tirto.id - Kepulan asap dari wajan besar, deru generator, dan aroma sayur panas hari itu melengkapi kesibukan para relawan di Dapur Umum Lapangan Kementerian Sosial di Kabupaten Agam, Aceh. Ribuan porsi makanan mereka siapkan untuk para pengungsi.
Di tengah hawa panas, Wirman Saputra bertahan di dapur. Keringat membasahi seragam hijau tua bertuliskan Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang melekat di tubuhnya.
Membantu pengungsi bencana bukan barang baru baginya. Wirman telah 16 tahun menjadi anggota Tagana, organisasi relawan yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial.
Namun, banjir bandang pada 27 November 2025 lalu benar-benar memberikan pengalaman baru bagi Wirman. Ia merasa beruntung bisa selamat dari banjir yang menerjang kampung tempat tinggalnya.
Sudah berhari-hari ia menyimpan cerita ketika Galodo (istilah lokal untuk banjir bandang) melanda Kampung Sikumbang, Jorong Subarang Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Tempat tinggal Wirman itu hanya beberapa kilometer dari lokasi dapur umum Kemensos.
Sambil berdiri dan sesekali berkacak pinggang, ia menunjuk ke arah bukit, menceritakan bagaimana banjir besar datang. Ingatannya kembali pada momen saat desanya luluh lantak dan terbenam lumpur akibat banjir bandang.
Wirman bercerita dengan jernih. Tidak terdengar suara gemetar ketika ia mengingat tragedi itu. Justru ia nampak tegar serta menunjukkan sikap dan insting seorang relawan yang siap siaga dalam situasi darurat.
Dia menceritakan dengan detail detik-detik banjir bandang terjadi. “Semua terjadi begitu cepat, bu... suara itu macam pesawat mau landing,” ujarnya memulai.
Hari itu, Kamis (27/11) sore, Wirman baru pulang setelah dua hari membantu penanganan banjir di kecamatan tetangga. Semula ia hanya berniat mengambil pakaian ganti dan lekas kembali bertugas. Namun, istrinya menahannya sebentar.
“Makan dulu. Udah dua hari tak pulang," kata Wirman mengulang kalimat sang istri.
Wirman tersenyum singkat mengingat kejadian itu. Dia bersyukur karena keputusannya tak bergegas pergi ternyata menyelamatkan nyawanya.
Ketika baru saja meraih kunci motor untuk kembali bertugas, dia merasakan tanda-tanda tak wajar. “Tiba-tiba saya dengar suara bising… kuat sekali. Macam pesawat landing dari bukit," ujarnya sambil membuat gerakan tangan menukik ke bawah, menggambarkan suara besar yang datang dari arah hulu sungai.
Tak lama berselang, Wirman melihat tanah bergetar, piring-piring di rak berderak, hingga terdengar teriakan orang-orang dari luar rumahnya.
Kampung Sikumbang cuma berjarak sekitar 75 meter dari sungai sehingga menjadi salah satu titik yang paling cepat merasakan getaran, tanda air bah datang.
Istri Wirman sempat kalang-kabut dan hendak lari dari rumah. Tapi Wirman menahannya. Dia seketika mengingat materi pelatihan relawan Tagana.
“Jangan keluar. Kita bertahan dulu. Yang besar datang sekali. Setelah itu baru bergerak," kata dia kepada istrinya.
Wirman percaya keberuntungan bukan satu-satunya faktor yang membuatnya selamat dari banjir bandang, tetapi ketepatan dalam membaca situasi di tengah bencana.
Dengan suara rendah, ia melanjutkan cerita, “Air besar, tingginya lebih kurang 40 meter di belakang rumah. Cepat sekali."
Air bah segera membuat rumah bergoyang, disusul hawa dingin bercampur lumpur masuk dari sela-sela dinding papan.
Usai suara gelegar pertama, Wirman tidak menunggu lagi. Ia lekas keluar rumah melawan nalurinya untuk tetap di dalam.
Dari arah kolam, ia melihat seorang warga tenggelam setengah badan dalam lumpur dan air keruh. Tangannya melambai ke permukaan.
