tirto.id - Sampah antariksa terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas peluncuran satelit dan wahana luar angkasa. Benda-benda yang sudah tidak berfungsi itu tetap mengorbit Bumi dan berpotensi menabrak satelit aktif, bahkan jatuh ke bumi.
Pada 19 Oktober 2026, serpihan bekas roket Cina ditemukan di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Peneliti Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengidentifikasi benda tersebut sebagai bagian dari roket ZhuQue-2E yang jatuh sehari sebelumnya.
Adapun masalah sampah antariksa jatuh di Indonesia bukan pertama kalinya.
Merujuk statistik Badan Antariksa Eropa (ESA), per 23 Oktober 2026 ada 47.270 objek antariksa yang sudah dilacak. Dari jumlah tersebut, sekitar 19.440 merupakan satelit di orbit, termasuk satelit nonaktif, dan 15.900 satelit di antaranya masih berfungsi. Adapun ESA mencatat total massa benda buatan manusia yang mengorbit Bumi sudah melampaui 17.400 ton.
Lantas, sebenarnya apa saja yang tergolong sampah antariksa, bagaimana proses pembersihannya, dan mengapa upaya menyingkirkan puing-puing tersebut masih jadi tantangan?
Apa Itu Sampah Antariksa & dari Mana Datangnya?
Sebagaimana dijelaskan oleh NASA, sampah antariksa (space debris) mencakup benda buatan manusia yang sudah tidak memiliki fungsi di orbit. Bentuknya beragam, mulai dari satelit mati dan bagian roket, pecahan wahana, komponen yang terlepas, sampai serpihan kecil yang tertinggal setelah misi antariksa.
Sebagian besar sampah antariksa berada di orbit rendah Bumi atau low Earth orbit (LEO), wilayah yang membentang hingga ketinggian sekitar 2.000 km. Banyak satelit pengamatan Bumi dan wahana antariksa beroperasi di kawasan tersebut. Namun, sampah antariksa juga ditemukan di orbit lebih tinggi, termasuk orbit geostasioner, sekitar 35.786 km di atas permukaan Bumi.
Bagi Indonesia, isu ini memiliki kerentanan khusus, sebagaimana dijelaskan Fara Syahrani dan kolega dalam Urgensi National Space Debris Mitigation Guidelines dalam Menjaga Keamanan Antariksa Indonesia.
"Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki letak geografis di garis khatulistiwa sekaligus 13 persen di bawah geostationary orbit atau orbit geostasioner (GSO) terpanjang dari total rentang orbit," tulis Syahrani dkk (hal. 157).
Hal tersebut menempatkan Indonesia pada zona berisiko terhadap jatuhnya sampah antariksa, khususnya objek di bawah ketinggian 600 km.

Sejak satelit Sputnik diluncurkan pada 1957, manusia terus meningkatkan aktivitasnya di orbit. Setiap peluncuran bisa meninggalkan bagian roket yang tidak lagi dipakai. Satelit yang sudah menyelesaikan masa operasionalnya pun berpotensi jadi sampah antariksa jika tidak dipindah menuju orbit pembuangan atau diarahkan kembali ke atmosfer.
Masalah bertambah ketika benda-benda itu bertabrakan atau meledak, sampai memecah satelit jadi ribuan serpihan, sebagaimana diungkap Kepala Program Keselamatan Antariksa ESA Holger Krag dalam wawancara dengan Engineering & Technology (IET).
"Penyebab utama masalah puing-puing antariksa saat ini adalah ledakan di orbit," kata Holger Krag. "Meski beberapa langkah sudah diterapkan selama bertahun-tahun untuk mencegah hal ini, kami tidak melihat penurunan jumlah kejadian tersebut. Tren menuju pembuangan akhir misi membaik, tetapi dengan kecepatan lambat."
Cara Membersihkan Sampah Antariksa dan Tantangannya
Salah satu mekanisme yang membantu mengurangi sampah antariksa adalah hambatan atmosfer. Benda yang mengorbit Bumi sebenarnya masih mengalami gaya hambat, meski atmosfer pada ketinggian ratusan kilometer jauh lebih tipis dibanding udara di permukaan.
Merujuk Astrobites, hambatan atmosfer dijelaskan sebagai penyebab benda di orbit rendah perlahan kehilangan ketinggian. Saat orbitnya kian turun, sampah anatariksa memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat, lalu mengalami pemanasan saat proses re-entry (kembali masuk ke atmosfer). Dalam proses itu, Sebagian benda terbakar, tetapi beberapa komponen mampu bertahan dan jatuh ke Bumi.
Namun, apakah mekanisme alami itu cukup untuk membersihkan orbit Bumi?
Persoalannya terletak pada waktu. Sebelum jatuh ke atmosfer, sampah antariksa masih berpotensi menabrak satelit aktif atau benda lain. Tabrakan itu bisa menghasilkan serpihan baru yang memperbesar risiko di orbit. Karena itu, para peneliti mengembangkan metode pembersihan aktif melalui misi khusus.
ESA menyebut metode ini sebagai active debris removal (ADR). Dalam penjelasan resminya, ESA menerangkan bahwa wahana pembersih harus mendekati objek sasaran dengan menyamakan orbitnya. Setelah berhasil menangkap benda tersebut, wahana bisa mengubah orbit gabungan agar sampah memasuki atmosfer.
Salah satu contoh yang dikembangkan ESA yakni ClearSpace-1. Misi ini dirancang untuk mendekati dan menangkap satelit Proba-1 yang memiliki massa sekitar 95 kg. Tantangannya, satelit tersebut dirancang agar tidak mudah ditangkap wahana lain. Wahana pembersih harus mengandalkan navigasi dan pengendalian yang presisi ketika mendekati sasaran.

Teknologi penangkap sampah antariksa juga bisa menggunakan lengan robot atau mekanisme penjepit. Sementara itu, pendekatan lain, seperti laser, diteliti untuk mengubah lintasan puing agar mengurangi risiko tabrakan. Setiap metode memiliki keterbatasan, terutama ketika berhadapan dengan objek kecil, bergerak tidak beraturan, atau berada pada orbit yang sulit dijangkau.
Di luar inovasi teknologi, keberhasilan mitigasi juga dipengaruhi oleh regulasi negara peluncur. Syahrani dan kolega memberi contoh, Prancis, misalnya, mengesahkan French Space Operations Act (FSOA) yang mewajibkan operator menunjukkan rencana mitigasi debris sebelum izin peluncuran diterbitkan.
Sementara itu, Jepang memadu aturan Guidebook on Space Debris Mitigation dengan keterlibatan sektor swasta seperti Astroscale untuk menguji teknologi pembersihan sampah di orbit.
Adapun biaya pengembangan wahana, peluncuran, navigasi, dan operasi di orbit turut menentukan apakah sebuah misi pembersihan sampah antariksa bisa dijalankan.
Dalam laporan Cost and Benefit Analysis of Orbital Debris Remediation pada 2023, NASA menganalisis biaya dan manfaat sejumlah pendekatan penanganan sampah antariksa. Laporan tersebut menyorot ketidakpastian biaya pembersihan dan kemungkinan manfaatnya baru terasa setelah bertahun-tahun.
Operator juga harus menentukan puing mana yang perlu disingkirkan lebih dahulu. Mengingat jumlah sampah sangat besar, membersihkan setiap benda satu per satu butuh sumber daya besar. Prioritas biasanya menimbang risiko tabrakan, ukuran objek, dan potensi benda tersebut menghasilkan serpihan baru.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































