, perusahaan kereta cepat swasta membawa 147 penumpang, sedangkan kereta kedua merupakan milik Renfe, perusahaan kereta api milik negara membawa 397 penumpang. Sebelum tabrakan terjadi, kedua kereta sempat berhenti akibat gangguan pada sistem keamanan di jalur tersebut.
Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente menjelaskan bahwa sekitar pukul 08.30 waktu setempat, sistem keamanan pada jalur sepanjang 63 kilometer mengalami gangguan akibat masalah komputer.
Gangguan tersebut menyebabkan seluruh kereta di bagian jalur itu harus berhenti. Pada saat itu, kereta Iryo dan Renfe berada dalam jarak sekitar 25 kilometer satu sama lain.
Namun, situasi berubah ketika pusat kendali memberikan izin kepada kereta Renfe untuk kembali berjalan. Menurut penjelasan Puente, kereta tersebut diizinkan melaju tanpa pembatasan kecepatan, meskipun sinyal berhenti pada jalur itu masih aktif.
Sekitar pukul 08.30 waktu setempat, sistem pengendali keselamatan LZB mengalami gangguan komunikasi komputer. Gangguan tersebut menyebabkan sejumlah kereta di jalur Madrid–Sevilla berhenti secara otomatis.
Menurut Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente, pusat kendali kemudian mengizinkan kereta Renfe kembali berjalan sekitar pukul 08.36, meskipun kereta Iryo masih berhenti di jalur yang sama. Sekitar pukul 08.53, kereta Renfe menabrak bagian belakang kereta Iryo di dekat Urda, Provinsi Toledo.
Puente menyebut keputusan untuk mengizinkan kereta Renfe kembali berjalan dalam kondisi tersebut sebagai keputusan yang sulit dijelaskan. Meski demikian, penyebab pasti kecelakaan dan tanggung jawab pihak terkait masih harus ditentukan melalui penyelidikan.
Pihak berwenang masih memeriksa data untuk mengetahui kecepatan kereta Renfe saat tabrakan terjadi. Puente mengatakan kereta itu berpotensi melaju hingga sekitar 200 kilometer per jam di jalur tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penjelasan itu merupakan uraian mengenai fakta awal dan belum menjadi penetapan tanggung jawab pihak tertentu.
Ia juga menyatakan bahwa masinis kereta tidak dapat langsung disalahkan atas kecelakaan tersebut. Penyelidikan diperlukan untuk mengetahui secara menyeluruh bagaimana gangguan sistem, prosedur keselamatan, dan keputusan pusat kendali berkontribusi terhadap tabrakan.
Update Korban: 68 Meninggal dan 107 Luka-Luka
Pemerintah regional Castilla-La Mancha mengonfirmasi sedikitnya 68 orang meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka dan mendapatkan perawatan medis di sejumlah rumah sakit.
The Guardian pada Kamis (29/10/2026) melaporkan bahwa korban luka-luka bertambah menjadi 107 orang, termasuk 15 orang yang berada dalam kondisi serius.
Jumlah korban meninggal pun berpotensi bertambah karena proses pencarian masih berlangsung. Pemimpin pemerintahan regional Castilla-La Mancha, Emiliano García-Page, mengatakan petugas belum dapat menjangkau bagian terdalam sejumlah gerbong yang rusak.
Tim penyelamat bekerja sepanjang hari hingga malam untuk mencari korban yang masih hidup maupun jenazah yang terjebak di antara puing-puing. Petugas menggunakan peralatan berat, termasuk derek, untuk mengangkat potongan logam yang saling bertumpuk dan membuka akses ke bagian kereta yang hancur.
Ambulans dan helikopter medis dikerahkan untuk membawa korban ke rumah sakit. Penumpang yang tidak mengalami luka serius atau berhasil selamat tanpa cedera dievakuasi menggunakan bus, sementara Brigade Darurat Militer Spanyol turut diterjunkan untuk membantu operasi penanganan bencana.
Sebuah sekolah di Desa Urda, yang berjarak sekitar 130 kilometer di selatan Madrid, digunakan sebagai tempat bagi keluarga untuk mencari informasi mengenai orang-orang terdekat mereka. Tim Palang Merah Spanyol juga memberikan dukungan psikologis kepada keluarga yang datang dalam keadaan terpukul.
Untuk membantu proses identifikasi korban, Garda Sipil Spanyol membuka empat kantor di Madrid, Toledo, Córdoba, dan Sevilla. Keluarga dapat memberikan sampel DNA yang akan digunakan untuk membantu memastikan identitas korban apabila identifikasi melalui cara lain belum memungkinkan.
Selain itu, sejumlah lokasi donor darah dibuka di Castilla-La Mancha dan Madrid untuk membantu memenuhi kebutuhan medis selama penanganan para korban.
Pemerintah Spanyol Tetapkan Tiga Hari Berkabung
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengunjungi lokasi kecelakaan dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia mengumumkan bahwa pemerintah akan menetapkan tiga hari berkabung sebagai bentuk penghormatan kepada para korban tragedi tersebut.
Menurut Sánchez, Spanyol tidak seharusnya mengalami dua kecelakaan kereta cepat mematikan dalam satu tahun yang sama. Pernyataan tersebut disampaikan setelah kecelakaan serupa pada Januari 2026 yang juga melibatkan kereta cepat yang dioperasikan oleh dua perusahaan tersebut di Spanyol selatan.
“Tidak dapat diterima bagi negara seperti Spanyol untuk mengalami dua kecelakaan kereta api berkecepatan tinggi dalam tahun yang sama,” ujar Sánchez dikutip AP News, Kamis (29/10/2026).
Raja Spanyol Felipe VI turut mengunjungi lokasi kejadian. Keluarga kerajaan menyampaikan dukungan kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarga serta mendoakan kesembuhan para korban luka.
Federasi Sepak Bola Spanyol memutuskan untuk menunda seluruh 24 pertandingan Copa del Rey yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu sebagai bentuk penghormatan setelah tragedi tersebut.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































