tirto.id - Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) membuat sejumlah maskapai dan bandara terpaksa menyesuaikan operasinya.
Maskapai Emirates dan Qatar Airways disebut sebagai dua maskapai paling terdampak oleh konflik Iran-AS, menyusul penutupan bandara di kawasan Timur Tengah.
Bloomberg melaporkan, konflik ini telah menimbulkan kekacauan pada industri penerbangan global. Kedua maskapai tersebut masing-masing membatalkan lebih dari 400 penerbangan hingga pukul 22.00 waktu New York pada Minggu (1/3/2026).
Kemudian maskapai India, IndiGo, yang melayani rute ke berbagai destinasi termasuk Dubai, Jeddah, dan Doha, menjadi maskapai non-Timur Tengah yang paling terdampak.
Sementara itu, Dubai International Airport dan Hamad International Airport, yang juga tealh menangguhkan seluruh operasi penerbangan, menjadi bandara yang paling terdampak. Bandara utama Dubai selaku basis utama Emirates dan bandara internasional tersibuk di dunia mencatat lebih dari 600 penerbangan keberangkatan dibatalkan.
Bandara lain yang terdampak konflik ini termasuk Ben Gurion International Airport di Tel Aviv dan King Abdulaziz International Airport di Jeddah.
“Dampaknya sangat besar ketika Anda menutup pusat [hub] tunggal terbesar di dunia untuk pelancong internasional,” kata analis perjalanan independen Hong Kong, Hanming Li, dikutip dari Bloomberg, Senin (2/3/2026).
Berdasar laporan Bloomberg, maskapai yang paling terdampak imbas perang tersebut adalah Emirates, Qatar Airways, FlyDubai, Etihad Airways, dan IndiGo.
Lalu, bandara yang paling terdampak imbas perang tersebut adalah Dubai International, Hamad International, Abu Dhabi International, Ben Gurion International, serta King Abdulaziz International.
Reuters melaporkan, secara umum, perjalanan udara global terganggu pada Minggu (1/1/2026) kemarin, imbas perang Iran-AS.
Bandara-bandara transit utama ditutup atau dibatasi secara ketat, karena sebagian besar wilayah udara kawasan itu tetap tertutup setelah serangan AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dampaknya, puluhan ribu penumpang terlantar di bandara-bandara.
Bandara Internasional Dubai mengalami kerusakan selama konflik Iran-AS. Sementara itu, bandara di Abu Dhabi dan Kuwait juga terkena dampak.
Manajemen Emirates mengatakan telah menangguhkan seluruh operasinya ke dan dari Dubai hingga Senin ini. Manajemen Qatar Airways, yang telah menangguhkan seluruh operasinya, mengatakan akan memberikan informas lebih lanjut pada Senin ini.
Lalu, Lufthansa Jerman juga memperpanjang penangguhan penerbangannya ke kawasan tersebut hingga 8 Maret 2026.
Wilayah udara di atas Iran, Irak, Kuwait, Israel, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar nyaris kosong, menurut peta Flightradar24 pada Minggu kemarin.
Layanan pelacak penerbangan tersebut merekam penutupan wilayah udara Iran setidaknya hingga 08.30 GMT pada 3 Maret 2026.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id

