Tanpa pikir panjang, Wirman segera melompat ke arah orang itu. “Saya selamatkan. Tarik ke rumah.”
Di dalam rumah, istri Wirman ikut membersihkan badan orang tadi, mengusap wajahnya, menyingkirkan lumpur yang menutup hidung dan mulut.
“Hidup lagi orangnya," kata Wirman, dengan kondisi seragam yang basah terkena hujan.
Tak lama setelah momen itu, suara teriakan lain menyusul. Wirman menyaksikan seorang nenek berumur sekitar 68 tahun berdiri dengan tubuh gemetar dan tanpa pakaian karena tersapu arus. Mukanya hampir tak terlihat karena tertutup lumpur pekat.
“Kasihan kali. Saya langsung gendong," katanya sambil memeragakan dan menggambarkan posisi tubuh sang nenek yang ringkih.
Setelah menyelamatkan seorang lansia, Wirman mengevakuasi anak laki-laki berusia 11 tahun yang nyaris tenggelam.
Bocah itu tersangkut di bawah cabang kayu besar. Ia mengisahkan, “Anak kecil itu nadinya sudah lemah. Napasnya susah.”
Wirman meraih tangan kanan si anak, cepat-cepat mengangkatnya, dan menahan kepala bocah itu agar tak kembali masuk lumpur. “Saya gendong langsung. Bawa ke rumah.”
Matanya yang terbalut lumpur dibersihkan. Berkat ketangkasan Wirman, anak itu selamat.
Tak berhenti, ada suara lain yang ia dengar di pematang sawah. Seorang korban berteriak. Dia terjebak di lumpur yang dalam.
Wirman pun mencoba mengangkatnya, namun gagal. Tak kurang akal, Wirman mengambil terpal lebar untuk direntangkan di atas lumpur. Dia menidurkan korban di atas terpal, lalu menariknya menyusuri lumpur yang penuh batang kayu.
“Tarik pelan-pelan, zig-zag. Kayu banyak sekali,” kisahnya.
Wirman mengilustrasikan jalur tersebut dengan menggerakkan jari di udara. Ia bercerita seolah lumpur masih di bawah kakinya.
Dari ceritanya, Wirman menyelamatkan empat nyawa dalam waktu kurang dari satu jam. Semua korban yang ia selamatkan dalam kondisi kritis, akhirnya mampu bertahan hidup.
Setelah banjir datang, Kampung Sikumbang porak-poranda. Jalan terputus dan akses ke desa hanya bisa ditempuh lewat jembatan darurat ketika air sudah surut.
“Bantuan ada, bu. Tapi banyak terhenti di luar. Ke dalam yang sulit. Kami maklum, akses semua putus,” kata dia, tanpa mencari kesalahan pihak mana pun.
Warga di desanya kini bergantung pada Dapur Umum Lapangan tempat Wirman bertugas. “Selama kami bisa nyeberang, kami keluar cari makan. Pagi, siang, malam. Untuk warga," ujarnya.
Sembari menghela napas dan mengusap seragam hijau tuanya, Wirman memberikan pesan pada sesama Tagana, “Ikhlas nomor satu. Jangan berharap apa-apa. Kepuasan menolong itu yang paling besar.”
Wirman bukan hanya penyintas ataupun relawan, tetapi potret keberanian warga Kampung Sikumbang. Dia tetap rela menolong orang lain saat bahaya menghampiri dari arah bukit.
Dari gelombang air bah, jeritan warga, tubuh-tubuh penuh lumpur, hingga empat nyawa selamat, muncul kisah tentang keberanian dan ketulusan.
Ketika galodo menerjang kampungnya, Wirman bukan hanya jadi korban yang selamat, tetapi juga pahlawan.
Di dapur umum, ia nampak selalu sibuk, dikelilingi suara sendok, panci, aroma nasi panas bercampur dengan bau tanah basah, dan tenda putih yang tertiup angin. Namun, lebih dari itu, Wirman menjadi cerminan dari keberanian dan ketangguhan warga dalam menghadapi bencana. Kisahnya menjadi bagian dari cara Kampung Sikumbang bangkit kembali.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id




























