Dalil Niat Puasa Ramadhan dan Bacaan Arab, Latin, serta Artinya

Penulis: Beni Jo, tirto.id - 6 Apr 2022 13:05 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Niat puasa Ramadhan dapat dilakukan setelah melaksanakan sholat Tarawih atau ketika melakukan sahur sebelum terbitnya fajar. Berikut dalilnya.
tirto.id - Niat puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun bagi umat Islam yang hendak mengerjakan puasa Ramadhan. Membaca doa niat berpuasa dapat dilakukan ketika sebelum memulai puasa, sebelum melaksanakan sahur, atau dapat dilakukan ketika malam hari sesudah melaksanakan salat tarawih.

Terdapat dua rukun utama berpuasa, yaitu niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.

Dalam buku Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2018:5) salah satu dalil tentang niat puasa adalah riwayat yang disampaikan oleh Hafshah, bahwa Nabi saw bersabda, "Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya".

Rujukan yang sama juga diacu dalam Buku Saku Sukses Ibadah Ramadhan terbitan Pengurus Pusat Lajnah Ta'lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) (2017:17)

Selain itu, diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya semua perbuatan ibadah harus dengan niat, dan setiap orang tergantung kepada niatnya ….” (H.R Bukhari). Atas dasar tersebut, karena puasa termasuk ibadah, maka niat untuk mengerjakannya termasuk ke dalam rukun puasa.

Kekeliruan yang terjadi dalam melafalkan niat puasa tak secara langsung dapat berpengaruh pada sah atau tidaknya puasa, selama terbesit dalam hati masing-masing untuk melakukan ibadah puasa pada keesokan harinya.

Sementara kaitan antara niat berpuasa dan sahur menurut pendapat Imam Syafi’i bahwa makan sahur tidak dengan sendirinya dapat menggantikan kedudukan niat, kecuali apabila terbersit dalam hatinya maksud untuk berpuasa.

Bacaan Niat Puasa Ramadhan


Niat puasa wajib waktu pelafalannya berbeda dengan niat puasa sunnah. Niat puasa wajib disampaikan pada malam hari sebelum seseorang mengerjakan puasa. Diriwayatkan dari jalur Hafshah, istri Nabi saw. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang belum berniat untuk berpuasa sebelum fajar, maka tidak ada (tidak sah) puasa baginya."

Sebaliknya, seseorang bisa saja berniat puasa sunnah pada pagi hari atau siang hari selama ia belum melakukan perbuatan yang membatalkan puasa sejak subuh. Diriwayatkan dari jalur Aisyah, ia berkata, pada suatu hari Rasulullah saw. bertanya apakah ada makanan. Aisyah menjawab tidak. Nabi kemudian bersabda, "Kalau begitu, aku akan berpuasa." (H.R. Abu Dawud).

Bacaan niat berpuasa Ramadhan adalah sebagai berikut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu sauma ghadin an’adai fardi syahri ramadhani hadzihisanati lillahita’ala

Artinya, "Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala."


Dalil Tentang Niat Puasa



Dalam tradisi Islam di Indonesia, seringkali didapati setelah pengerjaan salat tarawih, jemaah kemudian mengucapkan niat puasa bersama-sama. Dalam Buku Saku Sukses Ibadah Ramadhan, hal tersebut tidak terlepas dari pentingnya niat puasa Ramadhan.

Jika seseorang lupa tidak berniat, maka puasanya tidak sah. Ada kemungkinan, seseorang lupa berniat puasa keesokan paginya ketika melaksanakan sahur.

Oleh karenanya, dilakukanlah pembacaan niat puasa itu bersama-sama, dengan suara keras. Dalil membaca niat puasa dengan suara keras dapat dijumpai dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah.

Aisyah berkata, "Rasulullah datang kepada saya lalu bertanya, "Apa ada makanan?" Kami menjawab, "Tidak ada". Rasulullah berrkata, "Kalau begitu saya berpuasa" (H.R Muslim No 1951)

Sebagai catatan, jika seseorang berniat berpuasa saat makan sahur, dan ketika itu tanda waktu imsak sudah dikumandangkan dari masjid, niat tersebut tetap sah. Dalam hal ini, imsak bukanlah tanda seseorang untuk berhenti makan sahur. Puasa sendiri, dimulai setelah terbit fajar hingga terbenam matahari.

Dikutip dari situs web resmi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalil atas hal ini adalah sabda Nabi, "Sesungguhnya Bilal azan di kala malam (sebelum fajar shadiq), maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar azan dari Ibnu Ummi Maktum.”



Hukum membaca niat

Niat adalah satu dari dua rukun puasa selain menahan diri (imsak). Menurut Kementerian Agama (Kemenag), niat puasa Ramadan wajib dilakukan, apabila ditinggalkan maka puasa dianggap tidak sah dan harus dibayarkan setelah Ramadan usai. Waktu pembacaan niat harus sesuai ketentuan, yaitu dilakukan pada malam hari sebelum fajar.

Ketentuan ini tentu bukan tanpa acuan. Diriwayatkan, Nabi bersabda bahwa, "Siapa saja yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya" (H,R. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah, dari Hafshah).

Lalu bagaimana jika seorang muslim lupa membaca niat pada malam hari dan baru ingat setelah fajar?

Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab, umat Islam dapat mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah. Pendapat tersebut menyebutkan bahwa niat puasa Ramadan di pagi hari sudah mencukupi.

“Disunahkan (bagi yang lupa niat di malam hari) berniat puasa Ramadan di pagi harinya. Karena yang demikian itu mencukupi menurut Imam Abu Hanifah, maka diambil langkah kehati-hatian dengan berniat.” (Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, hal 315).

NU menambahkan bahwa niat puasa yang dilakukan pada malam hari ini hanya berlaku bagi puasa Ramadhan, bukan puasa sunnah. Dalam puasa sunnah niat puasa tetap sah meski diniatkan waktu dhuha, dengan syarat belum minum atau makan sedikitpun.






Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Beni Jo
(tirto.id - Hard News)

Penulis: Beni Jo
Editor: Fitra Firdaus
Penyelaras: Yulaika Ramadhani
DarkLight