Menuju konten utama

BRIN Gandeng Kemdiktisaintek Perkuat Ekosistem Riset Nasional

BRIN dan Kemdiktisaintek mengintegrasikan ekosistem riset nasional melalui pendanaan senilai Rp8 triliun.

BRIN Gandeng Kemdiktisaintek Perkuat Ekosistem Riset Nasional
Kiri ke kanan: Direktur Pendanaan Penelitian & Inovasi Dr. R. Arthur Lelono, Wakil SDMI Prof. Edy Giri R.P, Moderator, Direktur Jenderal Penelitian & Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi Dr. Fauzan Adziman, dan Kepala ORNM Prof. Ratno Nuryadi. Tirto.id a/n Dini Puspita
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) guna mengintegrasikan ekosistem riset nasional melalui pendanaan senilai Rp8 triliun. Langkah strategis ini mencakup skema hilirisasi hingga pemanfaatan platform berbasis akal imitasi (AI) bernama ASRI, untuk memastikan puluhan ribu proposal riset para akademisi dapat terfasilitasi dengan optimal.

Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. R. Arthur Lelono, mengatakan bahwa riset bertumpu pada tiga komponen utama, yakni sumber daya manusia (SDM), infrastruktur riset, dan pendanaan riset.

“Ada tiga komponen penting dalam riset, yaitu SDM, infrastruktur riset, dan pendanaan riset,” ujarnya dalam kuliah umum Internasional yang digelar BRIN pada Rabu (4/02/2026).

Arthur menjelaskan, dalam skema pendanaan riset, BRIN bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui mekanisme pengembangan bagi hasil dari riset. Secara garis besar, terdapat dua skema besar pendanaan riset, yakni pendanaan riset pengembangan pengetahuan serta pendanaan riset hilirisasi.

Terdapat beberapa program pendanaan yang dibagi kembali oleh BRIN. Seperti skema RIIM Kompetisi, pendanaan difokuskan untuk menghasilkan invensi dan inovasi melalui riset dasar dan riset terapan.

“RIIM Kompetisi sudah ratusan judul dan hampir triliunan dana yang tersalurkan. Selain itu, terdapat pendanaan hilirisasi dan startup, baik yang diusulkan oleh industri maupun oleh peneliti sesuai kebutuhan riset,” katanya.

Selain RIIM Kompetisi, BRIN juga menjalankan RIIM Kolaborasi, yakni pendanaan berbasis kerja sama (co-funding) dengan mitra lembaga pendanaan dan perguruan tinggi. Skema ini ditujukan untuk memperkuat kolaborasi riset lintas institusi.

“Kami sudah melakukan kolaborasi dengan banyak lembaga dan sejumlah perguruan tinggi. Kedua pihak diuntungkan melalui pemanfaatan fasilitas dan pendanaan riset,” ujar Arthur.

Dalam perannya sebagai lembaga pendanaan (funding agency), BRIN menyediakan fasilitasi dan pendanaan riset, pemanfaatan infrastruktur laboratorium, pusat kolaborasi riset, serta mobilitas periset untuk memperkuat jejaring dan transfer pengetahuan.

Pada aspek hilirisasi dan pemanfaatan hasil riset, BRIN menyediakan berbagai skema, antara lain RIIM Startup untuk pendanaan startup berbasis hasil riset, fasilitasi pengujian produk inovasi, riset inovasi strategis yang bersifat vision driven, serta akses pemanfaatan infrastruktur laboratorium.

Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, menyampaikan bahwa dari sisi pemerintah tersedia sekitar Rp8 triliun dana riset yang dapat dimanfaatkan.

“BRIN dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi merupakan satu kesatuan dalam ekosistem riset nasional,” ujarnya.

Berdasarkan survei nasional di perguruan tinggi di seluruh Indonesia, Fauzan menyebutkan bahwa ‘riset’ menjadi harapan terbesar mahasiswa. Dari 5.942 responden, sebanyak 1.706 responden mengusulkan penguatan kerja sama antara BRIN dengan Kemdiktisaintek.

Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun sebelumnya terdapat sekitar 60 ribu proposal riset yang diterima Kemdiktisaintek, namun hanya sekitar 20 ribu proposal yang dapat dibiayai. Tahun ini, jumlah proposal meningkat menjadi sekitar 120 ribu, sementara jumlah proposal yang dibiayai masih relatif sama.

“Dari aspek anggaran sudah sangat membantu, namun kerja sama dapat menjadi solusi untuk menjangkau kelompok riset yang belum terdanai,” katanya.

Sebagai upaya penguatan ekosistem riset nasional, Kemdiktisaintek juga menyediakan situs bernama ASRI, sebuah laman berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk memudahkan pencarian riset di Indonesia. Platform ini menghasilkan laporan berbasis data dari hasil riset yang dicari.

===========

Dini Puspita Ramadhani berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.

Baca juga artikel terkait DANA RISET atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto