tirto.id - Dalam laga 16 besar Liga Champions 2014/15, Lionel Messi yang saat itu masih mengenakan kostum Barcelona, menciptakan momen ikonik yang membuat semua penonton di stadion, termasuk Pep Guardiola, terperangah. Berada di sisi kanan lapangan, La Pulga menggiring bola mendekati James Milner, lalu melewatkan bola tersebut di antara kaki sang gelandang Manchester City.
Gerakan "mengolong" bola ala Messi ini punya banyak istilah. Dalam bahasa Inggris, teknik itu disebut nutmeg. Sementara itu, di negara-negara berbahasa Spanyol, ia disebut "caño" (pipa), "túnel" (terowongan), atau "cocina" (dapur). Di Brasil, nutmeg disebut "janelinha" (jendela kecil).
Banyak pemain bintang yang melakukan nutmeg, bukan cuma Messi saja. Barcelona bahkan membuat video kompilasi nutmeg yang dilakukan oleh wonderkid mereka, Lamine Yamal. Unggahan Barca soal nutmeg Yamal ini mendapatkan lebih dari 770 ribu likes di Instagram.
Nutmeg bukan sekadar aksi pamer skill untuk mempermalukan lawan. Dalam trik ini, seorang pemain mesti cerdik dalam memanfaatkan reaksi otak dan refleks tubuh defender yang menghadangnya.
Mengapa Bek Kelas Dunia Sekalipun Bisa Terkena Nutmeg?
Ketika melakukan nutmeg, Lionel Messi dan Lamine Yamal sering berhadapan dengan bek atau gelandang level atas. Kenyataannya, para pemain bertahan tersebut tetap tak luput dari jebakan kolong. Mengapa bisa demikian?
Saat seorang bek berusaha menahan laju penyerang lawan, otaknya secara otomatis menjalankan serangkaian keputusan refleks yang justru menjadi "bencana".
Insting pertama bek saat membayangi penyerang adalah siap bergerak fleksibel ke segala arah. Begitu sang penyerang tiba-tiba mengubah arah atau menambah kecepatan, bek tersebut dipaksa melakukan pengereman darurat. Secara naluriah, ia akan memasang kuda-kuda yang lebih lebar.
Tumpuan kaki yang merenggang serta lutut yang menekuk inilah yang menjaga tubuh bek tadi tetap stabil. Namun, ketika itu pula, tercipta celah lebar di antara kedua kakinya.

Parahnya lagi, sang bek biasanya tidak menyadari keberadaan celah tersebut. Penglihatannya cenderung terkunci penuh pada pergerakan bola atau gestur tubuh penyerang. Akibat tumpukan informasi di dalam otak ini, sang bek abai dengan posisi kakinya sendiri.
Kondisi bek yang sudah "keliru" inilah yang dieksploitasi oleh penyerang. Lewat tipuan kecil seperti gerak bahu atau ayunan kaki, penyerang memaksa otak bek terus merespons sinyal yang salah. Efeknya, bukannya merapatkan kaki, bek justru makin mengunci posisi kuda-kudanya. Ia tidak sadar sudah menyediakan "lorong gratis" di antara kedua kaki untuk dilewati bola.
Secara ilmiah, manuver pengereman dan potong arah yang dilakukan bek tersebut dikenal sebagai Change of Direction (COD), yaitu gerakan mengubah arah badan atau arah lari secepat mungkin saat bertanding.
Sebagaimana dijelaskan Singh, dkk. (2025), dalam
"Biomechanical Determinants of Change of Direction Performance", untuk melakukan COD secara cepat, seorang atlet wajib menghasilkan gaya pengereman (braking forces) yang sangat besar. Sudut COD yang lebih tajam (mendekati 180°) menuntut gaya pengereman yang jauh lebih besar dibandingkan sudut yang landai (seperti 45°).Cara paling efektif untuk menahan gaya ini tanpa hilang keseimbangan adalah merendahkan titik berat tubuh (centre of mass) sang atlet.
Secara refleks, tubuh bek akan merendahkan posisi dengan menekuk sendi pinggul, lutut, dan pergelangan kaki, sembari melebarkan pijakan di rumput.
Postur "kuda-kuda rendah" ini memang keputusan fisik paling tepat agar tubuh bek tidak terpelanting saat mengerem. Namun di atas lapangan, pilihan yang sudah benar secara teori fisika ini justru menyisakan efek samping yang fatal: mengunci kedua kaki sang bek dalam posisi terbuka lebar.
Rahasia Sains di Balik Eksekusi Nutmeg ala Yamal dan Messi
Posisi kaki bek yang terkunci dan celah lebar yang terekspos inilah yang ditunggu-tunggu oleh penyerang kelas dunia seperti Lionel Messi dan Lamine Yamal untuk melakukan nutmeg.
Trik nutmeg bukanlah soal keberuntungan semata. Nutmeg lahir dari proses kalkulasi seorang penyerang saat melihat celah tadi, memanfaatkan keterbatasan refleks defender yang menjaganya.
Penyerang yang jeli tidak akan melepaskan bola secara serampangan. Mereka dengan sabar menanti momen ketika tumpuan kaki bek baru saja menghentak rumput untuk melakukan pengereman darurat.
Pada momen krusial tersebut, sang penyerang melancarkan tipuan visual seperti gerak bahu atau ayunan tubuh yang dilebih-lebihkan. Ini adalah bagian dari strategi manipulasi persepsi kognitif.

Merujuk studi "Expertise and Deceptive Movements in Sport" oleh Raffan, dkk. (2024), tipuan visual (dalam konteks ini adalah tipuan visual penyerang), digunakan untuk merusak prediksi otomatis di otak lawan. Normalnya, tanpa ada tipuan visual, bek akan merespons arah gerak asli secara intuitif. Namun, tipuan visual tadi memaksa jaringan pengamatan motorik otak bek masuk ke mode analisis kognitif tingkat tinggi.
Otak bek disibukkan oleh pemrosesan ulang sinyal palsu tersebut. Akibatnya, tingkat akurasi tebakan otak bek hancur hingga di bawah 50%. Informasi bahwa bola sebenarnya disisipkan ke "kolong" kakinya baru diproses saat semua sudah terlambat.
Secara alamiah, otak manusia membutuhkan jeda sekitar 200 milidetik hanya untuk memproses rangsangan visual hingga mengirim perintah ke otot. Ketika penyerang akhirnya mendorong bola ke antara dua kaki lawan, otak bek mungkin sudah menyadarinya. Namun, sinyal perintah dari otak menuju otot kaki butuh waktu untuk sampai ke tujuan.
Di sinilah terjadi "kemacetan sinyal". Pikiran sang bek sudah tahu bola meluncur lewat, tetapi otot kakinya terlambat merapat. Sebelum ia sempat mengoreksi postur, bola dan sang penyerang sudah melaju mulus meninggalkannya di belakang.
Nutmeg tidak pernah lahir dari kebetulan. Ketika Lionel Messi atau Lamine Yamal mengecoh lawan lewat celah kaki, mereka sedang memanfaatkan celah paling alami dari tubuh manusia, yaitu refleks tubuh saat mengerem dan keterlambatan otak bek dalam merespons
Di tingkat tertinggi sepak bola, terkadang pembeda antara tekel bersih dan momen ikonik nutmeg yang dikenang bertahun-tahun hanyalah masalah keterlambatan sinyal saraf sepanjang 200 milidetik.
Penulis: Ahmad Zidan Nahari
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id

































