Menuju konten utama

Kartu Digital di Sepak Bola: Langkah Maju atau Masalah Baru?

Debut kartu kuning dan merah digital di Copa AUF Uruguay 2026 viral dibahas publik. Bagaimana cara kartu ini digunakan dan apa saja pro-kontra yang datang?

Kartu Digital di Sepak Bola: Langkah Maju atau Masalah Baru?
Ilustrasi Wasit menunjukkan kartu kepada pemain sepak bola. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemandangan tak biasa terlihat dalam laga segunda etapa Copa AUF Uruguay 2026 antara Nacional kontra Rentistas di Estadio Gran Parque Central, Montevideo, pada Kamis, 15 Oktober lalu.

Wasit Eduardo Varela yang bertugas mengadili pertandingan tidak membawa kartu kuning dan kartu merah secara fisik. Sebaliknya, Varela membawa peranti elektronik yang memungkinkannya mengeluarkan kartu kuning dan merah secara digital.

Kemunculan kartu digital ini diprakarsai oleh Asosiasi Sepak Bola Uruguay, AUF yang bekerjasama dengan REFe, perusahaan pengembang teknologi. Namun, sama seperti ketika Goal Line Technology hingga Video Assistant Referee (VAR) disuguhkan pertama kali ke lapangan hijau, penggunaan kartu kuning dan merah digital ini mengundang pro-kontra.

Meski dalil penggunan kartu digital ini adalah demi membuat kinerja wasit lebih akurat, muncul kritik soal visibilitas kartu tersebut dari jarak jauh.

Lantas, bagaimana sebenarnya kartu digital bekerja dalam laga Copa Uruguay?

Bagaimana Kartu Sepak Bola Digital Ada dan Bekerja?

Pertandingan ronde 2 Copa Uruguay 2026 antara Nacional vs Rentistas di Stadion Gran Parque Central di Kota Montevideo menjadi debut kartu digital yang digagas oleh AUF. Laga kala itu dimenangkan Nacional dengan skor 3-0 melalui gol Agustín Rogel (menit 40), Tomás Verón Lupi (menit 64), dan Rubén Botta (menit 74).

Dalam partai tersebut, wasit Eduardo Varela mengeluarkan 4 kartu kuning kepada pemain Rentistas. Ia juga memberikan kartu merah kepada penyerang Nacional, Nahuel Gelos.

Kartu digital sebenarnya hendak ditampilkan oleh AUF dalam partai Copa Uruguay antara Defensor Sporting vs Plaza Colonia pada 30 September. Namun, perangkat tersebut tidak jadi dipakai karena masalah silau sinar matahari sore yang membuat layar tidak terlihat dengan jelas.

Lalu, bagaimana sebenarnya kartu digital itu bekerja? Apakah dalam penerapannya bisa memudahkan kerja wasit? Ataukah justru mempersulit pengadil lapangan mengingat ini adalah teknologi baru?

Pada dasarnya, kartu digital yang diprakarsai AUF menggunakan perangkat berbasis ponsel pintar. Dalam mengoperasikan perangkat ini, wasit memiliki dua tombol khusus pada aplikasi untuk menampilkan warna kartu kuning atau merah di layar.

Ilustrasi Wasit

Ilustrasi Wasit. foto/istockphoto

Tujuannya tentu saja untuk memudahkan kinerja wasit di lapangan. Dengan berbekal kartu digital, seorang wasit hanya perlu menekan tombol sesuai dengan warna kartu yang akan ia keluarkan terhadap seorang pemain.

Teknologi tersebut juga dilengkapi dengan fitur nama dan nomor punggung pemain yang berlaga. Sehingga ketika terjadi sebuah pelanggaran, sudah ada rekaman soal warna kartu, ditujukan ke siapa, dan pada menit berapa pelanggaran itu dilakukan.

Hal itu bisa mengurangi human error yang bisa saja dilakukan wasit. Juga, untuk mempersingkat waktu karena wasit tidak perlu menulis secara manual untuk mencatat identitas pemain yang melakukan pelanggaran.

"Kami ingin menghadirkan teknologi ke satu-satunya hal dalam sepak bola yang masih analog," kata Mauro Sacco selaku Direktur REFe, perusahaan pengembang teknologi tersebut, dikutip dari laman Straits Times.

Wasit Eduardo Varela sendiri merasa terbantu dengan adanya teknologi tersebut. Apalagi, secara penggunaan, perangkat itu mudah dipelajari olehnya.

"Alat itu seperti ponsel. Dia memiliki dua tombol, satu kuning dan satu merah. Ketika kamu menekannya, akan muncul warna sesuai dengan warna yang sesuai dan menampilkan semua nomor pemain yang tersedia," kata Varela dilansir dari laman Ole.

"Alat itu membuat pekerjaan kami menjadi lebih sederhana. Kita mungkin kehilangan esensi dari kartu tersebut, tetapi ini sangat membantu dan sangat positif. Saya yakin alat ini akan bertahan lama," tambah Varela.

Ilustrasi wasit

Ilustrasi wasit mengeluarkan kartu kuning. FOTO/Istockphoto

Di sisi lain, Varela mengaku ada suatu kesakralan yang hilang karena hadirnya teknologi. Tidak ada lagi adrenalin yang muncul ketika wasit mencabut kartu untuk memberikan hukuman kepada seorang pemain seperti yang selama ini terjadi.

"Kamu memang sedikit kehilangan magis dari menarik kartu dengan cepat. Tapi saya rasa ini adalah sesuatu yang sangat membantu para wasit, terutama dari sisi administratif," ujar Varela.

