tirto.id - Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral Bahlil Lahadalia mengungkap bahwa progres pembangunan 17 kilang modular sudah sampai pada tahap studi kelayakan akhir.
“17 kilang sekarang, feasibility studies-nya sudah hampir final. Dan tim kita yang ke beberapa negara di Afrika dan Amerika kan sudah balik. Jadi ini tinggal sedikit lagi tahapannya,” katanya di Kompleks Kementerian Investasi/BKPM, Rabu (1/10/2025).
Bahlil pun menyebutkan, lokasi untuk pembangunan kilang modular PT Pertamina (Persero) untuk mengolah minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) ini tersebar di beberapa titik di dalam negeri.
“Lokasinya di beberapa titik, di Jawa, di Kalimantan, di Papua. Jadi dia sistemnya modular, spot-spot,” ujarnya.
Adapun, pembangunan kilang-kilang modular ini untuk mengolah minyak mentah yang diimpor dari Amerika Serikat (AS), yang menjadi poin kesepakatan untuk menurunkan tarif resiprokal Indonesia menjadi 19 persen pada Juli lalu.
17 kilang modular ini rencananya akan dibangun dengan nilai investasi 8 miliar dollar AS atau setara Rp130 triliun bersama perusahaan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pun sempat mendorong Pertamina untuk membuat kilang baru. Hal ini diungkapkan saat Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (30/9/2025).
Menurut Purbaya, pembangunan kilang akan dapat menghemat anggaran yang tiap tahun digelontorkan oleh pemerintah untuk mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan memberikan subsidi energi.
Ia pun akan turut ambil bagian dalam mengawasi proses berjalannya proyek-proyek yang diusulkan oleh Pertamina agar berjalan sesuai dengan harapan.
“Jadi, saya bukan juru bayar saja. Saya akan masuk dan melihat mereka menjalankan atau tidak proyek-proyek yang diusulkan,” kata Purbaya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































