Menuju konten utama

Cuitan Ganjar 'Ojo Adigang, Adigung, Adiguna', Untuk Siapa?

Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo, menuturkan, cuitan melalui akun @ganjarpranowo itu tidak ditujukan kepada pasangan calon tertentu.

Cuitan Ganjar 'Ojo Adigang, Adigung, Adiguna', Untuk Siapa?
Capres-cawapres nomor urut 3 Ganjar Pranowo (kiri) dan Mahfud MD (kanan) tiba di lokasi Debat Keempat Pilpres 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Minggu (21/1/2024). ANTARA FOTO//M Risyal Hidayat/tom.

tirto.id - Calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo, menjelaskan perihal cuitannya di platform media sosial X soal "Ojo adigang, adigung, adiguna. Ada yang tau artinya?" yang diunggah usai debat keempat capres-cawapres Pemilu 2024, Minggu (21/1/2024). Dia menuturkan, cuitan melalui akun @ganjarpranowo itu tidak ditujukan kepada pasangan calon tertentu.

"Dalam suasana politik seperti ini, jangan merasa jemawa, paling hebat, diri lebih menguasai. Ini untuk semua. Jangan tersinggung kalau ada yang nge-tweet gitu, jangan baperan (gampang terbawa perasaan). Enggak, dong (ditujukan ke salah satu pasangan calon)," kata Ganjar dikutip dari Antara, Senin (22/1/2024).

Sementara itu, Ganjar pun merespons terkait debat cawapres semalam. Dia menilai masyarakat bisa menilai substansi, cara penyampaian, dan gestur calon wakil presiden (cawapres). Ganjar mengakui merindukan suasana debat dan bukan suasana tanya jawab. Dia menjelaskan, mekanisme debat memungkinkan seseorang untuk langsung memotong pembicaraan pada hal yang tidak jelas.

"Apakah itu klarifikasi, diksi, substansi, atau konsepsi; maka publik menjadi semakin yakin. Jadi, pendalamannya di situ, bukan yang sifatnya lain-lain," imbuhnya.

Arti Adigang Adigung Adiguna

Adigang Adigung Adiguna termasuk salah satu peribahasa dalam bahasa Jawa.

Frasa ini terdiri dari 3 kata, yakni Adigang, Adigung, dan Adiguna.

Mereka juga mempunyai pengertian yang berbeda-beda hingga diperoleh satu makna atau sebuah pesan tersendiri. Dengan demikian, "Ojo Adigang, Adigung, Adiguna" berarti jangan melakukan 3 perbuatan tersebut. Menurut pepeling, adigang adalah kekuatan.

Adigung berarti kekuasaan. Sedangkan adiguna merupakan kepandaian. Frasa berupa Adigang Adigung Adiguna dapat ditemukan dalam Serat Wulangreh karya Sri Sunan Pakubuwana IV Pupuh ke 3 (Sekar Gambuh) bait ke 4-10.

Bait 4 berbunyi sebagai berikut:

Ana pocapanipun

Adiguna adigang adigung

Pan adigang kidang adigung pan esthi

Adiguna ula iku Telu pisan mati sampyoh

Pada baik ke-7, bunyinya sebagai berikut:

Adiguna puniku

Ngandelaken kapinteranipun

Samubarang kabisan dipundheweki

Sapa pinter kaya ingsun

Tuging prana nora injoh

Sementara bait ke-10 dituliskan:

Dene katelu iku Si kidang suka ing patinipun

Pan si gajah alena patinereki

Si ula ing patinipun

Ngandelaken upase mandos

Nur Syam dalam "Adigang, Adigung, Adigun: Filsafat Hidup Orang Islam Jawa (Bagian Satu) menuturkan, adigang adalah rasa, pikiran, dan tindakan yang mengagungkan dirinya sendiri karena kekuatan yang dimiliki.

Orang yang adigang seolah mampu menguasai dunia lewat kekuatan. Ia akan merasa pasti menang dalam berbagai hal, baik secara fisik maupun yang lainnya. "Ojo Adigang" mengusung pesan jangan sampai dimabukkan oleh kekuasaan, kedudukan, kekuatan, dan kewenangan.

Dalam Babad.id, orang yang meninggikan kekuasaan dianggap sedang tidak percaya diri. Ia menempatkan kekuasaan di atas dirinya. Oleh karena itu, manusia hendaknya jangan dikendalikan sebuah kesombongan. Sementara adigung digambarkan sebagai perasaan, sikap, dan tindakan seseorang yang memiliki kekuasaan tiada tara.

Ia menganggap kekuasaan bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk menguasai dunia dan isinya. Kekuasaan sesunguhnya mempunyai batasan, tidak abadi, dan hanya bersifat sementara. Kekayaan hendaknya dijadikan untuk fasilitas kehidupan, bukan dengan cara menyia-nyiakan dan mengejar ambisi.

Pesan lain adalah jangan terhasut kesombongan hingga terus-terusan mengumpulkan harta kekayaan. Sementara adiguna menjadi ciri bagi orang yang tergila-gila oleh kepandaian, kecendekiaan, dan kecerdikan. Hasrat untuk mengejar ilmu memang boleh. Akan tetapi, hendaknya tidak tinggi hati alias sombong. Alasannya, masih banyak orang yang lebih berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang lebih besar.

Baca juga artikel terkait USAI DEBAT CAWAPRES

tirto.id - Politik
Sumber: Antara
Editor: Intan Umbari Prihatin