Menuju konten utama

Benarkah Harga BBM Pertamina Naik Maret 2026 Imbas Perang?

Cek informasi soal kenaikan harga BBM Pertamina per Maret 2026. Benarkah pemerintah menaikkan harga BBM karena perang?

Benarkah Harga BBM Pertamina Naik Maret 2026 Imbas Perang?
Petugas tim Satgas Pertamina menyiapkan jerigen berisi bahan bakar minyak (BBM) untuk layanan pengantaran bagi pemudik yang membutuhkan pengisian BBM motoris di Rest Area 166 A Tol Cipali, Majalengka, Jawa Barat, Minggu (15/3/2026). ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/YU

tirto.id - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi mulai 1 Maret 2026 mengalami kenaikan. Kebijakan ini dilakukan oleh berbagai operator, seperti Pertamina, Shell Indonesia, BP-AKR, Vivo Energy Indonesia, hingga ExxonMobil melalui jaringan Mobil Indostation.

Konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran melawan Israel-AS terjadi sejak 28 Februari kemarin. Kenaikan harga BBM ini disebut-sebut imbas dari perang yang menyebabkan harga minyak dunia meroket.

Di Indonesia, kenaikan BBM di bulan Maret 2026 ini tidak secara langsung dipicu oleh konflik geopolitik terbaru di Timur Tengah, melainkan merupakan penyesuaian rutin berdasarkan tren harga minyak dunia dalam dua bulan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta acuan harga internasional seperti Mean of Platts Singapore (MOPS).

Daftar Harga BBM SPBU Pertamina per 1 Maret 2026

Di SPBU Pertamina wilayah Jabodetabek, misalnya, harga BBM jenis RON 92 (Pertamax) mengalami kenaikan dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter.

Produk dengan oktan lebih tinggi juga mengalami penyesuaian, seperti Pertamax Green 95 yang naik menjadi Rp12.900 per liter dan Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp13.100 per liter.

Untuk jenis diesel, Dexlite naik cukup signifikan menjadi Rp14.200 per liter, sedangkan Pertamina Dex mencapai Rp14.500 per liter.

Penyesuaian ini dilakukan dalam rangka menjalankan formula harga yang telah ditetapkan pemerintah melalui regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang mengatur mekanisme perhitungan harga jual BBM umum secara transparan dan mengikuti dinamika pasar global.

Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan harga. Produk seperti Pertalite (RON 90) tetap dijual Rp10.000 per liter dan solar subsidi Rp6.800 per liter.

Menkeu Pastikan APBN Masih Kuat Serap Kenaikan Harga Minyak Global

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan APBN masih kuat menyerap kenaikan harga minyak global dengan menanggung kenaikan biaya energi, agar dampaknya tidak langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga BBM.

“Di luar tidak ada gejolak berarti kan sekarang? Karena pemerintah meng-absorb kenaikan biayanya,” kata Purbaya dalam wawancara cegat (doorstop) di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (16/3/2026), dikutip Antara News.

Ia mengatakan pemerintah tidak berencana menaikkan harga BBM subsidi. Dirinya menjelaskan bahwa fungsi kebijakan fiskal adalah menjadi peredam gejolak global, termasuk ketika harga minyak dunia meningkat.

Jika kenaikan tersebut langsung diteruskan ke harga BBM, maka kondisi itu berpotensi memperlambat ekonomi dan menekan daya beli masyarakat.

Purbaya menilai, kemampuan APBN untuk menyerap kenaikan harga minyak masih cukup pada kondisi saat ini. Namun, pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan kenaikan harga yang lebih tinggi karena harga minyak dunia bersifat fluktuatif.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan harga minyak dunia menyentuh level 150 dolar AS per barel, Purbaya menilai jika kondisi tersebut terjadi, lonjakan itu tidak akan berlangsung lama karena berpotensi memicu resesi global.

“Tidak apa-apa (kalau harga minyak ke level 150 dolar AS per barel), kita pasti selamat. Kita tidak akan hancur. Kenapa? Tidak akan lama ke 150 dolar. Karena semuanya akan resesi. Sehabis itu jatuh dalam sekali,” katanya.

Ia mencontohkan lonjakan harga minyak pada masa lalu yang sempat mencapai sekitar 150 dolar AS per barel sebelum akhirnya turun drastis hingga jauh lebih rendah.

Hal tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa ekonomi global tidak dapat bertahan lama dengan harga minyak yang terlalu tinggi.

Purbaya juga menilai, produsen minyak pada akhirnya tidak akan membiarkan harga terlalu tinggi dalam waktu lama karena kondisi tersebut justru dapat merugikan mereka sendiri ketika permintaan energi turun akibat perlambatan ekonomi global.

Baca juga artikel terkait HARGA BBM atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Insider
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra