tirto.id - Aji Bayu Ramadhan masih mengingat masa kecilnya di Kecamatan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di tengah keterbatasan akses informasi. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan dan berpindah dari satu proyek ke proyek lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Saat kondisi ekonomi keluarga makin sulit, ayah Aji melakoni pekerjaan lain, seperti memungut rongsokan atau menjadi perajin. Sementara itu, ibunya menjadi ibu rumah tangga yang mendampingi dan mendidik anak-anaknya agar tetap memiliki harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
“Di mana pun ada kesempatan, di situ ayah saya selalu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan itu,” ujar Aji.
Aji kemudian berusaha masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ia berasal dari wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) dengan akses informasi terbatas. Kondisi ini membuatnya mesti mencari informasi seleksi IPDN secara mandiri lewat berbagai kanal resmi.
“Hal yang paling saya rasakan susah ketika masuk IPDN adalah informasi. Dikarenakan saya berasal dari daerah 3T yang akses informasi di situ belum terlalu terbuka,” ujarnya usai Upacara Pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026).
Aji menilai bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi IPDN, selama ia memiliki kemauan dan kesungguhan. Sejalan dengan bagaimana proses seleksi yang menurutnya cukup transparan dan bisa dipantau langsung oleh masyarakat.
“Saya adalah saksi ... melihat segala macam proses seleksi dilaksanakan dengan betul-betul website online dan tidak bisa diintervensi oleh siapa pun,” tuturnya.
Kedua orang tua Aji turut mendukung persiapannya masuk IPDN. Dari kampung halamannya, Aji menempuh perjalanan sekitar tiga jam menuju Kota Kupang untuk mengikuti berbagai tahapan seleksi. Orang tuanya menyiapkan kebutuhan selama proses tersebut, termasuk makanan, menjaga kebugaran, dan mendampinginya mengikuti mengikuti setiap tes.
Setelah lolos seleksi, Aji menjalani pendidikan sebagai praja IPDN selama empat tahun. Selama pendidikan, negara memenuhi kebutuhan dasarnya, sehingga ia dapat fokus mengikuti prose pembelajaran dan penempaan sebagai calon aparatur negara.
“Tentu saja alhamdulilahnya kami di-provide dengan gratis di sini. Saya pikir semua hal dari pakaian, sepatu, seragam, makanan, listrik, air semuanya yang menjadi fondasi kehidupan itu sudah di-provide secara maksimal oleh kampus. Jadi, kami di sini hanya sekadar datang dan fokus belajar,” tuturnya.
Menurut Aji, kesempatan menempuh pendidikan tanpa biaya memberinya pengalaman penting. Ia menilai sistem pendidikan di sana memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh praja untuk belajar tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Pada Rabu, 29 Juli 2026, Aji bersama 1.203 lulusan lainnya mengikuti pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII di hadapan presiden. Dalam kesempatan tersebut Aji juga menerima Penghargaan Kartika Astha Brata.
“Saya sangat berterima kasih atas semua hal yang terjadi oleh Presiden kami. Karena ini adalah pertama kali Presiden Prabowo datang ke IPDN Jatinangor,” ungkapnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di IPDN, Aji menganggap hal tersebut sebuah awal dari pengabdiannya. Kisahnya juga menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan bekal pendidikan yang ia dapat, Aji bersiap menjalankan tugas untuk mengabdi kepada masyarakat dan Indonesia.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































