tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak mengonfirmasi isu pengiriman kapal induk kedua ke kawasan Teluk. Hal ini dilakukan meskipun upaya diplomasi guna meredakan ketegangan Iran vs AS tengah berlangsung.
Apa yang tampak seperti konfirmasi itu adalah unggahan Trump di akun sosial media miliknya pada Kamis (12/2/2026).
Trump mengunggah di Truth Social miliknya, sebuah gambar cuplikan layar artikel Wall Street Journal dengan judul "Pentagon Menyiapkan Kapal Induk Kedua untuk Dikerahkan ke Timur Tengah". Trump hanya mengunggahnya tanpa keterangan apa pun.
Kemudian pada Jumat (13/2), AP merilis keterangan seorang sumber anonim bahwa kapal induk kedua yang dikirim ke dekat Iran tersebut adalah USS Gerald R. Ford. Ford merupakan kapal induk terbesar di dunia saat ini.
Seturut AP, kapal induk USS Gerald R. Ford akan dikerahkan ke kawasan Teluk dari perairan Karibia. Kapal induk ini diproyeksikan akan mendampingi USS Abraham Lincoln yang sudah terlebih dahulu tiba di Teluk.
Tanpa memberikan keterangan terkait pengerahan kapal induk kedua, Trump berbicara kepada wartawan pada Kamis bahwa kegagalan kesepakatan AS-Iran kan memiliki dampak yang "sangat traumatis".
"Itu [kesepakatan nuklir] harus terjadi dengan sangat cepat, mereka harus setuju dengan sangat cepat," katanya sambil mengisyaratkan waktu satu bulan negosiasi akan berjalan.
Pengerahan kapal induk kedua ini dilakukan pemerintahan Trump meskipun baru sepekan lalu kedua negara melakukan perundingan tak langsung. Perwakilan AS dan Iran dilaporkan melakukan pertemuan tak langsung pada Jumat (6/2).
Meski tak ada kesepakatan substantif yang muncul di akhir pertemuan, namun hal ini dianggap sebagai sinyal positif untuk meredam ketegangan kawasan Teluk.
Iran Tidak Ingin Israel Merusak Upaya Diplomatik dengan AS
Meskipun Washington dan Teheran telah sama-sama berkomitmen untuk melanjutkan jalur diplomatik, namun Iran menuduh Israel telah mencoba untuk menyabotase jalannya perundingan.
Kepala keamanan Iran Ali Larijani memberikan keterangan kepada Al Jazeera pada Rabu (11/2), menyebut pihaknya menilai Israel telah campur tangan dalam proses perundingan yang berjalan.
"Negosiasi kami sepenuhnya dengan Amerika Serikat, kami tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Israel. Namun, Israel telah ikut campur dalam proses ini, dengan niat mereka untuk merusak dan menyabotase negosiasi," katanya.
Pada Rabu lalu, Trump menjamu Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pembicaraan yang panjang itu Netanyahu dilaporkan mendesak pemerintahan Trump untuk menekan Teheran, supaya mengurangi program rudal balistiknya dan mengakhiri dukungan terhadap organisasi macam Hamas dan Hizbullah.
Meski ada desakan dari Netanyahu, Trump membantah bahwa PM Israel itu telah campur tangan dalam proses negosiasi AS-Iran pada Kamis. Trump juga menyatakan bahwa ia "akan bicara dengan mereka" kapan pun ia inginkan.
Sejauh ini, pemerintahan Trump dilaporkan terus mendesak Iran untuk menyepakati tiga permintaan AS. Ketiganya adalah larangan pengayaan stok uranium untuk senjata nuklir, pembatasan rudal balistik, dan memutus hubungan dengan jaringan proksi di kawasan Teluk.
Teheran sejauh ini merespons permintaan itu dengan menyebut bahwa mereka tidak sedang membangun fasilitas senjata nuklir. Mereka bersikeras bahwa pengayaan uranium yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan energi sipil komersial.
Akan tetapi, Teheran menolak permintaan terkait persenjataan rudal. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pada pekan lalu bahwa program rudal adalah masalah pertahanan yang "tidak pernah bisa dinegosiasikan".
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