Kemudahan yang dirasakan Varela dalam menggunakan kartu digital tidak terlepas dari penerapan rancangan sistem offline-first dalam software perangkat tersebut.

Di stadion yang dipadati ribuan penonton, sinyal seluler sering kali mengalami gangguan parah akibat tingginya lalu lintas data. Perangkat lunak kartu digital yang dipakai Varela sengaja dirancang agar tidak bergantung pada koneksi internet sama sekali saat pertandingan berlangsung. Alhasil, risiko kegagalan sistem atau lag saat mencatat pelanggaran dapat dihindari secara total.

Sebelum peluit pertama dibunyikan, saat para wasit berada di ruang ganti, perangkat elektronik ini terlebih dahulu disambungkan ke jaringan untuk mengunduh daftar pemain, nomor punggung, dan susunan tim yang terverifikasi dari platform COMET, yaitu sistem manajemen kompetisi berbasis cloud milik FIFA yang digunakan oleh AUF. Setelah data tersebut terunduh, alat siap dipakai di lapangan secara terisolasi.

Ilustrasi Wasit

Ilustrasi Wasit. foto/istockphoto

Selama 90 menit laga berjalan, setiap tindakan wasit langsung ditulis ke dalam memori penyimpanan lokal berkecepatan tinggi di dalam perangkat kartu digital tersebut. Ini mencakup hal seperti menekan tombol kartu kuning atau merah, memilih nomor punggung pemain, merekam stempel waktu pelanggaran, hingga menyimpan catatan suara. Seluruh log kejadian ini dienkripsi secara otomatis untuk menjaga integritas data dari potensi manipulasi di tengah pertandingan.

Proses pengiriman data ke cloud baru terjadi setelah pertandingan berakhir melalui metode store-and-forward.

Begitu wasit kembali ke ruang ganti dan perangkat mendeteksi sinyal Wi-Fi atau data seluler, aplikasi akan langsung mengunggah seluruh berkas digital pertandingan ke server COMET menggunakan antarmuka pemrograman aplikasi. Alur kerja ini memangkas waktu pengisian formulir laporan pertandingan dari yang biasanya memakan waktu hingga setengah jam menjadi hanya beberapa detik saja.

Teknologi di Kartu Digital Sepak Bola yang Belum Sempurna

Kendati memberikan efisiensi dari segi administrasi dan pengolahan data usai laga, penerapan teknologi kartu digital di lapangan tetap tak luput dari catatan. Pengalaman langsung Wasit Eduardo Varela serta pandangan para pengembang menunjukkan bahwa kartu digital masih memiliki sejumlah keterbatasan fisik. Untuk benar-benar bisa menggantikan kartu kuning dan kartu merah konvensional, perangkat ini perlu beberapa pembenahan.

Satu hal yang menjadi sorotan adalah visibilitas warna kartu. Dari jarak jauh atau dari tribun penonton, warna kartu yang ditampilkan wasit, entah kuning atau merah, tidak sepenuhnya terlihat jelas. Demikian pula jika dilihat penonton dari televisi. Kartu akan terlihat pucat saat tertangkap kamera TV. Pantulan sinar matahari terik membuat pemirsa di rumah kesulitan membedakan warna kartu secara jelas di layar kaca.

Wasit Melakukan Pengecekan VAR

Wasit Azel Febrian Sinaga melihat Video Assistant Referee (VAR) setelah pesepak bola Semen Padang FC dijatuhkan oleh pemain Persebaya dalam pertandingan lanjutan BRI Liga 1 di Stadion H Agus Salim Padang, Sumatera Barat, Minggu (15/12/2024). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/nym/aa.

Selain itu, namanya sebuah alat atau teknologi, selalu ada peluang terciptanya eror. Akan runyam apabila wasit hendak menghukum seorang pemain dengan kartu, namun tiba-tiba saja perangkat kartu digital mengalami gangguan.

Misalnya saja, baterai perangkat tersebut yang bisa bermasalah atau drop jika tidak dicek jelang laga. Masalah cuaca juga bisa menjadi ganjalan terutama apabila perangkat istimewa ini jatuh ke air atau kuyup oleh hujan deras.

Faktor lain yang tidak menguntungkan adalah potensi kerusakan perangkat kartu digital apabila terjadi benturan. Bahkan jika tidak sengaja terinjak sepatu pemain, bukan tidak mungkin laga akan terhenti untuk mendapatkan perangkat pengganti.

"Ini adalah proyek yang masih bisa berkembang. Semua terlihat bagus di stadion daripada di televisi. Tantangan yang kami hadapi sekarang adalah memperbaikinya untuk semua penonton," kata Diego de la Peña selaku Direktur REFe, Direktur REFe lainnya.

"Kartu kuning harus terlihat kuning dan kartu merah juga harus terlihat merah. Itu semua harus terlihat jelas bagi penonton di stadion dan di televisi," tambahnya.

Apa pun itu, inovasi yang dilakukan AUF dengan REFe layak diapresiasi. Kendati muncul banyak komentar, mereka bertekad untuk menyempurnakan teknologi yang bisa saja nantinya akan digunakan secara global.

"Kami telah melihat semua komentar baik yang positif maupun negatif. Kami juga tertawa melihat meme yang muncul. Hal terpenting adalah orang-orang membahasnya. Semua inovasi membutuhkan waktu," papar Direktur REFe lainnya, Mauro Sacco.

Baca juga artikel terkait SAINS POPULER atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Byte
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Fitra Firdaus