Menuju konten utama

Damai Cartenz Lacak 2 OPM Penembak ASN Jayawijaya via Video Call

Gara-gara video call di medsos, identitas 2 OPM penembak 3 ASN di Jayawijaya berhasil dilacak Damai Cartenz. KSAD Maruli perintahkan evaluasi total.

Damai Cartenz Lacak 2 OPM Penembak ASN Jayawijaya via Video Call
Ilustrasi Penembakan di Papua. tirto.id/Sabit
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz Kepolisian RI mengidentifikasi dua orang berstatus daftar pencarian orang (DPO), berinisial PN dan KT, sebagai terduga pelaku penembakan tiga aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Kepala Satuan Tugas Hubungan Masyarakat Operasi Damai Cartenz 2026, Komisaris Besar Yusuf Sutejo, mengatakan identitas kedua buronan tersebut terungkap melalui rekaman panggilan video (video call) yang beredar di media sosial setelah dicocokkan dengan data kepolisian.

“Setelah kami sandingkan dengan data yang kami miliki serta ciri-ciri yang ada pada kami, kami memastikan dua orang tersebut merupakan PN dan KT yang masuk dalam DPO kami,” kata Yusuf dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto, Sabtu (12/9/2026).

Rekam Jejak Kekejaman Kelompok Egianus Kogoya

Menurut kepolisian, PN dan KT merupakan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya.

Keduanya memiliki keterkaitan dengan sederet aksi kekerasan bersenjata di wilayah Papua.

Polisi menduga PN dan KT terlibat dalam aksi penembakan saat Festival Budaya Lembah Baliem di Jayawijaya pada 8 Agustus 2026 yang mengakibatkan dua warga sipil terluka.

Mereka juga disinyalir terlibat dalam penyanderaan pilot Susi Air, Philip Mark Mehrtens, di Kabupaten Nduga pada 7 Februari 2023 sebelum akhirnya dibebaskan pada 21 September 2024.

“Ini merupakan sebuah perkembangan bagi kami. Dari hasil identifikasi ini, kami masih terus melakukan pengejaran untuk mengetahui keberadaan para pelaku,” ujar Yusuf.

Peristiwa penembakan tiga ASN tersebut terjadi pada Rabu (9/9/2026). Saat itu, para korban sedang dalam perjalanan pulang menuju Wamena usai menyalurkan bantuan anakan babi, meninjau lahan cetak sawah, serta memberikan penyuluhan peternakan. Namun, kendaraan dinas mereka dihadang kelompok bersenjata.

Para pelaku memaksa ketiga korban turun dan menggiring mereka ke bagian belakang kendaraan. Tak lama berselang, terdengar tiga kali letusan senjata api sebelum para pelaku melarikan diri.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, pelaku diduga membawa dua pucuk senjata api laras panjang serta sejumlah senjata tajam jenis parang.

Saat ini, kepolisian masih mendalami motif penyerangan dan menambah penempatan personel di Wamena guna mempercepat perburuan terhadap PN, KT, serta anggota kelompok lainnya.

Sementara itu, ketiga jenazah korban telah dipulangkan ke daerah asal masing-masing, yakni satu jenazah pada Kamis (10/9/2026) dan dua jenazah lainnya pada Jumat (11/9/2026).

KSAD Maruli Simanjuntak Evaluasi Total Pengamanan Papua

Secara terpisah, Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan pihaknya akan mengevaluasi menyeluruh sistem pengamanan warga sipil di Papua menyusul insiden maut tersebut.

"Ini yang terus kita tetap evaluasi. Pasukan kita juga sudah mulai ditempatkan di tempat-tempat yang sudah kita antisipasi," kata Maruli dilansir Antara, Jumat (11/9/2026).

Maruli menyatakan aparat gabungan terus meningkatkan intensitas pengamanan wilayah dan perburuan kelompok bersenjata. Tekanan aparat disinyalir membuat kelompok tersebut terdesak hingga menyerang warga sipil secara membabi buta.

"Jadi kelihatannya mereka malah sudah resah, jadi mulai sembarangan dia mencari korban," terang dia.

Maruli turut membantah tudingan kelompok bersenjata yang menyebut para korban sebagai intelijen pemerintah.

Ia menegaskan para korban murni aparatur sipil yang tengah bertugas melayani masyarakat daerah.

"Memang manusia-manusia itu ya begitu, dia selalu mencari alasan isunya. Sekarang nyerang yang sipil, di situ semua dianggap intel-lah. Itu itu berulang-ulang bicaranya seperti itu, ya," kata Maruli.

Ia memastikan perlindungan bagi masyarakat akan terus diperkuat dengan menyiagakan jajaran komando kewilayahan di Jayawijaya.

"Kami punya pasukan Kodim, Korem, maupun Kodam yang bisa dikerahkan. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik lagi untuk pengamanan," ucap Maruli.

Baca juga artikel terkait PENEMBAKAN DI PAPUA atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah