Menuju konten utama

Otak Juri vs Data Statistik: Benarkah Ballon d'Or Berisiko Bias?

Mengapa pemenang Ballon d'Or sering bikin perdebatan? Intip analisis sains di balik voting juri dan bias dari data statistik sepak bola.

Otak Juri vs Data Statistik: Benarkah Ballon d'Or Berisiko Bias?
Penyerang tim nasional Inggris dan Bayern Munich, Harry Kane, berbicara setelah menerima penghargaan Ballon d'Or sebagai pesepak bola pria terbaik dalam upacara penganugerahan Ballon d'Or France Football 2026 di Palladium Theatre, London, pada 26 Oktober 2026. (Foto oleh FRANCK FIFE / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harry Kane resmi dinobatkan sebagai pemenang Ballon d'Or 2026 pada Selasa (27/10) dalam malam penghargaan yang berlangsung di London Palladium, London, Inggris. Sang penyerang ulung Inggris mengalahkan 29 kandidat lain, termasuk Kylian Mbappe (Real Madrid/Prancis) dan Lamine Yamal (Barcelona/Spanyol).

Keberhasilan Harry Kane menjadi kampiun Ballon d'Or 2026 ini memastikan hadirnya lima pemenang berbeda dalam lima edisi terakhir penghargaan garapan France Football tersebut. Kane menyusul jejak Karim Benzema (2022), Lionel Messi (2023), Rodri (2024), dan Ousmane Dembélé (2025).

 Harry Kane

Penyerang tim nasional Inggris dan Bayern Munich, Harry Kane, memberikan reaksi setelah menerima penghargaan Ballon d'Or sebagai pesepak bola pria terbaik dalam upacara penganugerahan Ballon d'Or France Football 2026 di Palladium Theatre, London, Senin (26/10/2026). ANTARA/AFP-FRANCK FIFE /pri.Jakarta

Setiap kali pemenang Ballon d'Or diumumkan, tidak sedikit muncul perdebatan di kalangan penggemar atau pandit sepak bola soal ajang penghargaan pemain terbaik dunia ini. Apalagi, dalam Ballon d'Or, 30 kandidat pemenang diberi peringkat dari urutan pertama hingga terakhir.

Pertanyaan seperti "mengapa Messi hanya peringkat 5 padahal membawa Argentina jadi runner-up Piala Dunia 2026?" atau "mengapa Yamal bisa finis di urutan ketiga di belakang Mbappe" bisa saja mengemuka.

Di satu sisi, sepak bola modern sudah dipenuhi statistik untuk mengukur performa pemain seperti Expected Goals (xG) hingga Expected Assists (xA).

Di sisi lain, penentuan pemenang Ballon d'Or bergantung pada voting jurnalis dari 100 negara ranking teratas FIFA, yang menilai berdasarkan kriteria resmi France Football, yaitu performa individu, prestasi tim, serta class (sikap profesional) dan fair play.

Perbedaan antara data statistik dan akumulasi poin hasil penilaian jurnalistik inilah yang memicu pertanyaan: mungkinkah terjadi bias dalam penentuan pemenang Ballon d'Or?

Mengapa Voting Ballon d'Or Bisa Menciptakan Bias?

Sistem pemungutan suara Ballon d'Or diatur oleh France Football. Penilaian dilakukan oleh panel jurnalis olahraga dari 100 negara dengan peringkat FIFA teratas untuk kategori putra, serta 50 negara untuk kategori putri.

Setiap juri memilih 10 pemain terbaik secara berurutan dari 30 daftar nominasi yang dirilis redaksi France Football, L'Équipe, perwakilan juri edisi sebelumnya, serta duta UEFA. Bobot poin juri ini sifatnya berjenjang, yaitu 15 poin untuk peringkat pertama, diikuti 12 untuk posisi kedua, 10 untuk urutan ketiga, 8 untuk posisi 4, diikuti 7, 5, 4, 3, 2, hingga 1 poin untuk peringkat kelima sampai kesepuluh.

Pemain dengan total akumulasi poin terbanyak berhak meraih trofi Ballon d'Or. Jika terjadi poin imbang, pemenang ditentukan berdasarkan jumlah pemilih terbanyak di posisi pertama, kedua, dan seterusnya.

Ballon Dor

Piala Ballon Dor. instagram/francefootball

Sistem pemeringkatan berbasis poin ini bertujuan untuk menciptakan hasil akhir yang objektif. Pasalnya, ketika terdapat tiga kandidat utama yang sama kuat di mata juri, pemungutan suara rentan terjebak dalam Condorcet paradox, yaitu kondisi ketika pola pilihan juri berputar dalam siklus tanpa akhir.

Sebagai simulasi, bayangkan jika 100 jurnalis yang menilai Ballon d'Or 2026 terbagi ke dalam tiga pola preferensi saat menilai 3 besar kandidat, yaitu Harry Kane, Kylian Mbappé, dan Lamine Yamal sebagai berikut.

