Menuju konten utama

Cetak Laba Rp35,8 Triliun, Pertamina Setor Dividen Rp8,5 Triliun

Pertamina mencetak laba bersih sebesar 2,53 miliar USD atau setara Rp 35,8 triliun pada tahun 2019.

Cetak Laba Rp35,8 Triliun, Pertamina Setor Dividen Rp8,5 Triliun
Karyawan melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) kendaraan konsumen di SPBU Coco Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (20/2/2020).ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.

tirto.id - PT Pertamina (Persero) mencetak laba bersih sebesar 2,53 miliar USD atau setara Rp 35,8 triliun pada tahun 2019. VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, capaian laba itu sama dengan tahun sebelumnya.

Dari perolehan laba tahun 2019 itu, sebesar Rp8,5 triliun disetorkan sebagai dividen ke kas negara. Dividen ini meningkat 7 persen dibandingkan setoran dividen tahun lalu yang sebesar Rp7,95 triliun.

Fajriyah mengatakan, perekonomian sepanjang tahun 2019 masih mengalami tekanan sejalan dengan dinamika global. Beberapa hal yang memengaruhi kinerja sektor migas seperti nilai ICP yang masih cukup tinggi di level 62 USD per barel dan kurs yang cenderung menguat di kisaran Rp 14.146 per dolar AS. Dengan kondisi tersebut, total pendapatan usaha Pertamina tahun 2019 tercatat sebesar 54,58 miliar USD dengan aset 67,08 miliar USD.

Pada tahun 2019, Pertamina mempertahankan produksi migasnya tanpa major akuisisi, tetapi melalui kegiatan operasional yang intensif yaitu pengeboran 322 sumur pengembangan, 14 sumur eksplorasi dan melakukan 751 kegiatan workover, serta 13.683 well services.

“Saat ini, Pertamina telah memiliki lapangan migas yang yang tersebar di 13 negara di benua Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Dari lapangan tersebut, kami berharap dapat mendukung aspirasi Pemerintah mencapai 1 juta BOPD dan 4 ribu MMSCFD di tahun 2024,” kata Fajriyah, melalui siaran persnya, Jumat (19/6/2020).

Pertamina berhasil menekan impor minyak mentah sebesar 35 persen dan produk sebesar 11 persen pada tahun 2019. Langkah ini dapat menghemat devisa sebesar Rp7,3 Miliar atau Rp109 Triliun.

Sejak awal tahun 2019, Pertamina juga telah menyetop impor Solar dan Avtur pada Februari dan Maret. Saat ini Pertamina mencatat volume penjualan Avtur di pasar luar negeri yang terus meningkat mencapai 754 ribu KL dan melayani maskapai domestik dan international di 40 bandara dari 20 negara.

“Untuk menekan impor migas, Pertamina juga terus melanjutkan komitmen implementasi B30 lebih cepat pada November 2019, yang target pada Januari 2020,” imbuh dia.

Pada tahun 2019, Pertamina berhasil menyelesaikan 161 titik BBM 1 harga yang tersebar di wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) di seluruh Indonesia.

Untuk memperluas jangkauan layanan, Pertamina pun membangun 48 Pertashop dan 253 km tambahan jaringan pipa gas, sehingga saat ini mencapai lebih dari 10.000 KM jaringan pipa gas terpanjang di Asia Tenggara untuk penyediaan gas industri & hampir 400.000 Jargas sambungan rumah tangga yang meningkat 22% dari tahun 2018. Termasuk pembangunan 21 lokasi storage TBBM, 8 Lokasi storage Avtur dan 2 Kapal General Purpose pun dijalankan untuk memastikan keandalan suplai dan distribusi BBM di seluruh Indonesia.

Pada pertengahan tahun 2019, Pertamina telah menuntaskan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) sehingga dapat meningkatkan kualitas produk BBM dari standar Euro 2 menjadi Euro 4, dan dengan volume produksi yang naik dari 1 juta barel menjadi 1,6 juta barel per bulan.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti