tirto.id - Orang-orang dewasa hingga anak kecil kadang secara tidak sengaja bisa saja menelan air sabun saat sedang membersihkan diri, terutama ketika mandi. Apa saja dampak kesehatan jika air sabun tertelan serta bagaimana cara menangani permasalahan tersebut?
Sebelum membahas dampak dan penanganan, perlu dipahami terkait kandungan di dalam sabun yang tidak sengaja bisa tertelan. Hal ini perlu dicek lantaran setiap jenis sabun, baik itu sabun mandi, cuci tangan, cuci piring, atau deterjen pakaian, mengandung komposisi yang berbeda-beda.
Beberapa jenis sabun ada yang tidak berbahaya jika tertelan sedikit, tetapi bisa menimbulkan masalah jika jumlah yang tertelan cukup banyak. Tingkat bahaya dapat dipengaruhi konsentrasi larutan serta kekentalan dari perpaduan air dan sabun.
Berbagai dampak kesehatan kemungkinan muncul saat tidak sengaja menelan air sabun dengan konsentrasi tinggi, tergantung kondisi tubuh setiap orang. Situasi ini memerlukan upaya pertolongan pertama, bahkan perlu pertolongan medis jika lebih parah.

Jenis Kandungan di Sabun
Kendati memiliki jenis yang berbeda-beda, sabun secara umum mengandung bahan pembersih utama dan bahan tambahan yang berfungsi menghasilkan busa, menjaga kelembapan, memberi aroma, atau mengawetkan produk. Sebut misalnya sabun mandi, sabun cuci tangan, sabun cuci piring, dan deterjen pakaian.
Lantas, apa saja kandungan di dalam sabun dan fungsi penggunaannya? Mengutip laman FAQ Food and Drug United States (US), sabun biasanya terbuat dari campuran lemak hewani atau nabati dan alkali. Perpaduan dari kedua komposisi ini menghasilkan sabun batang atau sabun alami.
Mayoritas produk sabun cair maupun padat yang sekarang beredar di pasaran katanya termasuk deterjen sintetis. Hal ini dilakukan lantaran hasil busa lebih banyak dan tidak lengket, meskipun tidak sesuai definisi regulasi "sabun alami" yang sebenarnya.

Amanda Oakley dalam artikel "Soap and Cleansers" yang rilis di DermNet mengungkapkan, ada juga kandungan surfaktan dalam sabun. Kandungan ini berfungsi menyingkirkan kotoran yang melekat di kulit, menentukan karakter busa dan sensasi saat bersentuhan, serta kemudahan pembilasan.
Selain bahan utama berbasis surfaktan, ada juga tambahan berupa air, pengemulsi, pelembap, pewangi, pengawet, pewarna, humektan, pengental, pelarut, antiseptik, produk eksfoliasi, antioksidan, asam buah, vitamin, dan penghilang komedo (misal asam salisilat).
Pemerintahan Inggris telah menetapkan regulasi kandungan maksimal produk-produk sabun cair sejak 2013 silam. Berbagai takaran maksimal untuk setiap komposisi sabun cair itu terdaftar di laman Submit Cosmetic Product Notifications UK.
Di antaranya hanya boleh mengandung maksimal 40 persen surfaktan anionic, amphoteric, dan non-ionic, 20 persen sabun (sodium, potasium, dan triethanolamine), emolien, humektan, 5 persen pengental, bahan tambahan, pemberi efek mutiara, pengondisi kulit, parfum, 2 persen pengawet antimikroba, 1 persen pewarna, dan 100 persen air.
Apakah Air Sabun Berbahaya Jika Tertelan?
Wendy Klein dalam artikel "Swallowing Soap: Is it Safe?" di laman Poison Control National Capital Poison Center mengungkapkan, menelan sabun dengan jumlah yang sedikit tidak berbahaya.
Akan tetapi, dampaknya tentu sesuai dengan jenis sabun, konsentrasi larutan, jumlah yang tertelan, dan kondisi orang yang mengalami. Lantas, apa saja dampak kesehatan yang bisa timbul akibat air sabun tertelan?
Orang yang tidak sengaja menelan air sabun cuci tangan atau sabun mandi bisa mengalami iritasi. Hal ini berpotensi terjadi jika larutan berkonsentrasi tinggi dan mengandung zat antibakteri.

Dalam artikel "What to Know about Dish Soap" di situs serupa, Arika Williams menjelaskan bahwa sabun cuci piring yang tidak sengaja tertelan akan memunculkan dampak ringan. Kasus lebih parah bisa menyebabkan seseorang mual-mual, muntah, dan diare. Lalu, menimbulkan kerusakan paru-paru dalam kasus tersedak.
Pendapat ini sejalan dengan ungkapan Jesse Borke dalam "Detergent Poisoning" (2025) di MedlinePlus. Ia menerangkan bahwa keracunan sabun cuci piring bisa terjadi karena produk tersebut mengandung anionik dan kationik.
Beberapa dampak meliputi perubahan drastis tingkat keasaman darah, kehilangan penglihatan, nyeri di tenggorokan, buang air berdarah, nyeri perut, muntah darah, pingsan, tekanan darah rendah, sulit bernapas, bengkak di tenggorokan, dan lain-lain.

Selaras dengan itu, pernah ada penelitian bertajuk "Ingestion of bar soap may produce serious injury: clinical effects and risk factors" oleh Simon De Pralormo dkk. (Clinical Toxicology, vol. 57, no. 5, 2019) yang membahas beberapa masalah akibat tidak sengaja menelan sabun batang.
Dari 553 kasus, 40 persen atau 220 kasus muncul di lingkungan panti perawatan yang individunya punya riwayat demensia. Gejala yang paling sering muncul adalah edema labial 28 persen, iritasi orofaringeal 10 persen, hipersalivasi 10 persen, muntah 9 persen, dan batuk 8 persen.
Cara Menangani & Kapan Butuh Pertolongan Medis?
Bentuk pertolongan pertama perlu disesuaikan dengan kondisi orang dan jenis produk yang tertelan. Jesse Borke dalam artikel bertajuk "Swallowing Soap" mengungkapkan, langkah pertolongan pertama untuk kasus ini dilakukan dengan cara memberikan air minum atau susu.
Akan tetapi, jangan lakukan hal tersebut jika orang yang keracunan mengalami kondisi parah. Sebut contohnya kesulitan menelan, muntah-muntah, kejang, dan tidak sadarkan diri.
Mengutip laman Health Direct tentang "Poisoning" (2023), kita bisa membersihkan terlebih dahulu cairan dari sekitar mulut. Kemudian, tidak boleh memaksa orang tersebut untuk memuntahkan cairan sabun karena hal ini justru menambah buruk keadaan.

Jika situasi membuat orang kesulitan bernapas, segera bawa ke lokasi terbuka yang udaranya segar. Langkah ini dilakukan supaya lebih leluasa menghirup oksigen.
Kita juga bisa menghubungi pihak layanan kesehatan terdekat untuk meminta arahan. Jika korban tidak kunjung sembuh, dapat membawa langsung ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan pertolongan medis.
Di sisi lain, sebagaimana dikutip dari artikel "Poisoning" yang rilis di laman NHS UK, seseorang yang tidak memunculkan gejala, maka tidak membutuhkan perlakuan khusus. Akan tetapi, pemantauan selama beberapa jam masih diperlukan demi mencegah kemungkinan gangguan kesehatan.

Penulis: Yuda Prinada
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































