Menuju konten utama

BP Taskin Bantu Kopdes Merah Putih Kelola Tambang Emas di Lombok

Tambang emas di Sekotong semula merupakan tambang ilegal, bahkan sempat disegel KPK.

BP Taskin Bantu Kopdes Merah Putih Kelola Tambang Emas di Lombok
Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko di kantor BP Taskin, Jakarta, Kamis (14/8/2025). tirto.id/Nanda

tirto.id - Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) tengah melakukan pendampingan terhadap pengelolaan tambang emas di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), oleh Koperasi Desa Merah Putih.

Wakil Kepala BP Taskin Nanik Sudaryati Deyan mengungkapkan bahwa pihaknya diminta oleh Gubernur NTB untuk mengawal kelancaran tambang emas ini dikelola secara mandiri oleh rakyat lewat koperasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Jadi kata Pak Gubernur, mudah-mudahan ini Sekotong tidak miskin lagi. Jadi masyarakat yang ada di situ, satu kecamatan, katanya bisa kerja semua di situ,” katanya di kantor BP Taskin, Jakarta, Kamis (14/8/2025).

Nanik menjelaskan, tambang emas di Sekotong semula merupakan tambang ilegal. Tambang ini bahkan sempat disegel Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun lalu.

Namun, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang masih berada di zona kemiskinan, BP Taskin mendorong agar tambang ini dikelola oleh koperasi.

“Karena ini efeknya luar biasa, nanti main ke Sekotong, gunungnya emas semua. Dari jalan udah kelihatan, berkilau,” ujarnya.

Karena di situ wilayahnya miskin. Nah, inilah ironi paradoks yang Pak Prabowo katakan. Gunungnya emas, lautnya penuh mutiara, tapi yang punya selama ini di eksploitasi orang luar,” tambahnya.

Untuk itu, dia menargetkan serapan tenaga kerja hingga 30.000 orang dengan beroperasinya pertambangan yang dikelola oleh koperasi ini.

Dia merinci, nantinya akan ada 60 koperasi yang akan mengelola tambang ini, dengan masing-masing koperasi menyerap hingga 500 pekerja.

“30 ribu itu yang langsung ya, yang langsung bekerja. Ini belum nanti kalau yang misalnya kan biasanya ada apa namanya, muncul lah pedagang-pedagang,” tambahnya.

Adapun, nantinya pengelolaan tambang di Sekotang akan dikerjasamakan dengan pihak swasta lokal dengan pembagian, 20 persen swasta dan 80 persen koperasi.

“Kenapa harus ada swasta? Karena kan harus ada yang beli eksavator, harus ada yang beli mesin-mesin,” ucap Nanik.

Sementara itu, Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko mengatakan bahwa koperasi tambang di Sekotang nantinya akan menjadi percontohan bagi koperasi-koperasi lainnya di Indonesia.

“Kita akan pakai, kalau sudah berhasil nih, kalau sukses akan jadi model pengelolaan tambang-tambang rakyat di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Lebih jauh Budiman mengatakan bahwa, tak hanya mengawal pengelolaan tambang di Sekotang, pihaknya juga terus mendorong jalannya pengelolaan koperasi di sektor-sektor lainnya, seperti pertanian, simpan pinjam, kesehatan, bahkan AI di Lombok.

Ia pun berambisi untuk menjadikan Lombok sebagai kawasan aglomerasi. “Yang tambang emas itu hanya satu kasus saja. Bukan cuma koperasi tambang saja, ada koperasi tanahnya, ada koperasi EBT, begitu ya. Juga pariwisatanya,” ucapnya.

Di sisi lain, BP Taskin juga terus mendorong agar Kopdes Merah Putih menjadi solusi untuk mendekatkan warga desa kepada akses pembiayaan.

Pasalnya, selama ini masyarakat desa banyak yang tidak memiliki rekening karena tidak punya identitas yang lengkap, sehingga terjebak pada Bank Emok atau lembaga pemberi kredit liar.

“Bank Emok itu yang kredit-kredit liar yang kalau pagi-pagi kalau subuh udah mau ke rumah dan mereka bunganya itu gila-gilaan. Nanti Kooperasi Merah Putih ini akan memberikan kredit lebih murah,” ucap Nanik.

Kopdes Merah Putih ini pun, lanjut Nanik, akan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin membangun usaha lewat pinjaman modal usaha, tanpa agunan.

“Koperasi ini akan memberikan pinjaman dengan kredit yang lebih murah dari bank sehingga masyarakat kecil yang mau usaha tidak terjerat oleh kredit yang tinggi,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait BUDIMAN SUDJATMIKO atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana