Corona Indonesia: Terbanyak di ASEAN, Rumah Sakit "Mulai Kolaps"

Oleh: Mohammad Bernie - 23 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kasus COVID-19 di Indonesia tak terkendali. Dampaknya semakin sedikit ruang di rumah sakit. Health care system mulai kolaps.
tirto.id - Kasus COVID-19 di Indonesia menjulang tinggi. Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19, jumlah kasus aktif sebanyak 66.578 pada 11 Oktober 2020. Jumlahnya terus menurun hingga menyentuh 53.846 pada 10 November. Namun, setelah hari itu jumlah kasus aktif terus menanjak.

Pada 3 Desember atau 23 hari setelahnya kasus aktif mencapai 77.969 dan Senin 21 Desember lalu atau 18 hari berikutnya mencapai 104.809.

Jumlah kasus aktif paling banyak tersebar di Jawa. Di Jawa Tengah masih terdapat 21.172 pasien dirawat, Jakarta 13.253 pasien, Jawa Barat 11.995, dan Jawa Timur 5.475. Totalnya mencapai 51.895 atau 49,5 persen jumlah pasien aktif nasional.

Kasus aktif sebanyak itu membuat Indonesia berada di peringkat teratas di Asia Tenggara. Sesama negara semenjana dalam penanganan pandemi, Filipina, mencatat 22 ribu kasus aktif. Lalu Myanmar 18.170. Di Malaysia, pada hari yang sama ada 15.563 kasus aktif, sementara di Singapura terdapat 114 dan Vietnam 109. Sementara Thailand tengah menangani 794 kasus, Laos menghadapi 5 kasus, dan Brunei Darussalam dan Timor Leste tak lagi punya kasus aktif.

PandemicTalks, inisiatif masyarakat sipil untuk analisis data COVID-19, mendalami lebih lanjut data itu. Hasilnya, di Indonesia ada 0,373 kasus aktif per 1.000 penduduk, hanya kalah dari Malaysia yang terdapat 0,468 kasus aktif per 1.000 penduduk. Sementara Filipina memiliki 0,256 kasus aktif per 1.000 penduduk.

“Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah sistem kesehatan kita mampu membendung banyaknya jumlah kasus aktif?” kata Co-founder PandemicTalks Firdza Radiani lewat keterangan tertulis, Senin (21/12/2020).


Di Jakarta, tingkat keterisian tempat tidur COVID-19, baik ruang isolasi biasa atau ICU, melampaui 80 persen. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, di RSUD hanya tersisa 219 dari 1168 tempat tidur isolasi COVID-19 bertekanan negatif dan 390 dari 1.875 tempat tidur isolasi tidak bertekanan negatif. Tersisa 31 ruang ICU bertekanan negatif dan tersedia ventilator, 29 ICU tekanan negatif tanpa ventilator, 11 ICU tanpa tekanan negatif dengan ventilator, dan 12 ICU tanpa tekanan negatif dan tanpa ventilator.

Sementara Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyebut kapasitas sejumlah rumah sakit tersisa 20 persen bahkan penuh. Karenanya ia mengimbau warga untuk tidak bepergian ke luar kota terlebih dulu.

Pemerintah Kota Bogor mulai bergerak menyiapkan GOR Padjajaran menjadi rumah sakit darurat COVID-19 yang diperkirakan bisa menambah 70 tempat tidur.

Di Kota Bandung, Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 setempat Ema Sumarna menyatakan sejumlah rumah sakit dan hotel sudah merawat pasien melampaui ambang batas. Idealnya, rumah sakit terisi 60 persen, tetapi sejumlah rumah sakit terisi hingga 90 persen.

Lalu Bangka Belitung. Wisma Karantina Asrama Haji telah menampung 84 pasien, melebihi kapasitasnya yakni 47 kamar. Sementara Wisma Karantina Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Daerah menampung 112 orang, melampaui kapasitasnya, yakni 100.

Mulai Kolaps

Menurut Sekjen Persatuan Rumah Sakit Indonesia Lia Partakusuma, lonjakan pasien hampir serempak terjadi di Pulau Jawa. “Kalau kita dapat informasi dari teman-teman atau juga pasien yang mencari tempat tidur itu untuk Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur itu sudah bisa dibilang agak sulit,” kata Lia kepada reporter Tirto.

Dia bilang masyarakat dan terutama pemerintah tidak boleh hanya terpaku melihat persentase bed occupancy rate (BOR) sehingga solusi yang ditawarkan sekadar menambah tempat tidur. Dia bilang masalahnya tak sesederhana itu. Pasalnya, dari seluruh pasien positif, sekitar 4-5 persennya memiliki gejala berat sehingga harus ditempatkan di ruang ICU. “Sekarang sudah terjadi, rumah sakit-rumah sakit yang punya ICU untuk Covid ini rata-rata penuh pasiennya,” kata Lia.

Aspek lain adalah tidak meratanya fasilitas dan SDM masing-masing rumah sakit. Lia menjelaskan karena pasien bergejala berat umumnya memiliki penyakit penyerta, maka penanganannya pun harus simultan. Masalahnya, seringkali rumah sakit punya ICU COVID-19 tetapi tidak memiliki fasilitas atau SDM untuk menangani penyakit penyerta tersebut. Akibatnya pasien tetap tidak bisa tertangani.


Di awal pandemi, butuh 150 hari bagi COVID-19 untuk membunuh 5.000 orang, tapi 5000 kematian terakhir terjadi hanya dalam kurun waktu 39 hari. Kelipatannya terjadi semakin cepat. Bagi Firdza Radiani, ini adalah salah satu tanda sistem layanan kesehatan goyah.

Health care system yang mulai kolaps dampaknya ke jumlah kematian yang semakin cepat naik karena terjadi bottle neck antara sistem kesehatan yang mulai roboh diterpa banyaknya pasien aktif. Harusnya hulunya yang dihentikan.”

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengakui ada persoalan tingkat keterisian tempat tidur. Untuk mengantisipasi lonjakan pasien, pemerintah daerah didorong melakukan rekayasa kesehatan sebagaimana diarahkan Kementerian Kesehatan, salah satunya dengan membangun rumah sakit darurat dan mengubah ruang pelayanan umum menjadi untuk penanganan COVID-19.

Pemerintah daerah juga didorong untuk memperkuat testing dan tracing agar kasus bisa ditemukan sedini mungkin dan lama rawat menjadi berkurang.

“Mari kita tetap optimistis bahwa kita bisa mengatasi ini. Ke depannya Satgas terus tetap memaksimalkan upaya 3M dan 3T dengan menguatkan koordinasi pusat-daerah,” kata Wiku kepada reporter Tirto, Senin.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino
DarkLight