  • Kelompok A (34 Jurnalis): Mbappé > Yamal > Kane
  • Kelompok B (33 Jurnalis): Yamal > Kane > Mbappé
  • Kelompok C (33 Jurnalis): Kane > Mbappé > Yamal
Jika ketiga pemain diadu secara berpasangan (head-to-head), hasilnya adalah sebagai berikut.
  • Mbappé unggul atas Yamal (dipilih Kelompok A dan C = 67 jurnalis).
  • Yamal unggul atas Kane (dipilih Kelompok A dan B = 67 jurnalis).
  • Namun, Kane unggul atas Mbappé (dipilih Kelompok B dan C = 66 jurnalis).
Secara logika mayoritas murni, terjadi siklus berputar yaitu Mbappé > Yamal > Kane > Mbappé. Alhasil, tidak ada satu pemain pun yang mendominasi secara mutlak atas seluruh pesaingnya.

Mekanisme poin berjenjang France Football (15, 12, 10 poin) hadir untuk memutus siklus melingkar tersebut dengan mengonversinya menjadi penjumlahan angka.

Dampaknya, hasil akhir pemungutan suara Ballon d'Or melahirkan pemenang berdasarkan kompromi matematis. Pemenang adalah pemain yang paling konsisten mengumpulkan poin tinggi dari mayoritas juri, meskipun belum tentu menjadi pilihan nomor satu secara mutlak oleh seluruh pemilih.

Otak Juri vs Data Statistik: Mengapa Pemenang Ballon d'Or Sering Memicu Debat?

Di luar perhitungan matematis sistem voting dalam Ballon d'Or, perdebatan soal siapa yang layak jadi pemain terbaik dunia sebenarnya bersumber dari benturan cara kerja otak juri dan keterbatasan cara membaca data statistik.

France Football memang telah menetapkan tiga kriteria resmi untuk penilaian, yaitu performa individu, prestasi tim, serta sikap profesional (class) dan fair play. Namun, tidak ada bobot persentase yang kaku di antara ketiga hal ini. Alhasil, dalam menilai performa satu musim penuh, yang tahun ini berlangsung pada periode 3 Agustus 2025 hingga 19 Juli 2026, juri Ballon d'Or punya risiko bias kognitif.

Bias pertama adalah recency bias atau kecenderungan mengingat momen terbaru. Otak juri (juga penggemar sepak bola) secara alami lebih mudah mengingat dan memberi bobot lebih pada momen krusial pada akhir musim. Misalnya, laga final Liga Champions atau Piala Dunia. Gol penentu di laga final cenderung lebih membekas dalam ingatan ketimbang hat-trick yang dicetak pada bulan September awal musim.

Selain itu, dewan juri (juga penggemar sepak bola) juga dimungkinkan terkena "Halo Effect". Keberhasilan tim meraih trofi besar sering kali menjadi "halo" atau kilau utama yang menyinari penilaian terhadap pemain kandidat Ballon d'Or.

Munculnya wacana dari penggemar bahwa Fabián Ruiz layak menjadi kandidat utama Ballon d'Or usai menjuarai Liga Champions bersama PSG dan Piala Dunia 2026 bersama Spanyol merupakan bukti bekerjanya bias kognitif ini.

Lionel Messi

Pemain sepak bola Barcelona Lionel Messi memegang trofi upacara penghargaan Golden Ball di Paris, Senin, 2 Desember 2019. Messi memenangkan Ballon d'Or untuk keenam kalinya. (Foto AP / Francois Mori)

Di sisi lain, ketika seseorang hanya melihat statistik tanpa mengolahnya, mungkin saja muncul pertanyaan: "Mengapa Erling Haaland tampak rajin mencetak gol untuk Manchester City dan Norwegia, hanya menempati peringkat 8 di Ballon d'Or 2026?". Padahal, Haaland adalah top skor EPL 2025/26 dengan 27 gol. Ia juga mencetak 7 gol Piala Dunia 2026. Pertanyaan seperti ini memiliki kelemahan mendasar berupa position bias.

Metrik populer seperti gol dan assist, diikuti dengan Expected Goals (xG) atau Expected Assists (xA) secara alami lebih menguntungkan penyerang ketimbang gelandang bertahan atau bek. Apalagi, gol dan assist memang yang paling mencolok dalam sebuah pertandingan.

Padahal, masalah dasarnya bukan terletak pada ketiadaan data statistik, melainkan pada kecenderungan publik untuk hanya menggunakan statistik yang mudah terlihat di permukaan. Masih ada metrik tingkat lanjut yang sering diabaikan seperti progressive passes, defensive actions leading to shot, hingga pressing success rate yang melekat pada gelandang dan bek.

Ada pula faktor kualitatif yang krusial dalam pertandingan, tetapi tak dapat dipantau hanya dari statistik semata, seperti kepemimpinan dan pengaruh emosional seorang pemain, pergerakan tanpa bola, hingga komunikasi taktis.

Perdebatan soal siapa yang layak menang Ballon d'Or, yang muncul hampir setiap tahun, adalah ujung dari benturan kalkulasi matematika dalam voting, memori manusia, dan statistik di lapangan. Di sinilah logika dan gairah para pencinta sepak bola selalu menemukan ruang diskusi yang tak pernah usai.

Baca juga artikel terkait LATEST WP atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus