tirto.id - Masuk ke ruangan yang luas dengan kursi-kursi nyaman dan banyak ruang untuk menuangkan ide kreatif adalah pandangan pertama Kontributor Tirto rasakan ketika berkunjung ke Apple Developer Academy Bali pada Jumat (29/08/2025). Banyak siswa akademi sedang berbincang, menginisiasi ide tentang aplikasi yang sedang mereka kembangkan.
Tahun ini, Apple Developer Academy telah membuka cabang keempatnya di Bali. Sebelumnya, akademi yang terfokus ke ranah teknologi ini membuka cabang pertamanya di Tangerang pada tahun 2018, lalu dua cabang lainnya di Surabaya dan Batam. Per 2024, Apple Developer Academy telah mendidik lebih dari 3.700 calon pengembang dari 93 kota di seluruh Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 95 persen alumni telah mendapatkan pekerjaan di berbagai sektor utama, seperti keuangan, pendidikan, kesehatan, ritel, dan lainnya. Sementara itu, sekitar 80 persen lulusan Apple Developer Academy mendapatkan pekerjaan penuh waktu yang berkaitan dengan pengembangan, seperti programmer, desainer, dan manajer proyek.
Para pelajar di cabang Bali dapat dikatakan beragam, sebab sekiranya pelajar tersebut berasal dari 13 negara yang berbeda. Mereka bersama-sama dididik selama 10 bulan dengan metode challenge-based learning (CBL) atau pembelajaran berbasis tantangan. Salah satunya, mereka akan membuat aplikasi dan mempresentasikannya di depan pemangku kepentingan.

Mereka akan digabungkan dalam satu tim berdasarkan minat, lalu merancang aplikasi dari awal. Ada yang berperan sebagai manajer proyek (project manager), sementara yang lainnya akan berperan di ranah desain atau pengembang kecerdasan buatan. Sewaktu-waktu pun, mereka akan terjun ke masyarakat untuk mengetes aplikasi ke sang pengguna langsung.
Para pelajar akan dibimbing oleh mentor yang telah berkecimpung lama di masing-masing bidang. Namun, mentor tersebut tidak hanya mengajari teknik dan teori, tetapi juga menjadi sahabat yang menuntun mereka untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Sebenarnya, pendekatan aku ke pelajar adalah bagaimana kita selalu mengingatkan mereka bahwa untuk menciptakan sebuah produk adalah sebuah proses. Biasanya kita selalu mencari kesempurnaan, tetapi kita terkadang lupa dengan proses itu sendiri," kata John Keating, salah satu mentor bidang desain di Apple Developer Academy Bali kepada Tirto, Jumat (29/08/2025).
John berkaca kepada pengalamannya dalam merancang Aura, sebuah aplikasi yang membantu orang dengan epilepsi. Proses tersebut tidak mudah, sebab dia harus mendesain dan mengetes kepada komunitas epilepsi untuk mengetahui apakah solusi yang ditawarkan memiliki dampak nyata.
"Mungkin, aku lebih menekankan bagaimana kita tetap perlu memikirkan prosesnya, enggak cuma sekadar keluarannya di akhir, tetapi bagaimana proses itu membentuk kita berinteraksi dengan orang lain. Enggak usah orang yang jauh, tapi orang yang dekat kita," tambah John.
Adhella Subalie, mentor untuk bidang engineer, meyakinkan bahwa perempuan juga dapat berkarier di bidang yang berhubungan dengan teknologi. Dia menekankan para pelajar untuk menjadi 'T-Shape Developer' atau seseorang yang menguasai satu bidang, tetapi juga mengetahui tentang bidang lainnya.
"Saya juga melihat banyak hal yang berubah dari murid di sini. Ada yang tadinya enggak percaya diri untuk public speaking, jadi kayak pengen ngomong terus di depan. Itu benar-benar sesuatu yang kita amati sendiri dan ini sangat rewarding," ungkapnya.

Sementara itu, Richard Evan Sutanto, yang juga merupakan seorang mentor mengungkap tiga fase dalam CBL yang digunakan Apple Developer Academy, yakni ikut serta (engage phase), investigasi (investigate phase), dan beraksi (act phase). Dari situ, dia yakin para pelajar akan terkoneksi dengan topik tertentu.
"Kalau memang kita tahu pasti tentang latar belakangnya apa, kenapa kita pilih topik tersebut, kita bisa dengan kecepatan penuh untuk mengejar apa yang kita mau ketahui tentang riset tersebut. Setelah itu, mereka mulai melakukan eksperimen dan desain," kata Richard.
Membawa Dampak kepada Masyarakat
Seusai berbincang dengan para mentor, Kontributor Tirto mendapat kesempatan untuk melihat aplikasi yang telah sukses dirancang para alumni dari Apple Enterpreneurship Institute, PetaNetra dan DariData. Keduanya merupakan contoh bahwa alumni tengah menempuh berbagai jalur untuk berkontribusi bagi Indonesia.
PetaNetra merupakan aplikasi yang dirancang oleh Yafonia Hutabarat, Jessi Febria, dan Graciella Gabrielle Angeline untuk membantu kawan netra menavigasi arah. Ide membentuk aplikasi tersebut berasal dari kedua orang tua Graciella yang mengidap tunanetra. Sekiranya keberadaan 14,3 juta tuna netra di Indonesia juga mendorong terciptanya aplikasi tersebut.
"Sayangnya, fenomena ini tidak didukung dengan fasilitas yang mendukung. Di mana-mana ada guarding block rusak, padahal ini sangat membahayakan teman-teman tuna netra saat bernavigasi, bahkan ada teman tunanetra yang jatuh ke rel karena guarding block yang rusak ini," terang Yafonia.
Yafonia mengatakan, aplikasi tersebut menggunakan teknologi augmented reality (AR) dan kecerdasan buatan (AI) yang akan menghubungkan rute-rute yang sudah ditetapkan titik patokannya terlebih dahulu menjadi rute yang aman untuk tunanetra. Saat ini, PetaNetra sudah dapat digunakan di Taman Ismail Marzuki dan Yayasan Mitra Netra, Lebak Bulus.
"Kita memberikan konteks informasi yang lebih dalam navigasi, misalnya dia harus maju berapa meter, harus belok kanannya bagaimana, dan lainnya. Termasuk juga lokasi mereka saat ini. Instruksinya berupa suara dan getaran, serta akan memberi tahu rintangan di sekitarnya menggunakan AI," terangnya.
Selain di Indonesia, PetaNetra juga melakukan pemetaan di Taiwan, yakni di bank, rumah sakit, dan gedung pemerintahan. Oleh sebab itu, proyek aplikasi yang saat ini digarap oleh tim berisikan 18 orang itu telah tersedia dalam 3 bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Mandarin.
"Kita sudah tes aplikasi ini ke teman-teman tunanetra di Taiwan dan respons mereka juga baik. Ini semacam validasi untuk PetaNetra bahwa itu ternyata dibutuhkan secara internasional," jelasnya.
Sementara itu, DariData yang juga hadir di Apple Developer Academy Bali, merupakan aplikasi untuk membantu UMKM mengolah data menjadi informasi bisnis yang relevan. Kelima pengembang aplikasi tersebut berasal dari generasi kedua sebuah keluarga yang mengelola UMKM.
"Stok yang menumpuk itu bisa sangat berbahaya. Mereka bisa mengunci modalnya, padahal di saat yang bersamaan, mereka membutuhkan perputaran modal yang cepat. Ini bisa membuat bisnis merugi, bahkan bangkrut," terang Natasha Hartanti Winata, salah satu pengembang aplikasi KataData.
Dia dan keempat temannya lantas membuat aplikasi yang menggunakan AI untuk memproses data penjualan dan kas, serta membantu pelaku UMKM mendapatkan analisis strategi promosi hingga perencanaan stok. Pengguna hanya perlu mengunggah data penjualan dan kas ke dalam aplikasi.
Natasha menjelaskan, perjalanan aplikasi tersebut tidaklah mulus sejak awal. Untuk mendapatkan pengguna, awalnya mereka menggunakan pendekatan dari pintu ke pintu. Namun, cara tersebut rupanya sangat sulit dan tidak terukur. Oleh sebab itu, mereka bekerja sama dengan Point of Scale (POS) Systems dan menerima bantuan dari Apple Developer Academy.
"Dari kerja sama tersebut, kami sudah membantu 13.000 UMKM di Indonesia. Akhirnya adalah memberi kembali untuk komunitas, menyelesaikan masalah di dunia nyata," tutupnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id


































