Menuju konten utama

BPS: Indonesia Masih Impor Beras 40,7 Ribu Ton per Oktober 2025

Berdasarkan negaranya, impor beras Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2025 antara lain berasal dari Myanmar, Thailand dan India.

BPS: Indonesia Masih Impor Beras 40,7 Ribu Ton per Oktober 2025
Kepala Bulog KC Batam Guido XL Pereira (kanan) memeriksa stok beras di gudang penyimpanan Bulog Batam, Kepulauan Riau, Rabu (26/11/2025). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ndonesia masih mengimpor beras sebanyak 40,7 ribu ton pada Oktober 2025. Angka tersebut setara 19,1 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp317,93 miliar (asumsi kurs Rp16.646 per dolar AS).

Sementara sepanjang Januari-Oktober 2025, impor beras 364,3 ribu ton, dengan nilai 178,5 juta dolar AS.

“Pada Oktober 2025 impor beras 40,7 ribu ton dengan nilai 19,1 juta dolar AS. Sepanjang Januari-Oktober 2025, impor beras 364,3 ribu ton dengan nilai 178,5 juta dolar AS,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam rilis Berita Resmi Statistik (BPS), di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025).

Berdasarkan negaranya, impor beras Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2025 antara lain berasal dari Myanmar, Thailand dan India.

Selain impor, BPS juga melaporkan bahwa pada November 2025, beras mengalami deflasi sebesar 0,59 persen, dengan andil deflasi sebesar 0,02 persen. Menurut Pudji, deflasi ini terjadi di 28 provinsi, sementara 8 provinsi mencatat inflasi dan 2 provinsi lainnya stabil.

“Secara historis, beras mengalami inflasi pada November 2022 dan 2023. Namun, berbalik deflasi pada November 2024 dan 2025 dengan penurunan yang lebih dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” sambungnya.

Sementara secara bulanan, deflasi dilaporkan telah mengalami deflasi selama 3 bulan terakhir, dengan deflasi beras di November 2025 yang sebesar 0,59 persen merupakan deflasi beras terdalam sejak Juni 2024. Kata Pudji, deflasi beras terjadi karena beberapa faktor, antara lain ialah meningkatnya ketersediaan beras karena musim panen di beberapa wilayah.

Kemudian, terjadi pula penyesuaian harga beras pada beberapa kualitas dan juga diduga sebagai imbas dari adanya penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ke pasar-pasar saat ini.

“Jadi, secara historis dalam beberapa tahun terakhir komoditas beras memang mengalami deflasi pada November dan cenderung akan inflasi di Desember, meskipun demikian kita akan menunggu perkembangan pada rilis di awal tahun depan untuk kondisi Desember 2025,” tutup Pudji.

Baca juga artikel terkait BERAS IMPOR atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana